Enterpreunership, Kamis, 04/12/2014 16:30 WIB

Deri Rizki Anggraini: Mengedukasi Soal Kesehatan dengan Cara yang Fun!

Setiap penyuluhan atau edukasi kesehatan yang ia berikan selalu seru dan jauh dari membosankan. Memangnya seperti apa sih?


Deri Rizki Anggraini: Mengedukasi Soal Kesehatan dengan Cara yang Fun!

Sederhana, lincah, dan ramah. Itulah kesan pertama yang Careernews tangkap saat bertemu dengan Deri Rizki Anggraini, S.Gz., di kediamannya. Bangunan tersebut tidak hanya digunakan sebagai hunian oleh Teh Deri, sapaan akrabnya, tetapi juga merupakan markas atau sarang bagi komunitas yang ia motori, yaitu Lebah Ceria Community (LCC).

Kecintaan Teh Deri terhadap dunia edukasi dan kesehatan tidak hanya membuatnya aktif di berbagai komunitas dan organisasi tetapi juga sebagai penulis buku. Buku-buku yang ditulisnya tentu saja bertemakan kesehatan. Karena kualitas tulisannya, Teh Deri dan suami, yang juga seorang penulis, sering mendapat permintaan untuk menulis buku dari penerbit. “Sebenarnya, penerbit tuh butuh penulis yang bisa menulis tentang kesehatan. Tapi sayangnya, penulis yang mau, apalagi jago nulis soal kesehatan masih sedikit. Kalau dulu, kami (Teh Deri dan suami, –red) yang mengirim naskah tulisan, sekarang justru penerbitnya yang sering order tulisan ke kami. Alhamdulillah,” tutur Teh Deri sumringah.


Menulis dan mengedukasi masyarakat soal gizi dan kesehatan dilakukan Teh Deri dengan gairah yang seolah tak akan pernah padam. Saat ditanya soal profesi, alumni Gizi dan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM ini dengan mantap menjawab, “Saya lebih suka disebut trainer, tidak hanya sebagai seorang edukator. Trainer itu tidak hanya soal transfer knowledge tetapi juga ada perubahan mindset  di situ. Dari bermacam kegiatan yang saya jalani, semua ada irisannya, yaitu seorang trainer. Itulah yang saya kerjakan, itulah saya.”


Tak lelah melakukan edukasi kesehatan


Edukasi kepada masyarakat terkait kesehatan adalah hal yang dirasa penting oleh Teh Deri. Dengan edukasi yang baik, masyarakat jadi mampu untuk mengambil keputusan serta menimbang risiko atas pilihannya. “Dua masalah gizi yang terbesar di Indonesia saat ini adalah obesitas dan malnutrisi. Di beberapa kasus yang saya ketahui, kedua hal itu terjadi bukan karena enggak punya uang, melainkan karena minimnya pengetahuan. Tak sedikit jumlah masyarakat kita yang masih simpang siur membedakan mana yang mitos dan mana yang fakta,” demikian ia menerangkan.


Di mata Teh Deri, masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan informasi yang benar terkait kesehatan. “Enggak usah jauh-jauh sampai ke desa, kita lihat di kota saja. Di kota juga masih ada loh yang belum paham soal gizi kesehatan. Masih ada juga yang enggak paham soal asupan gizi seimbang dan bagaimana menerapkannya. Kalau disepelekan, nanti malah dampaknya menjadi tidak baik,” ucap ibu dari tiga anak ini.


Teh Deri  memandang edukasi kesehatan yang dilakukan selama ini masih terkesan kaku dan terlalu teoretis. Penyampaian seperti itu, lanjut Teh Deri, hanya akan didengar sambil lalu oleh audiens tanpa diikuti oleh perubahan perilaku mereka. “Padahal yang penting dari edukasi adalah terjadinya perubahan perilaku,” ujarnya.


