Enterpreunership, Selasa, 18/11/2014 16:00 WIB

Khairunisa Ramadhani: Jeli Baca Peluang di Bidang Kesehatan yang Belum Tergarap

Siapa sangka, keputusannya untuk tak mau bekerja dengan orang lain, justru membawanya ke arah kesuksesan!
Khairunisa Ramadhani: Jeli Baca Peluang di Bidang Kesehatan yang Belum Tergarap
Trend makanan sehat semakin beredar di kalangan masyarakat dewasa ini. Peluang itulah yang dilihat dengan jeli oleh Khairunisa Ramadhani.

Pertanyaan ‘mau jadi apa nanti setelah jadi sarjana gizi’ juga pernah membayangi lulusan Program Studi  Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM 2009 ini. “Awalnya aku enggak ngerti untuk apa aku masuk gizi (jurusan gizi kesehatan, -red). Tapi setelah ngerasain kuliahnya, ternyata bisa bermanfaat, contohnya untuk bantu diet orang lain. Soalnya masih banyak orang di luar sana yang enggak punya pemahaman memadai soal gizi dan juga enggak tahu gimana caranya nurunin berat badan tanpa nyakitin. Di sini, mereka butuh bantuan anak gizi,” tutur dara kelahiran 17 Maret 1991 itu.


Lebih lanjut, Icha bercerita bahwa pengalaman terdahulu ketika menangani ibunya sendiri  menjadi salah satu faktor yang membuatnya mantap terjun ke bisnis ini. “Gula darah ibuku sempat tiba-tiba tinggi. Terus aku bantu menyusun program diet, akhirnya turun dan hidupnya juga lebih sehat. Nah, dari situ aku mikir, ibuku aja seneng bisa (berhasil,-red) kayak gini. Orang lain juga pasti seneng,” ucapnya. Pada Agustus 2013, Icha resmi memulai bisnis katering makanan sehat yang ia beri nama “Happy Lunch”.

Memadukan passion masak dan entrepreneurship


Kepada Careernews, Icha bertutur tentang pengalamannya semasa menjadi jobseeker. “Dari beberapa job fair yang pernah aku ikuti, lowongan untuk anak gizi lebih banyak di rumah sakit dan hotel. Selebihnya dari perusahaan-perusahaan yang punya lowongan untuk all major. Aku sempat kaget sih, tapi justru karena itu tekadku makin bulat untuk bikin usaha sendiri aja,” kisah Icha tersenyum. Icha sendiri mengaku kurang begitu berminat untuk bekerja di rumah sakit. Tidak hanya itu, Icha melanjutkan bahwa ia pun pernah mendapat panggilan kerja dari restoran cepat saji tetapi akhirnya tidak dilanjutkan. “Kalau dipikir-pikir, masa aku lulusan gizi kerja di situ (restoran cepat saji, -red)? Kok kayaknya ngerusak nama almamater ya,” kenangnya diiringi tawa.


Ketika menjalani beberapa kali proses pencarian kerja, Icha sebenarnya sadar bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang bekerja di bawah orang lain. “Aku lebih senang punya usaha sendiri, jadi bisa atur waktu dan juga bisa atur diri sendiri,” akunya. Icha juga mengatakan bahwa motivasi sang ayah menjadi pegangan baginya dalam berusaha. “Ayahku bilang, lulusan UGM itu seharusnya membantu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, bukannya kerja untuk orang lain,” imbuh Icha.


Beruntung, Icha punya passion di bidang masak-memasak. Kegemaran tersebut menjadi penopang bagi usaha katering yang ia jalani. Untuk mempertajam keahlian memasak, Icha pernah masuk ke salah satu sekolah chef di Yogyakarta selama enam bulan. “Waktu di sana, aku lebih condong ke hot kitchen atau makanan berat daripada ke pastry,” katanya.


Modal awal usaha katering Icha adalah dari uang saku pemberian kedua orang tuanya.  Uang tersebut ia sisihkan untuk membeli kotak makan dan bahan-bahan makanan di pasar. Meskipun bahan dasarnya bisa diperoleh dengan murah, bukan berarti masakan Icha murahan. Untuk menjaga kualitas dan cita rasa katering Happy Lunch, Icha memasak sendiri semua pesanan yang diterimanya. Itulah mengapa makanan yang dimasak Icha tidak hanya lezat tetapi juga sehat.


Sebanyak empat pelanggan katering Happy Lunch berhasil Icha gaet di minggu pertama bisnisnya berjalan. Bukan main senangnya Icha kala itu. Apalagi karena sang Ibu sempat menentang keinginan Icha untuk berwirausaha dan memintanya untuk mencari pekerjaan kantoran saja. Berbekal doa, kerja keras, dan promosi dari mulut ke mulut, pelanggan katering Icha bertambah menjadi 15 orang. Lalu, siapa saja sih pelanggan katering Happy Lunch milik Icha? “Kebanyakan memang mahasiswa tapi sempat ada juga ibu-ibu hamil. Rata-rata mereka pesan untuk program penurunan berat badan,” jawabnya.


