Do You Know, Rabu, 02/12/2015 13:46 WIB

Hati-hati dalam Berucap, Jangan Seperti 4 CEO Gagal Ini!

“Mulutmu harimaumu”, peribahasa yang melukiskan betapa bahayanya lisan. Bahkan lisan lebih tajam daripada pisau. Sabetan pisau bisa sembuh dalam hitungan hari. Sedangkan luka dari lisan membutuhkan waktu lama bahkan bertahun-tahun untuk sembuh.
Hati-hati dalam Berucap, Jangan Seperti 4 CEO Gagal Ini!
Bahkan jika kamu menyadari di lingkungan sekitarmu atau melihat tayangan TV, banyak nyawa melayang hanya karena masalah lisan. Namun sebaliknya, banyak juga yang mendapatkan kesuksesan hidup dari memanfaatkan lisan untuk kebaikan.

Berhati-hati dan selalu berusaha menggunakan lisan di jalan yang lurus—kebaikan—merupakan pilihan yang tepat buatmu. Baik kamu yang sekarang masih mahasiswa, menjadi pekerja, atau wirausaha/pimpinan di perusahaan ternama sekalipun, kamu harus hati-hati. Lisanmu menentukan masa depanmu.

Kali ini, Careernews akan membagi kisah empat CEO yang gagal atau bangkrut karena kesalahan dalam berucap. Semoga lewat kisah-kisah ini, kamu bisa mengambil pelajaran sehingga kamu lebih berhati-hati dan lebih bijak lagi dalam berucap.


1. Guido Barilla, Chairman Barilla: menghina kaum gay

Guido Barilla merupakan generasi keempat dari pembuat pasta terbesar di dunia. Namun akibat pernyataannya yang menghina kaum gay, produk Guido diboikot oleh Equality Italia and Gay & Lesbian Alliance Against Defamation (GLAAD). “Aku tidak akan pernah berdekatan dengan keluarga homoseksual. Tanpa mengurangi rasa hormat tetapi saya tidak melihat hal itu seperti yang mereka lakukan. Menurut saya, keluarga adalah keluarga klasik di mana wanita memiliki peran mendasar dan bukan mengadopsi dari pakem keluarga homo," ujar Guido saat diwawancarai di sebuah radio Italia, lansir economy.okezone.com.

Sayang sekali bukan? Hanya karena kalimat seperti itu, perusahaan bangkrut. Padahal perusahaan ini berusia 136 tahun.


2. Chip Wilson, mantan Chairman Lululemon: mengkritik produknya sendiri

Masih dari situs yang sama, economy.okezone.com, kejadian kedua dilakukan oleh Chip Wilson, chairman produsen baju yoga saat diwawancarai Bloomberg TV. Chip mengatakan kepada publik bahwa produknya dianggap tidak maksimal. "Beberapa tubuh wanita terkadang tidak bekerja dengan baik. Dan baju itu tidak bekerja dengan baik di tubuh sejumlah wanita," ujar Chip. Hasilnya, perkataan tersebut membuat pelanggan tidak membeli produknya.

Maka dari itu, kita harus hati-hati dalam berkata dan berpikir dahulu sebelum mengatakan sesuatu. Apa yang sudah kita katakan, sulit untuk dikembalikan.

Dalam ilmu Total Quality Management (TQM), satu pelanggan membawa 1.000 orang lain di belakangnya. Artinya, ketika satu orang berkata buruk tentang suatu produk, 1.000 orang lainnya akan mengikuti. Begitupun sebaliknya.


3. Garry Cook, CEO Manchester City: mengundurkan diri karena e-mail

CEO ketiga dari daftar CEO gagal berasal dari klub bola. Dilansir bola.liputan6.com, Garry Cook mengundurkan diri setelah e-mail atas nama akunnya melecehkan bek Manchester City Nedum Onuoha dan ibunya. Dalam surat elektronik tersebut, Cook mengejek ibu Onuoha yang tengah menderita penyakit kanker. Tindakan Cook berbuah penyelidikan internal. Sebelum keluar hasil investigasi, Cook melayangkan surat pengunduran diri.


4. Jeffrey Yabuki, CEO Fiserv Inc: tidak menghormati hak pekerja

Selanjutnya viva.co.id yang mengutip Time, merilis sembilan CEO dengan reputasi terburuk. Reputasi terburuk ini ditentukan dalam hal kecenderungan CEO untuk mempermalukan perusahaan di depan umum, pengelolaan perusahaan yang buruk, dan paket kompensasi dari perusahaan yang dianggap berlebihan.

Salah satunya Jeffrey Yabuki, CEO Fiserv Inc yang didirikan pada 1984 dan memiliki 21.000 karyawan. Perusahaan yang menjual teknologi informasi dan produk e-commerce ini telah mengakuisisi 140 perusahaan.

Jeffrey termasuk CEO dengan reputasi terburuk sebab tidak menghormati hak para pekerja. Seperti kata mantan karyawan yang menirukan perkataan Jeffrey, “Jika Anda tidak menyukai cara kami melakukan bisnis, silakan keluar."

Siapa pun kita sekarang, dengan jabatan atau tingkat status sosial tinggi sekali pun, kita tidak berhak untuk berkata seenaknya. Kita harus berkata yang semestinya atau saling menghargai satu sama lain. Apa yang keluar dari lisanmu sangat menentukan masa depanmu. Jadi, yuk mulai sekarang belajar untuk berkata yang baik!



Penulis          : Sandi Iswahyudi

Editor            : Rifki Amelia F. dan Yuana Anandatama

Grafis            : Ardiansyah Bahrul A.

Tags : Do You Know, jobseeker, mahasiswa,
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Jumat, 21/09/2018 10:28 WIB Dari Nol Sampai Jadi Iklan, Gimana sih Prosesnya?
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Jumat, 14/09/2018 08:00 WIB Kerja di Agensi Iklan: Dapat Benefit yang Cukup Bersaing!
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Kamis, 13/09/2018 00:00 WIB Ternyata Talent Seperti Ini Yang Diinginkan Bank Indonesia
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Selasa, 28/08/2018 10:00 WIB Parodi Kerjaan di Agency (Baca: Ahensi) yang Bisa Kamu Ketahui
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Selasa, 10/07/2018 17:09 WIB Hal Ini Bisa Jadi Indikator Kalau Kamu Siap Berkarier
Hati-hati dalam Berucap, Jangan Seperti 4 CEO Gagal Ini! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png