Do You Know, Jumat, 06/02/2015 09:00 WIB

Hari Pers Nasional Sebentar Lagi, Kebebasan Berpendapat Diperingati

Profesi tentara, guru, penerbang, semua punya hari istimewa setiap tahun. Jurnalis juga punya lho. Kapankah itu?
Hari Pers Nasional Sebentar Lagi, Kebebasan Berpendapat Diperingati
Tidak lama lagi Indonesia kembali memperingati Hari Pers Nasional, tanggal 9 Februari, yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 5 Tahun 1985. Sebagaimana tertera dalam diktum konsideran Keppres tersebut, Hari Pers Nasional ditetapkan dengan pertimbangan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Untuk itulah, pemerintah mengapresiasi insan pers Indonesia dengan menetapkan Hari Pers Nasional.

Jika kita membuka search engine dengan keyword “Sejarah Hari Pers”, fakta yang sebagian besar ditampilkan justru gugatan terhadap penetapan Hari Pers Nasional. Bermacam judul muncul dari  “menggugat hari pers nasional”, “hari pers perlu dikaji ulang”, hingga“polemik sejarah pers Indonesia”. Salah satu laman berita nasional bahkan menerbitkan judul “Menentukan Hari Pers Nasional Sejati”. Satu tulisan dengan yang lain menggugat dasar penetapan yang dinilai kontroversial, bertentangan dengan semangat reformasi, sentimen terhadap Orde Baru, dan sebagainya.

Terlepas dari kontroversi penetapan Hari Pers Nasional, usaha pemerintah menetapkan hari khusus untuk memperingati sejarah pers nasional patut diapresiasi. Melalui Hari Pers Nasional, insan pers nasional Indonesia kembali merefleksikan jalan panjang narasi perjuangan pers nasional menuju kebebasan pers sebagaimana terjadi di era reformasi. Refleksi ini sekaligus sebagai upaya untuk terus memperbaiki pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini.

Sejarah pers nasional bisa dikatakan berawal dari terbitnya koran mingguan Medan Prijaji pada tahun 1907 yang didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo dan Raden Djokomono. Sebelum koran mingguan ini terbit, semua media dikuasai kekuatan kolonial, seperti Surat Kabar Bahasa Melaju 1856 yang didirikan salah satu firma Belanda di Surabaya. Berkembang dengan pesat, koran berbahasa Melayu ini pada tahun 1910 berubah format dari minggguan menjadi harian. Medan Prijaji juga menjadi kanal suara pribumi untuk mengorganisasikan diri melawan kesewenang-wenangan kolonial Belanda.

Keterlibatan pendiri Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo, dalam Serikat Dagang Islam Bogor kemudian Serikat Islam Solo memicu terbitnya koran Serikat Islam sendiri, seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Sinar Djawa, dan Pantjaran Warta. Sementara, pada masa pendudukan Jepang, pers Indonesia digunakan sebagai alat propaganda Jepang melawan Sekutu. Salah satu propaganda yang paling terkenal saat itu adalah “Jepang pemimpin, Jepang cahaya, dan Jepang pelindung Asia”.

Memasuki era kemerdekaan, pers Indonesia mulai bergeliat sebagai alat perjuangan politik masing-masing golongan. Misalnya terbitnya Harian Rakjat sebagai corong media cetak Partai Komunis Indonesia, PNI dengan Suluh Marhaen, bahkan pecahan PNI –yang didirikan Bung Hatta- menerbitkan korannya sendiri, yaitu Daulat Ra’jat. Selanjutnya, masa Orde Baru dikenal dengan represi kebebasan pers. Hal itu menjadi ancaman serius bagi pers yang melawan arus dengan dicabutnya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers.

Era baru bagi pers Indonesia pada masa reformasi ditandai dengan terbitnya UU RI No. 40 Tahun 1999 tentang pers. Melalui UU Pers tersebut, pemerintah menjamin kebebasan berpendapat bagi pers yang meliputi media cetak, media elektronik, dan media lainnya. Sebagaimana dikemukakan dalam penjelasan UU Pers, pers merupakan perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis. Maka, sudah sewajarnya Hari Pers Nasional dapat kemudian dimaknai ulang sebagai usaha memperingati kebebasan berpendapat.

Mumpung sekarang semua orang bebas berpendapat, kamu juga boleh lho mengemukakan pendapatmu di kolom komentar di bawah. Kamu juga bisa membaca versi lengkap sejarah hari pers dari sumber Berdikari Online dan tulisan Mochtar Lubis di sini. [CN]



Penulis    : Mohamad Nurdin

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Grafis      : Hero Oka

Tags : sejarah pers, sejarah indonesia, profesi jurnalisme,
Hari Pers Nasional Sebentar Lagi, Kebebasan Berpendapat Diperingati | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png