Dengan tarif yang cukup  terjangkau,  yakni Rp 150.000, 00 untuk sepuluh hari, pelanggan katering Happy Lunch sudah mendapatkan jasa konsultasi, paket makan siang, resep makanan yang harus dipatuhi oleh pelanggan di luar jam makan siang, berikut jasa antarnya. Karena ketiadaan pegawai, Icha sendirilah yang mengantarkan semua pesanan tersebut kepada pelanggan kateringnya.


Icha pun memantau perkembangan para pelanggannya setiap seminggu sekali. Agar pemantauan tersebut  bisa berjalan dengan efektif, Icha mengaku membatasi jumlah pelanggan kateringnya.  “Kalau dia nurut sama resep yang aku kasih, minimal satu kilogram dia bisa turun berat badan dalam seminggu. Tapi kalau dia enggak turun, aku pun kasih dia garansi, aku harus tanggung jawab untuk melakukan koreksi,” tegas Icha. Perpaduan kerja keras dan doa Icha berbuah manis. Dari modal uang sakunya yang tak seberapa, pendapatan yang diperoleh Icha per sepuluh hari di awal bisnis mencapai Rp 600.000,00. Lumayan kan?
 

Melebarkan sayap ke bisnis bakso tanpa vetsin


Tak ada kata lelah untuk terus berinovasi dan berkembang di dalam kamus kehidupan Icha. Bekerja sama dengan  temannya, M. Hadyan Rusin, lulusan Kedokteran UGM 2009, Icha kini tengah merintis usaha bakso tanpa vetsin yang dinamakan Bakso Lapaz.


“Bakso itu makanan untuk semua kalangan, dari anak kecil hingga orang dewasa suka. Sayangnya, bakso-bakso yang beredar sekarang kebanyakan pakai vetsin, enggak baik untuk kesehatan, apalagi kalau dikonsumsi anak kecil. Nah, dari situ, kami pengen bikin bakso yang enak dan sehat, tentunya tanpa vetsin,” papar Icha tentang alasan dibukanya Bakso Lapaz. Sementara ini, warung bakso tersebut berlokasi di daerah Cebongan, Yogyakarta. Namun, Icha mengaku tengah mencari lokasi baru untuk kedai baksonya di dekat kota atau wilayah sekitar kampus.


Icha tak semata-mata berwirausaha untuk keuntungan pribadinya. Sebagai lulusan prodi Gizi Kesehatan, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat agar lebih memahami arti penting kesehatan. Untuk itu, ke depannya, Icha berencana untuk membuatkan nutrition fact yang terkandung di dalam satu sajian Bakso Lapaz serta mengolah bakso tersebut menjadi bermacam-macam bentuk.


Lantas, bagaimana dengan bisnis katering Happy Lunch yang sudah lebih dari setahun Icha jalankan? Icha mengaku bahwa untuk saat ini ia memang sedang berkonsentrasi di usaha Bakso Lapaz. Namun ia tetap melayani permintaan konsultasi. Sedangkan untuk permintaan paket makan siang, sementara ini Icha hanya menerima pesanan katering untuk arisan sebanyak 50 orang.


Dare to do it!


Bisnis yang dijalankan Icha, mulai dari bisnis katering sampai bakso tanpa vetsin, bukan berarti tanpa hambatan lho. Masa-masa stuck karena bingung harus mulai dari mana dan takut gagal juga pernah dialami Icha. Kamu tahu apa yang dia lakukan?


“Kalau memang cita-citanya jadi pengusaha, ya harus ketemu sama orang yang berusaha. Sharing sama orang lain. Mau dia tukang kerupuk sekalipun, dia pasti punya cerita yang bisa jadi pelajaran. Awal bisnis katering dulu, aku minta teman coba dan nilai masakan aku, enak bilang enak, enggak bilang enggak, biar aku tahu apa yang harus diperbaiki. Enggak usah takut enggak dapat kerja, karena kita bisa nyiptain lapangan kerja sendiri,” pungkas Icha.


Apa yang Icha sampaikan patut kita renungkan bersama-sama. Impian apapun yang kita miliki hanya akan jadi omong kosong jika kita sendiri tidak bergerak untuk mewujudkannya. Sebelum bergerak, jangan lupa buat perencanaan agar punya persiapan untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk.


Apakah kamu punya pendapat lain? Bagikan di kolom komentar, yuk! [CN]


Penulis         : Elyzabeth Winda

Editor           : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Fotografer    : Adityo R.D


Tags : katering happy lunch, catering jogja, bisnis gizi kesehatan, cara diet aman, diet mayo aman, trend makanan sehat
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Khairunisa Ramadhani: Jeli Baca Peluang di Bidang Kesehatan yang Belum Tergarap | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png