Web
Analytics
Office Hour, Rabu, 18/04/2018 14:17 WIB

Hanif Azhar: Tulis Rencanamu dan Wujudkan Semuanya!

Kisah ini bisa jadi inspirasi untuk kita dalam menggapai impian hidup. Jauh menimba ilmu di benua biru sempat ia jabani. Meski begitu, pada tanah airnya ia kembali dan mengabdi.

Hanif Azhar: Tulis Rencanamu dan Wujudkan Semuanya!


Tulis rencana-rencana besarmu, dan wujudkan! Kalimat ampuh yang ia pegang untuk kehidupannya. Masih belia, lulusan luar negeri, dan kini bekerja di Satu Data Indonesia. Siapakah dia? 


Menjadi salah satu bagian di Kantor Staf Presiden, merupakan kebanggaan tersendiri bagi Hanif Azhar. Laki-laki asal Lamongan, Jawa Timur ini kini bekerja sebagai Public Policy Specialist Satu Data Indonesia (SDI). Bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan itu semua?

Membuat Rencana Hidup Hingga Usia 65

Posisi keren yang ia dapatkan sekarang bukan tidak lepas dari perjuangan keras yang ia lakukan dalam hidup. “Saya terbiasa membuat rencana hidup harian, mingguan, bulanan, tahunan, bahkan hingga kelak usia saya menginjak 65. Semuanya di-monitoring setiap akhir pekan, bulan, dan tahun“ katanya kepada Careernews.

Sudah terbiasa membuat rencana hidup menjadi kebiasaan yang dilakukan sejak muda, pasca mengikuti training di Rumah Kepemimpinan Foundation. Terinspirasi dari Buku Merencanakan Hidup dan Mengelola Mengelola Masa Depan karya Marwah Daud, dan Your Job Is Not Your Career karya Irene Suhandono, Hanif ingin segala sesuatu di hidupnya berjalan sesuai rencana. Hasilnya? Impian besarnya terwujud.

Sedari SMP Sudah Mandiri

Mengutip perkataan Nelson Mandela, ‘Education is the most powerful weapon to change the world’, menjadi keyakinan yang Hanif pegang sejak kecil. Meski terlahir dari keluarga kurang mampu di sebuah kampung kecil pantai utara Jawa Timur, tak membuat surut tekad Hanif untuk menikmati pendidikan setinggi-tingginya.

“Saya tidak setuju dengan ide bahwa pendidikan hanya bisa dinikmati borjuis, “ tegasnya. Ia juga tidak setuju dengan framing berita yang terlalu melebih-lebihkan, seolah-olah jika kaum kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan tinggi itu sesuatu yang 'wah'.

Ingin membuktikan bahwa hal tersebut salah, maka seusai menamatkan bangku sekolah menengah pertama, ia ‘pamit’ kepada orang tua untuk mandiri dalam hal biaya pendidikan. Hanif bertekad bahwa pendidikan dan kesuksesan milik semua orang. “Sejak saat itu, saya berjanji untuk tidak minta duit lagi ke orang tua, “ kata laki-laki yang pernah menjadi Pengajar Muda Batch VIII, Indonesia Mengajar ini.

Ia mengaku, itu merupakan effort pertama, dan tergila yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Kemudian, rasa kemandirian dan percaya dirinya semakin berkembang setelah memutuskan untuk membiayai kehidupannya sendiri. “Saat itu, saya berusaha untuk meyakinkan diri dan orang tua bahwa saya akan baik-baik saja, “ ungkapnya.

Menjadi scholarship hunter, bekerja sambil bersekolah pun ia jalani sebagai usaha bahwa dirinya bisa menghidupi segala kebutuhannya. Kebiasaan tersebut ia jalankan hingga kuliah. “Bekerja sambil sekolah merupakan pengalaman yang mengesankan, walau penuh diwarnai dengan air mata, “ kisah Hanif.

Baginya pendidikan tinggi itu tergantung niat dan minat. “Tidak ada ceritanya, orang sukses yang mengasihi diri sendiri dengan mmbuat berbagai macam excuse, “ ia menegaskan.

Studi ke Benua Biru, Kembangkan Industri Kreatif Indonesia

Sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP, Hanif Azhar tak ingin menyiakan kesempatan emas ini. Ia memilih program Creative Industries and Cultural Policy di University of Glasgow, London.