Untuk mengedukasi masyarakat dengan lebih baik perihal gizi dan kesehatan, Teh Deri bersama delapan orang teman akhirnya sepakat untuk mendirikan Lebah Ceria Community (LCC). “LCC hadir tidak hanya untuk transfer knowledge dengan masyarakat di luar kampus tetapi juga mengubah perilaku mereka. Itu memang butuh waktu,” jelasnya dengan logat Sunda yang kental.


Materi edukasi gizi dan kesehatan yang disampaikan oleh LCC kepada masyarakat pun beragam,  mulai dari informasi soal gizi seimbang, personal hygiene, diet sesuai kondisi tubuh, cara memasak yang baik atau food safety, cara menangani anak yang susah makan, hingga mengedukasi para ibu untuk menciptakan produk baru dari bahan makanan yang ada di sekitar mereka. 


Lebih lanjut, Teh Deri menjelaskan filosofi di balik pemberian nama Lebah Ceria Community. “Produktivitas lebah itu luar biasa. Makan yang bagus-bagus, menghasilkan juga yang bagus-bagus. LCC ingin bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang seperti lebah,” imbuh Teh Deri.  


Komunitas yang berkarakter


Nah, soal gaya edukasi, Teh Deri mengatakan bahwa LCC memiliki ciri khasnya sendiri. “LCC itu kalau kasih edukasi harus dengan gaya yang ceria, senang, riang. Presentasi pun enggak dengan power point yang monoton, yang isinya cuma tulisan. Pokoknya dibuat se-fun mungkin biar materinya lebih enak diterima sama audiens,” paparnya penuh semangat. Gaya edukasi yang fun tersebut, menurut Teh Deri, merupakan perwujudan dari kata ‘ceria’ yang tercantum dalam nama komunitas. “Ceria itu sebenarnya singkatan, untuk menjelaskan karakter kami sebagai komunitas, yaitu cerdas, riang, dan sehat,” katanya diselingi tawa.


Reputasinya yang baik  membuat  LCC mendulang kepercayaan banyak pihak. Hal itu terbukti dari tawaran kerja sama untuk melakukan edukasi atau kampanye soal gizi dan kesehatan yang terus berdatangan dari lembaga sosial, instansi swasta, hingga instansi pemerintah. Sebut saja AQUA Home Service untuk Bunda & Keluarga atau AHS BANGGA, Kampanye Sarapan Sehat - Nestle, Dompet Dhuafa, Bulan Sabit Merah Indonesia (penyedia dokter dan tenaga medis kesehatan), Panti Asuhan Yatim Mandiri, organisasi Pembinaan Kesejahteraan keluarga (PKK), TK Salman Al Farisi Yogyakarta, dan Pengabdian Masyarakat UII.


Punya banyak kesibukan, jeli bagi konsentrasi


Selain mengasuh LCC, Teh Deri punya segudang kesibukan lainnya. Teh Deri terlibat sebagai anggota di Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI) Sleman, Ketua Bidang Minat di Keluarga Alumni Gizi Kesehatan (KAGIKA UGMA) UGM, dan anggota bidang minat di Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI). Sesekali, Teh Deri juga diminta menjadi ahli gizi di TK Salman Al Farisi Yogyakarta.


Tak hanya itu, Teh Deri juga aktif di lembaga pelatihan Potensia yang fokus pada bidang tulis-menulis. Soal peserta yang mengikuti pelatihan di Potensia, menurut Teh Deri, sebagian besar memang anak-anak sekolah. Namun demikian, Teh Deri mengatakan bahwa guru atau siapa saja yang ingin belajar dan mengasah kemampuan menulisnya bisa ikut dalam program yang disediakan oleh Potensia. Lembaga pelatihan menulis ini berdiri atas ide Teh Deri dan suami serta seorang temannya. “Basic-nya memang untuk mengedukasi. Kami punya konsep yang namanya ‘Fun Writing’. Konsep inilah yang kami tawarkan kepada komite di sekolah-sekolah,” kata perempuan asli Cimahi, Jawa Barat, ini.


