Do You Know, Rabu, 22/04/2015 15:12 WIB

Mapan Dulu, Baru Nikah? Kalau Kamu?

Berumah tangga adalah salah satu tahap yang akan dilalui hampir semua orang. Namun, apa tahap ini hanya bisa ditapaki setelah meraih karir mapan?
Mapan Dulu, Baru Nikah? Kalau Kamu?
Pernikahan memang sering kali dikorelasikan dengan kemapanan dalam karir. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat, bagi laki-laki, hal yang paling dilihat dalam memilih pasangan adalah ide yang sejalan tentang memiliki dan merawat anak. Sedangkan bagi perempuan, terbanyak mengatakan kemapanan sebagai faktor utama dalam memilih pasangan. 

Dari  hasil riset yang sama, mereka juga menemukan bahwa semakin tinggi usia, standar dalam memilih pasangan juga semakin turun. Sedangkan pada mereka yang belum menikah tetapi memiliki keinginan untuk itu, 27 persen responden mengatakan mereka belum siap menikah secara finansial. Hmm, apakah kemapanan memang sangat penting?


Laki-laki Mapan, Haruskah?

Kolumnis Catherine Rampell dalam tulisannya di The Washington Post mengatakan, pemenuhan kebutuhan finansial tidak sebatas pada biaya pernikahan dan bulan madu semata. Namun kestabilan finansial yang merasa perlu dimiliki oleh anak muda dan pasangannya sebelum memutuskan membina rumah tangga.

Persaingan karir yang semakin ketat, dari mencari hingga ketika mulai bekerja, menjadikan kriteria kemapanan sebagai syarat sebelum menikah, bukan merupakan hal yang mudah. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, kemapanan belum menjadi pertimbangan berarti dalam menyiapkan rumah tangga.

“Memang harus mapan dulu. Karena dengan kondisi mapan, setidaknya kita bisa merencanakan masa depan,” tukas Taufik Alzurjani, reporter The Geo Times Indonesia. Menurutnya, kurang logis jika laki-laki mengajak menikah tetapi belum mapan secara finansial. Bukan kemudian berarti pasangannya enggan diajak susah tetapi laki-laki harus bertanggung jawab membahagiakan pasangannya. “Minimal dari segi finansialnya juga,” lanjutnya. 

Sedangkan Annisa Ayuningtyas, Marketing Development Program PT Indolakto (Indofood CBP), mengatakan dirinya lebih memilih laki-laki yang sudah bekerja sebagai pasangan. “Tidak harus di perusahaan besar dan gaji besar, saya lebih lihat potensinya dia,” ujarnya. Bagi Annisa, rezeki sudah ada yang mengatur jadi secara pribadi ia tidak banyak menuntut seberapa besar penghasilan yang dimiliki oleh pasangannya nanti. 


Laki-laki takut perempuan mapan?

Sebagai kepala keluarga, laki-laki memang dituntut bisa mencukupi kebutuhan finansial. Lantas bagaimana dengan perempuan? Saat ini, perempuan berkarir bukanlah hal yang ganjil. Tidak jarang, posisi-posisi tinggi dalam suatu instansi pun ditempati oleh perempuan. 

Taufik mengatakan, dalam menapaki kehidupan rumah tangga, perempuan memang tidak wajib  memiliki karir yang mapan. “Karena ada kecenderungan laki-laki menjadi takut jika karir perempuan lebih mapan,” jelasnya. Ia melanjutkan, dalam hal ini semuanya tergantung pada pihak laki-laki. Karena menurutnya, jika perempuan mapan sebelum menikah, perencanaan dan hal lain dalam berumah tangga bisa dilakukan dengan bekerja sama, tidak hanya diserahkan pada pihak laki-laki saja. “Apalagi kondisi perekonomian Indonesia yang seperti ini, keamanan secara finansial bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja,” paparnya.

Hampir senada dengan Taufik, Annisa juga berpendapat bahwa perempuan tidak harus mapan secara finansial terlebih dahulu sebelum menikah. “Tapi tetap lebih enak jika sudah bekerja, karena jadi sudah ada pengalaman,” ujarnya. Kedepannya, bisa jadi pihak perempuan menginginkan bekerja demi kebutuhan finansial maupun alasan yang lain. Sedangkan banyak perusahaan yang mensyaratkan kandidat adalah seseorang yang belum menikah. “Kalau menikah dulu sebelum bekerja, kasihan pihak perempuannya,” jelas Annisa.


Standar kemapanan

Standar kemapanan bisa diartikan berbeda karena standar kebutuhan masing-masing individu pun berbeda. Bagi Taufik, standar mapan yang paling sederhana adalah memiliki penghasilan yang jelas dan waktu yang jelas pula. Artinya, pemasukan datang di waktu yang sudah diagendakan sehingga tidak menunggu tanpa kepastian. Dengan kejelasan pemasukan, perencanaan dari berbagai segi pun dapat disusun dengan tepat “Kebutuhan finansial memang harus dipenuhi dan direncanakan dengan baik,” ujarnya.

Perlu diingat bahwa kehidupan rumah tangga tidak berlangsung hanya sebentar tetapi untuk jangka waktu yang lama. Dalam perjalanannya, kebutuhan finansial menjadi hal krusial. Kebutuhan dan perencanaan harus diimbangi dengan finansial yang memadai, jangan sampai besar pasak daripada tiang. 

Dengan kondisi di era saat ini, urusan finansial bukan lagi menjadi tanggung jawab satu orang. Kedua pihak semestinya ikut serta memikirkan jalan keluar. Setujukah kamu dengan pendapat-pendapat di atas? Bagikan juga pendapatmu tentang kemapanan di kolom komentar yuk! [CN]



Penulis    : Ratih Wilda O.

Editor      : Rifki Amelia F.

Grafis      : Hero Oka

Tags : kemapanan, rencana karir, finansial
Mapan Dulu, Baru Nikah? Kalau Kamu? | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png