Do You Know, Minggu, 01/02/2015 08:00 WIB

The Imitation Game: Jenius Pun Tak Bekerja Sendiri

Ada yang bisa dipelajari dari film-film terbaru, termasuk "The Imitation Game". Apa yang bisa kita petik?
The Imitation Game: Jenius Pun Tak Bekerja Sendiri
Suatu perang besar selalu melibatkan taktik dan strategi tingkat tinggi, apalagi jika itu adalah Perang Dunia. Di balik kemenangan salah satu pihak, ada orang-orang jenius dan berkomitmen tinggi dalam menciptakan strategi dan menghancurkan lawan.

Salah satu yang disorot dari Perang Dunia II dalam film "The Imitation Game" adalah seorang jenius dalam bidang matematika bernama Alan Turing yang berhasil memecahkan kode rahasia dan mengantarkan Sekutu memenangkan peperangan.

Film ini mengambil latar pada saat Inggris masih berperang dengan Jerman di Perang Dunia II. Alan Turing (Benedict Cumberbatch) saat itu bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di Inggris. Karena kesukaannya pada teka-teki, dia mengajukan lamaran bekerja di pemerintahan militer Inggris untuk memecahkan kode rahasia ‘Enigma’ milik Jerman. Enigma adalah sebuah mesin penyandi yang digunakan untuk mengenkripsi dan mendeskripsikan pesan rahasia yang dapat mengirim pesan taktik Jerman, seperti di mana saja mereka akan menyerang dan menjatuhkan misil-misil mereka. 

Bila Inggris dapat memecahkan sandi rahasia itu, Inggris akan selangkah lebih maju dan memenangkan perang. Para petinggi militer menganggap Enigma mustahil dipecahkan karena konsep sandi Enigma selalu berubah setiap harinya dan peluang keberhasilannya pun rendah. Dengan kepintarannya, Alan bersama teman-teman kelompoknya membuat sebuah mesin pemecah sandi tandingan Enigma. 

Alan percaya bahwa jika mesin mustahil dikalahkan oleh manusia, bagaimana jika mesin berhadapan dengan mesin? Alan yakin mesin rancangannya tidak hanya dapat memecahkan sandi Enigma tetapi juga semua sandi yang ada di seluruh dunia. Rancangan mesin buatan Alan ini juga menjadi ide awal dari sebuah mesin yang kita gunakan sehari-hari dan sekarang kita sebut sebagai komputer.

Menyaksikan film ini, kita juga akan diajak ke masa-masa kecil Alan yang bersekolah di sekolah khusus laki-laki. Alan yang dianggap aneh, selalu menjadi bahan olok-olokan dan kejahilan bagi teman-temannya. Namun, ada Christoper, teman sekelasnya, yang selalu membantu saat Alan sedang kesusahan. Christoper jugalah yang membuat Alan menggemari teka-teki sandi setelah ia meminjamkan buku tentang sandi kepada Alan.

Film "The Imitation Game" bertabur bintang Inggris ternama seperti Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, dan Mark Strong. Aktor kawakan Benedict Cumberbatch didapuk menjadi tokoh utama dari film ini. Sebelumnya, Benedict juga dipercaya membawakan peran tokoh fiksi detektif Sherlock Holmes dengan sangat gemilang. Jadi tidak salah jika aktor kelahiran London ini kembali membintangi peran yang hampir sama yaitu menjadi seseorang yang memiliki kepintaran di atas rata-rata manusia normal. The Imitation Games berawal dari biografi Alan Turing yang berjudul ‘Alan Turing: The Enigma’ karya Andrew Hodges. Buku ini juga pernah diangkat ke layar kaca pada tahun 1996 dengan judul ‘Breaking the Code’.

Pada tahun 2014 sampai awal tahun 2015, The Imitation Games sudah memenangi 39 penghargaan, di antaranya AFIA Award sebagai ‘Movie of the Year’, Central Ohio Film Critics Association sebagai ‘Best Adapted Screenplay’, Asheville Film Festival sebagai ‘Best of the Festival’, dan masuk delapan nominasi penghargaan bergengsi Academy Awards.


Boleh percaya diri tetapi tak mungkin bekerja sendiri

Awalnya, mungkin kita berpikir bahwa ini akan menjadi suatu film yang membosankan, dengan menampilkan seorang lakon yang kebanyakan sudah berumur, bercerita tentang sejarah dunia, dan berbicara panjang lebar mengenai metode-metode menggelegar mereka yang akan mengubah dunia. 

Jawabannya adalah tidak. Selain aktor dan aktris yang masih muda, kita akan dibawa hanyut ke dalam film ini dan ikut merasakan bagaimana kejadian ini berlangsung selama masa Perang Dunia II. Kita akan memetik pelajaran dari bagaimana suatu kelompok diharapkan dapat memecahkan kode yang dapat menyelamatkan negaranya walaupun dianggap mustahil. Bahkan di balik permasalahan itu, terselip bumbu persahabatan dan cinta dengan apiknya. 

Banyak pesan yang dapat kita ambil dari film ini seperti saat terjadinya perpecahan kelompok karena Alan merasa dirinya jenius dan bisa bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah Alan menyadari kesalahannya, mesin rancangannya dapat selesai lebih cepat karena koreksi dari teman-temannya.

Ternyata, secerdas apapun seseorang untuk melakukan semuanya sendiri, pasti ada suatu celah di mana ia tidak mengetahui kesalahannya tetapi orang lain mengetahuinya. Di sisi lain, kita bisa meneladani semangat pantang menyerah Alan dan kelompoknya dalam membuat mesin tandingan Enigma.  Kepercayaan diri Alan ketika mengajukan dirinya bekerja untuk negara juga patut diacungi jempol. Dengan kelebihannya, ia berhasil meyakinkan orang lain bahwa dirinya mampu menyelesaikan hal-hal yang dianggap mustahil.

Sudah menonton film brilian ini? Semoga banyak manfaat yang bisa kamu temukan di dalamnya. [CN]



Penulis    : Anisa Rachmatika

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Grafis      : Tongki A.W.

Tags : review film, sukses bekerja tim, Wawancara kerja,
The Imitation Game: Jenius Pun Tak Bekerja Sendiri | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png