Do You Know, Kamis, 17/12/2015 08:42 WIB

PHK dan Perekonomian Dunia? Tilik Keterkaitannya, Yuk!

Selain resign, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan salah satu alasan karyawan berhenti bekerja untuk suatu perusahaan. Mengapa PHK bisa terjadi?
PHK dan Perekonomian Dunia? Tilik Keterkaitannya, Yuk!
Alasan perusahaan memberikan PHK kepada karyawannya bisa beragam, baik berasal dari karyawan itu sendiri maupun dari pihak perusahaan. Kira-kira, apa saja alasan yang digunakan perusahaan untuk melakukan PHK  pada karyawannya?

Salah satunya penyebabnya adalah penurunan keuntungan perusahaan yang mengakibatkan mereka harus memangkas biaya produksi dan pengeluaran dengan cara mengurangi jumlah karyawan.

Kondisi bisnis yang menurun pada perusahaan bisa dikarenakan kondisi ekonomi negara maupun dunia yang juga mengalami ketidakstabilan atau pelambatan. Akibatnya, PHK acap kali dijadikan pilihan untuk menghindari perusahaan dari kebangkrutan.


Antara PHK dan kondisi ekonomi

Isu PHK karyawan dalam beberapa waktu terakhir sering menerpa perusahaan migas. Penurunan harga minyak dunia sejak akhir 2014 lalu tentu berpengaruh besar bagi perusahaan migas. Harga minyak dunia yang anjlok ini menyebabkan perusahaan migas harus memangkas pengeluaran yang dicurahkan untuk karyawan, yaitu dengan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Seperti dilansir aktual.com, mantan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, volatilitas harga minyak dunia saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, bukan hanya karyawan perusahaan migas yang harus was-was terhadap ancaman PHK tetapi juga karyawan yang bekerja industri di nonmigas.

Di Indonesia sendiri, penurunan harga minyak dunia juga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab menurunnya nilai tukar rupiah. Dikutip dari liputan6.com, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, mengungkapkan, nilai tukar rupiah yang rendah berdampak langsung pada semakin tingginya biaya produksi. Sedangkan di sisi lain, perusahaan masih memiliki kewajiban untuk memberikan gaji kepada sekian banyak karyawan.


PHK dunia dan Indonesia

Sejak minyak dunia mengalami penurunan berbulan-bulan lalu, banyak perusahaan melakukan PHK dalam skala besar terhadap karyawannya. Salah satunya dialami oleh Schlumberger yang terpaksa harus memangkas jumlah karyawannya sebanyak 20.000 orang dikarenakan anjloknya harga minyak dunia. Dilansir dari Detik Finance, saat ini jumlah pekerja Schlumberger 15 persen lebih sedikit dibandingkan pada pertengahan tahun lalu ketika harga minyak tengah di puncaknya, yaitu di atas US$ 100/barel. Schlumberger sendiri sejauh ini sudah membuka cabang di 85 negara.

Bukan hanya Schlumberger, Baker Hughes juga melakukan PHK pada Januari 2015 lalu terhadap 11 persen dari jumlah karyawan atau sebanyak 7.000 orang. Perusahaan pemasok karyawan migas, Civeo, juga terpaksa memberikan PHK terhadap 1.000 tenaga kerjanya pada akhir 2014 silam.

Di Indonesia, angka PHK cukup tinggi dialami oleh industri pembuatan sepatu yang telah melakukan PHK terhadap 40.000 karyawan sejak awal 2015, atau sejak nilai tukar rupiah melemah. Selain itu, PHK di Indonesia juga dialami perusahaan semen, dengan alasan yang berbeda, yaitu semakin ketatnya persaingan usaha di bidang tersebut. Salah satunya dialami PT Holcim yang mengungkapkan perlambatan ekonomi turut menekan penjualan semen. Dengan pesaing yang semakin tinggi dan ditambah kondisi ekonomi yang kurang mendukung, mereka terpaksa memberikan PHK kepada sejumlah karyawan.

Perekonomian yang sedang dalam kondisi kurang baik ini memang mengancam industri tertentu dan memaksa mereka mengambil keputusan PHK karyawan. Bukan hanya perusahaan domestik tetapi juga perusahaan multinasional yang telah membuka kantor cabang di Indonesia. Pemangkasan jumlah karyawan banyak dinilai sebagai langkah yang tepat diambil dalam mengatasi kondisi ekonomi yang sedang tidak menguntungkan.


Kondisi perekonomian dunia

Kondisi perekonomian dunia yang sangat berpengaruh terhadap tingkat PHK suatu industri memang harus diwaspadai. Kendati sejak April lalu harga minyak mulai naik, puncaknya hanya mencapai US$ 56/barel. Dengan demikian, khususnya bagi industri migas, sepanjang tahun 2015 merupakan masa-masa yang sulit.

Sebagaimana dilansir usnews.com, Chief International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde, mengatakan bahwa perekonomian dunia saat ini mulai mengalami perbaikan tetapi masih terbilang rentan. “Perekonomian dunia masih menghadapi beberapa risiko penurunan,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa dalam kondisi saat ini, Amerika Serikat tampil sebagai ‘penampil terkuat’ dan Cina sebagai ‘resilient.’ Ia mengatakan bahwa Cina akan kuat untuk bertahan. IMF sendiri memprediksi Cina akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen pada tahun ini. Jumlah tersebut terbilang cepat dalam kacamata standar global tetapi paling lambat bagi standar Cina sejak tahun 1990.

Sedangkan bagi 19 negara yang menggunakan mata uang euro, Ia mengungkapkan optimismenya. IMF memprediksi pertumbuhan negara-negara tersebut mencapai 1,5 persen pada tahun ini, dan 1,7 persen pada 2017. Jumlah ini lebih banyak 0,8 persen dibandingkan tahun lalu. Kendati perlahan tetapi kondisi perekonomian negara-negara mulai merangkak ke arah yang lebih baik. Hal ini merupakan kabar baik bagi tenaga kerja di berbagai bidang. Artinya, ancaman PHK tidak lagi semasif sebelumnya, saat ekonomi global mencapai titik terendah sehingga menyulitkan operasional usaha.

Bagaimana pendapatmu?



Penulis          : Ratih Wilda O.

Editor            : Rifki Amelia dan Yuana Anandatama

Grafis            : Ardiansyah Bahrul A.

Tags : resign, PHK, perekonomian
PHK dan Perekonomian Dunia? Tilik Keterkaitannya, Yuk! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png