“Yang mengesankan adalah ternyata Inggris merupakan pioneer dan penggagas industri berbasis ide manusia, tentu membuat dunia industri kreatif disana sangat maju, “ kata Hanif yang sempat aktif di Aktif di Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) sebagai Head of Foreign Affair, dan kontributor di Perhimpunan Pelajar Indonesia UK

“Terminologi industri kebudayaan yang dipelajari di sana sangat luas, tidak  melulu batik tradisional maupun digital start up, “ ungkapnya. Bahkan perkembangan fase industri sudah dituangkan dalam cetak biru negara-negara berkembang. Ia bersyukur,Indonesia merupakan salah satunya, yakni dengan dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif .

Ia yakin dengan adanya wadah tersebut, industri kreatif Indonesia akan semakin maju, apalagi Indonesia memiliki potensi dan kekayaan alam yang melimpah. Ketertarikannya pada industri kreatif Indonesia pun ia tuangkan dalam tesisnya.

"Ada salah satu cita-cita besar saya untuk memajukan industri kreatif Indonesia, salah satunya menjadi salah satu developer industri kreatif, khususnya di Lamongan, semoga tahun 2030 nanti akan terwujud sesuai rencana, " ungkapnya. 

Value terbesar yang Hanif dapatkan setelah studi di negeri orang adalah Tuhan mengabulkan semua keinginan kita, asal kita niat, dan bersungguh-sungguh. Perencanaan dan doa merupakan formula penting bagi laki-laki lulus S1 dari Institut Teknologi Sepuluh November dan sempat menjadi penulis di ITS Media Center ini.

“Mengabulkan mimpiku untuk studi ke luar itu hal yang receh bagi Tuhan. Tidak ada mimpi yang ketinggian, kalau mimpi yang belum terlaksana mungkin usaha kita yang kurang, “ tegasnya.

Tentang Profesi Hanif Sekarang

Menjadi bagian penting dalam menyediakan data penting dan tim rancangan peraturan presiden di SDI membuat Hanif selalu sibuk. Di sela kesibukannya ia membocorkan aktifitas kerjanya kepada Careernews.

“Saat ini menjadi Public Policy Specialist, jadi masuk ke tim Rancangan Peraturan Presiden, “ terangnya. Tugas Hanif dan tim adalah mempersiapkan toolkit untuk implementasi kebijakan presiden, baik di pemerintahan pusat maupun daerah.

“Saya mendapat pengalaman untuk melakukan koordinasi antar kementrian, instansi, lembaga, dan organisasi dunia seperti Pulse Lab Jakarta dari PBB, National Democratic Institute (NDI), Open Data Lab (ODL), dan lain sebagainya.

SDI sendiri adalah sebuah badan yang diinisiasi Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan data pemerintah. Pemanfaatan ini tidak terbatas pada pemerintah saja, namun bisa dimanfaatkan oleh publik.

“Data yang disediakan formatnya terbuka, dan dapat digunakan kembali. Tujuannya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah, “ tambahnya. Selain itu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengawal pembangunan.

Tip Untuk Scholarship Hunter

Di akhir obrolan, Hanif memberikan beberapa tip untuk kamu yang bermimpi untuk melanjutkan studi di luar negeri. Start with Why! Kalau kalian sudah memiliki alasan kuat untuk melanjutkan studi, dan niat yang kuat, “Percayalah, semesta akan mendukungmu!, “ tegas Hanif.

Hal tersebut akan berbading terbalik jika alasan dan niatmu lemah. Jangan sampai baru gagal satu kali langsung menyerah. “Saya mengenal banyak teman yang akhirnya berhasil kuliah abroad setelah beberapa kali tes IELTS, ditolak beasiswa, dan kampus, “ tutur Hanif.

Keren ya cerita perjuangan Hanif untuk meraih mimpinya. Jadi untuk kamu yang bermimpi tentang suatu hal besar, jangan pernah takut untuk mewujudkannya ya!

Kisah keren seperti ini akan selalu kami update hanya di careernews.id. Supaya tak ketinggalan, tetap setia baca careernews.id ya!  

Semangat! [careernews.id]




Penulis : Puspa Aqirul Mala 

Tags : kisah sukses, kisah inspiratif, beasiswa luar negeri, LPDP, Satu Data Indonesia,
Hanif Azhar: Tulis Rencanamu dan Wujudkan Semuanya! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png