Office Hour, Senin, 10/11/2014 10:00 WIB

Vanda Parengkuan: Cerpenis yang Mengakrabi Dunia Anak Sejak Belia

Kalau  pernah membaca majalah Bobo, pasti kamu akan tahu sosok Vanda Parengkuan. Lewat kata-kata yang disusunnya, kita seolah bisa hanyut dalam tawa dan suasana yang mengasyikkan.
Vanda Parengkuan: Cerpenis yang Mengakrabi Dunia Anak Sejak Belia
Bermula dari kegemarannya membaca buku, Vanda telah menulis sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Tak disangka, hobi tersebut membawanya pada karir yang telah dijalani selama 21 tahun.
Vanda kecil selalu gembira saat ayahnya pulang kerja sambil membawa bungkusan. Isinya pasti buku cerita! Saat ia masih kecil, ragam buku cerita dan majalah anak saat itu masih sangat sedikit. “Si Buta dari Gua Hantu, Lima Sekawan, itu beberapa judul buku yang saya baca waktu itu,” kenangnya.

Tidak puas ending cerita


Beruntung bagi Vanda, kegemarannya membaca mendapat dukungan penuh dari sang ayah. Berbagai judul buku cerita dan komik dibelikan oleh beliau. Sayangnya, tak semua cerita mendatangkan kepuasan bagi Vanda. Ia sering merasa tidak suka dengan ending yang dipilih oleh penulis. “Saya jadi terdorong untuk menulis. Awalnya menulis bagian akhirnya saja. Saya buat sesuai keinginan saya,” tukas wanita yang dilahirkan 21 September 1967 ini.

Lama-kelamaan, menulis pun menjadi hobi Vanda. Orang tuanya pun mendukung dengan membelikan mesin ketik untuk memfasilitasinya dalam menulis. “Kelas 5 itu saya mulai menulis dengan mesin ketik, pakai dua jari ngetik-nya,” ujar Vanda.

Tulisan yang dihasilkannya saat itu adalah puisi dan cerita pendek (cerpen). Ketika duduk di bangku kelas 6 SD, ia mulai memberanikan diri mengirimkan tulisannya ke majalah Bobo. Ia terus mengirimkan tulisannya meskipun tidak juga dimuat. Barulah ketika kelas 3 SMP, salah satu hasil tulisannya dimuat di Majalah Bobo. “Saya jadi ketagihan mengirim tulisan lagi. Anak kecil dapet honor, ya senang, kan,” ujarnya sambil tertawa.

Sejak saat itulah,Vanda terus mengirimkan karyanya ke majalah Bobo. Saat kuliah pun, ia sudah ditawari menulis cerita bergambar (cergam) Paman Kikuk, Husin, dan Asta di majalah Bobo secara reguler. Sampai dengan selesai menuntut ilmu di Sastra Jepang Universitas Indonesia, ketika akan menyerahkan naskah cerpen ke Bobo, ia ditawari untuk melamar pekerjaan sebagai staf tetap. “Waktu itu saya mikirnya sepertinya enak, kerja tapi sesuai dengan hobi, jadi saya mengikuti seleksi lowongan yang dibuka untuk penulis fiksi,” jelas Vanda. “Akhirnya saya lolos seleksi, dan sejak tahun 1993 sampai sekarang menjadi pengasuh rubrik fiksi di majalah Bobo,” lanjutnya.

Menulis cergam


Meski sepintas terlihat sederhana, menulis cergam untuk anak-anak butuh kreativitas dan daya imajinasi yang tinggi. Seperti Vanda, ia pernah merasakan menjadi penulis tetap cergam Pamak Kikuk, Husin dan Asta serta Cerita dari Negeri Dongeng. “Dua cergam itu punya karakteristik yang berbeda,” ujarnya.


Untuk cergam Negeri Dongeng, Vanda harus membayangkan hal-hal yang cantik, seperti kupu-kupu yang beterbangan dan serangga yang lucu. “Saya juga harus membayangkan sihir Nirmala (salah satu tokoh, –red) akan berubah menjadi seperti apa,” terangnya. Sedangkan untuk cergam Paman Kikuk, lelucon yang ditampilkan cenderung humor slapstick. “Seperti kejatuhan bola-bola atau apalah yang sejenis, buat anak-anak itu lucu.”