Lebih lanjut, Teh Deri bertutur soal kegiatannya mengisi kajian di masjid Nurul Ashri, di mana ia  mengedukasi perempuan menjadi calon ibu yang baik dan multitasking. Sekolah Calon Ibu (SCI), itulah nama program edukasi bagi perempuan yang idenya telah Teh Deri endapkan sedari 10 tahun yang lalu. Teh Deri juga mengemukakan bahwa mengedukasi perempuan merupakan kesukaan baginya. “Edukasi satu perempuan, ketika ia menjadi ibu, ia akan tahu bagaimana memperlakukan anak-anaknya. Mengedukasi satu perempuan sama dengan menyelamatkan nasib satu generasi bangsa,” begitu ia menekankan.


Dengan aktivitas yang sedemikian padatnya, Teh Deri paham betul bahwa hal tersulit adalah membagi konsentrasi agar semuanya berjalan lancar dan maksimal. “Kalau soal bagi waktu mah gampang. Yang susah itu bagi konsentrasi. Tapi sadari sekuat tenaga, selesaikan semua tugas sesuai deadline,” ujarnya. Lagi, ia menambahkan bahwa dibutuhkan kekuatan fisik untuk bisa membagi konsentrasi dengan baik. “Makanya saya yoga, untuk melatih tubuh dan pikiran. Kalau mau bermanfaat untuk orang lain, dimensi pikiran, hati, tubuh, harus benar-benar dijaga. Kalau kita sendiri malah lengah, mau ngapain coba?” imbuhnya tersenyum.


Pribadi yang vocational oriented


Dalam melaksanakan pekerjaannya, Teh Deri berpegang teguh pada hadis yang menuliskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang banyak. “Pekerjaan itu bagi saya adalah vocational oriented, tidak melulu soal menghasilkan uang tetapi juga soal meningkatkan skill kita. Kita belajar apa dari pekerjaan itu? Berapapun bayarannya, kalau saya bisa belajar banyak dari situ, enggak dibayar pun rasanya, wah, sudah punya banyak ilmu,” ucapnya.


Itulah mengapa Teh Deri dengan mantap menyebutkan, “Volunteer itu pun pekerjaan, ia menyita waktu. Dan dari sana, akan banyak keajaiban yang terjadi. Insya Allah kita tidak melakukan hal yang sia-sia.” Teh Deri mengaku bahwa ia memiliki misi untuk mengenalkan soal profesi volunteer ke kampus-kampus. “Khususnya ke anak gizi, volunteer juga bisa dijadikan sebagai profesi kalian,” imbuhnya lagi.


Menurut Teh Deri, aktivitas volunteerism telah banyak berjasa dalam membantunya hingga berada di posisi sekarang. Melihat bagaimana geliat Teh Deri dalam mengedukasi masyarakat di beragam kegiatan, PW Salimah DIY, yang khusus menangani soal anak dan perempuan, menawarkan posisi staf bidang pendidikan kepadanya. Tawaran yang tak disangka-sangka itu tentu saja disambut Teh Deri dengan antusias.


Selanjutnya, dalam waktu dekat ini ia akan menyelesaikan buku, melanjutkan program SCI, membuka program Sekolah Calon Ayah (SCA), mengadakan open recruitment untuk LCC, menyelesaikan program kerja untuk PW Salimah,  dan melakukan training menulis di sekolah yang berada di luar kota. “Enggak usah merisaukan enggak ada lapangan kerja, tetapi risaulah kalau kita enggak punya apa-apa, tidak berkualitas. Saya yakin, kalau kita berkualitas, enggak hanya study oriented, punya kemampuan yang berbeda, pasti dicari,” pesannya, menyudahi pembicaraan. [CN]



Penulis                     : Elyzabeth Winda

Editor                      : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Fotografer, grafis   : Adityo R.D, Tongki A.W


Tags : fun health education, seminar kesehatan 2014, health education, profile praktisi kesehatan
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Deri Rizki Anggraini: Mengedukasi Soal Kesehatan dengan Cara yang Fun! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png