Office Hour, Rabu, 23/07/2014 12:00 WIB

Matteo Guerinoni: Saya Pembalap Biasa, but Don’t Call Me 'Om'!

Jika Anda adalah penggemar olahraga MotoGP, tentu sosok ini tak lagi asing. Berikut ulasan artikel hasil wawancara CareerNews, spesial untuk Anda.
Matteo Guerinoni: Saya Pembalap Biasa, but Don’t Call Me 'Om'!
Dialah Matteo Guerinoni, seorang pria kelahiran Bergamo, Italia, 46 tahun silam. Meski telah pensiun dari dunia balap pada tahun 2013, pria yang akrab disapa dengan Matteo ini tak bisa jauh-jauh dari dunia balap. Ia kini menggeluti dunia entertainment dengan menjadi komentator kejuaraan MotoGP di layar televisi Indonesia.

Memang, dengan usia yang tak lagi muda, komitmen Matteo untuk mempercantik dunia balap Indonesia tak pernah surut. Ia pun harus berjuang dengan cukup keras untuk bisa menjadi seorang pembalap yang hebat. Matteo kecil mengawali karir sebagai pembalap go-kart dan formula di Italia. Kenapa go-kart dan formula? Semua itu karena sang ayah enggan memberikan restu jika ia balapan motor, mempertimbangkan faktor keselamatan. "Meskipun saya balapan go-kart dan formula, jiwa saya tetap ingin balapan motor," tutur pemilik akun Twitter @Matteo33 ini. Namun, saat ia menginjak usia 18 tahun, karir balap yang telah dirintisnya terpaksa berhenti lantaran ayahnya tak lagi memiliki dana.


Saat itu, Matteo menyangka bahwa ia harus mengubur impian terbesarnya. Ia pun hijrah ke Indonesia pada tahun 1992 dan membuka bisnis berupa gerai es krim khas Italia alias gelato di Jakarta, Pisa Cafe, yang hingga saat ini masih beroperasi. Pucuk dicinta ulam tiba, mungkin kalau sudah jodoh tak akan lari ke mana. Ia pun menerima tawaran untuk kembali ke lintasan balap pada tahun 2006.


Sarat prestasi


Kemampuan Matteo dengan motor balap juga dibarengi dengan torehan prestasi. Pada tahun 2006, ia sukses menyabet gelar juara dalam kejuaraan nasional. Namun, karena masalah status kewarganegaraan, Matteo gagal membawa trofi.  “Waktu itu saya marah sekali, coba saya diberi tahu sejak awal, saya bisa ikut kompetisi di Malaysia atau Asia, tapi mereka memberi tahu setelah pertandingan selesai,” kenang Matteo. Matteo memutuskan untuk vakum dari dunia balap sampai peraturan tersebut direvisi.


Tak berapa lama, setelah Matteo dianggap sebagai orang Indonesia, ia pun kembali berlaga di dunia balap motor. Matteo sukses mengoleksi beragam kemenangan, yaitu juara pertama Kejuaraan Nasional Supersport 2008, runner-up Kejuaraan Nasional Superbike 2009, dan juara pertama dalam Kejuaraan Nasional Superbike 2010.


Uniknya, pada tahun 2013, ia meluncurkan slogan ‘Don’t call me 'Om'!’.  Slogan ini ditujukan untuk para pembalap muda sekaliber Doni Tata agar tidak boleh menyepelekan pembalap senior di dalam race. Meski telah berkepala empat, pembalap dengan nomor motor 33 ini bisa membuktikan bahwa ia masih mampu melesat jauh di depan para pembalap yang memanggilnya dengan ‘om’. Kala itu, ia mampu masuk jajaran lima besar.

Saya orang biasa, tidak merasa lebih dari siapa pun, saya sama saja dengan para pengendara di jalanan Indonesia _Matteo Guerinoni


Siap jadi pelatih


Kecintaan yang didukung dengan pemahaman yang baik soal dunia balap motor membuat Matteo memperoleh mandat menjadi komentator kejuaraan MotoGP di salah satu televisi nasional Indonesia pada tahun 2009. Dengan bahasa Indonesia yang fasih dan komentarnya yang kritis, penonton jadi semakin paham mengenai kekurangan dan kelebihan race yang baru saja digelar. 


Namun, kesibukannya sebagai komentator sekaligus mengurus bisnis kuliner gelato dan resto  makanan Italia, Luna Negra, tidak membuatnya jauh-jauh dari dunia balap. Jika kesempatan itu datang, ia mengaku siap menjadi pelatih balap Indonesia. Ia ingin memajukan dunia balap Indonesia agar mampu bersaing di dunia internasional.


Dalam beberapa kesempatan, banyak pembalap muda Indonesia yang meminta saran, bukti bahwa Matteo telah diakui sebagai tentor. Bahkan, Matteo sukses mengantarkan salah satu anak bimbingannya, Dimas Ekky Pratama, mengantongi tiket untuk turun dalam laga internasional, 37th Coca Cola Zero Suzuka 8-Hour Endurance Road Race 2014.


Berbicara tentang Indonesia


Menurut Matteo, pembalap Indonesia tidak kalah bersaing dengan pembalap luar negeri karena mereka memiliki keberanian yang luar biasa. Namun, kurangnya mentalitas untuk bersaing dalam kancah internasional menjadi penghambat kemajuan dunia balap Indonesia. Matteo menyatakan bahwa dirinya tidak bisa memprediksi kapan dunia balap Indonesia akan maju. Menurutnya, saat ini yang paling penting adalah mengubah mentalitas. "Jangan hanya bermental duit. Kalau di Eropa, tujuan utamanya adalah menjadi pembalap MotoGP, bisa kaya itu urusan nanti," tuturnya kepada CareerNews minggu lalu.


Di samping itu, ia menambahkan bahwa kurangnya penguasaan bahasa Inggris dan sistem-sistem internasional disinyalir sebagai penghambat prestasi pembalap. Pembalap Indoensia belum memiliki jam terbang yang cukup. Hal ini diperburuk dengan kondisi sirkuit yang tak laik, baik dari segi kualitas dan kuantitas. Padahal Indonesia merupakan negara besar dan kaya tetapi infrastrukur masih kurang memadai.


Menurut Matteo, seharusnya Indonesia berani belajar dari Malaysia karena mampu menggelar acara bergengsi seperti MotoGP. Tentu tidak mustahil bagi Indonesia untuk melakukan hal yang sama bahkan jauh lebih baik. Dibutuhkan sebuah kolaborasi nyata antara pemerintah, pembalap, dan sponsor untuk berkomitmen bersama-sama membangun dunia balap Indonesia. 


Rasa cintanya pada dunia balap motor memberinya banyak opsi profesi, yakni komentator, tentor, hingga mungkin sebagai pelatih di kemudian hari. Kesabaran yang ditempuhnya selama bertahun-tahun, kini telah berbuah manis.


Semoga menginspirasi ya! [CN]


Penulis             : Dewi Ayu Nurjanah

Editor               : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Foto                  : dok.pribadi Matteo





Tags : profil matteo guerinoni, matteo motoGP, komentator motoGP tv nasional, atlet balap motor dunia
Matteo Guerinoni: Saya Pembalap Biasa, but Don’t Call Me 'Om'! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png