Menulis cergam juga memiliki kaitan yang erat dengan ilustrator. Setelah membuat cerita, Vanda akan menyusun order gambar untuk ilustrator. Order ini harus jelas detailnya. Seperti di cergam Negeri Dongeng, jika ada tokoh yang membawa ember, harus jelas embernya seperti apa. “Aneh kalau nanti yang digambar ember plastik, bukan ember kayu, padahal setting-nya kerajaan zaman dahulu. Ilustrasi harus menyesuakan dengan cerita yang dibuat,” ujarnya. Untuk mendapatkan hasil gambar yang memuaskan, Vanda harus detail dalam menuliskan order gambarnya.

Apalagi, satu ilustrator tidak hanya dibebani tugas menggambar satu rubrik saja tetapi juga beberapa rubrik yang lain sehingga mereka tidak sempat memikirkan detail gambar yang dimaksud oleh penulis. Keterangan order gambar yang detail dan jelas akan memudahkan ilustrator dalam bekerja serta meminimalisasi kesalahan. “Karena dulu pernah, gambarnya tidak sesuai dengan cerita, akhirnya ya harus rombak.”

Selain menulis cergam, Vanda juga sesekali menulis cerpen tetapi dengan menggunakan nama samaran. “Biar sama pembaca enggak dibilang ‘wah ini lagi ini lagi’,” paparnya sambil terkekeh.

Operet Bobo


Selama tiga tahun terakhir ini, Operet Bobo memang tidak lagi rutin dijalankan. Operet Bobo adalah salah satu proyek operet anak yang diproduksi oleh Bobo, sebelumnya diadakan rutin setiap tahun sekali. Di sini, Vanda biasanya berperan sebagai pembuat cerita.

“Sebenarnya saya hanya membuat cerita. Masalah casting adalah tanggung jawab sutradara dan koreografer. Tapi karena semua berkaitan dengan cerita, kadang saya juga ikut,” paparnya. Berbeda dengan cergam yang hanya cukup mewujudkan imajinasi melalui gambar, dalam operet, imajinasi itu akan diwujudkan dalam dunia nyata.


“Saya banyak diskusi masalah kostum dan properti panggung. Kalau memang sulit, akan dicari alternatif lain,” lanjutnya. Dalam operet Bobo, jalan cerita tetap melibatkan hal-hal yang magic. Seperti misalnya peri kecil menjadi dewasa atau penyihir terbang, itu membutuhkan kostum dan properti yang memadai.


Kendalanya, Vanda sendiri tidak tahu budget yang disiapkan untuk operet ini. Terkadang, ia sudah terlanjur membuat cerita tetapi ternyata budgetnya di bawah ekspektasi. Tentu saja cerita yang sudah disusun harus dirombak ulang. Hal tersebut seolah merusak khayalan keseluruhan karena ia terlanjur berimajinasi terlalu tinggi.

Menyukai dunia anak


Ditanya mengenai pilihannya berkarir di majalah anak, ia mengatakan bahwa dunia anak memang menarik hatinya. Dulu ia masuk jurusan sastra Jepang karena ia memang ingin berkuliah di jurusan sastra, dan saat itu sedang booming perusahaan Jepang yang membutuhkan banyak karyawan. Atas saran beberapa pihak, ia memilih jurusan tersebut karena dikatakan akan mudah mencari pekerjaan. "Tapi akhirnya saya tetap memilih Bobo karena saya memang suka,” terang Vanda.

Ketertarikannya terhadap dunia anak ini menimbulkan keprihatinan terhadap kondisi media informasi untuk anak, khususnya di Indonesia. Semakin hari, tayangan dan sajian untuk anak di berbagai media semakin menipis. “Bisa dikatakan, tidak ada tayangan anak yang sifatnya mendidik sekaligus tidak menggurui,” ujarnya.

Ia menyayangkan anak-anak yang sekarang ini justru menonton tayangan atau mengonsumsi konten yang tidak sesuai dengan usianya. Hal ini dikarenakan tidak adanya konten anak di berbaai media yang bersaing hanya demi rating. Menurut Vanda, seharusnya pemerintah menggalakkan stasiun TV untuk menayangkan program anak tanpa memedulikan rating. “Saya juga ingin suatu hari nanti Bobo akan membuat tayangan televisi yang bagus untuk anak Indonesia,” pungkasnya. [CN]


Penulis & Foto        : Ratih Wilda O.
Editor                    : Vinia Rizqi, Rifki Amelia Tags : vanda parengkuan, majalah bobo, kompas gramedia, sosok dibalik cerita bobo, my job, job desc penulis, job desc ilustrator
Vanda Parengkuan: Cerpenis yang Mengakrabi Dunia Anak Sejak Belia | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png