Office Hour, Jumat, 11/07/2014 12:00 WIB

Yuyun Ari Wibowo: Bola Voli dan Semangat Berbagi

Prestasi dalam bidang olahraga bola voli telah mengantarkan Yuyun Ari Wibowo pada karir yang dicapainya kini.
Yuyun Ari Wibowo: Bola Voli dan Semangat Berbagi
Untuk mencapai puncak karir, tentunya seseorang harus memulai perjalanannya dari bawah. Hal itulah yang juga dilakukan oleh Yuyun Ari Wibowo.
Berangkat dari bawah

Yuyun mulai berlatih bola voli sejak kelas 3 SD dengan bergabung pada klub bola voli di Bantul bernama Baja 78 pada tahun 1997. Prestasi yang didapatkannya sejak SD-SMP bisa dibilang bagus. Saat SD, ia berhasil menjuarai pertandingan tingkat provinsi selama tiga kali berturut-turut untuk bola voli mini.


Memasuki SMP, prestasinya lebih membanggakan lagi. Ia pernah mengharumkan nama Yogyakarta dengan meraih peringkat dua pada pertandingan bola voli tingkat nasional yang berlangsung di Jakarta. Prestasi yang diraih Yuyun bukan tanpa pengorbanan. Sejak kecil ia sudah mengorbankan waktu bermainnya untuk latihan setiap hari. “Kalau dibanding teman-teman, ya saya kurang waktu bermainnya,” aku Yuyun. Waktu bermainnya dialokasikan untuk mengikuti berbagai latihan olahraga, seperti taekwondo, silat, dan bola voli.  

Menjadi pelatih sekaligus dosen


Memasuki tahun 2001, ia akhirnya menjadi salah satu pelatih di klub Baja 78. Awalnya, Yuyun menjadi pelatih atlet pemula. Namun, lambat laun Yuyun dipercayai untuk melatih berbagai tingkatan tim dan akhirnya bisa membawahi satu tim. “Perjalanan karir ini benar-benar saya rintis dari bawah,” ujar Yuyun menuturkan.


Karirnya sebagai pelatih sangat dipengaruhi oleh prestasi dan kuliahnya. “Kebetulan saya kuliah di FIK (Fakultas Ilmu Keolahragaan, -red). Paling tidak, sedikit banyak ada ilmu olahraga, salah satunya bola voli, apalagi dulunya saya juga atlet voli,” papar Yuyun. Setelah itu, Yuyun diikutsertakan dalam pelatihan di kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional.


Yuyun mengaku tujuannya menjadi pelatih semata-mata adalah untuk ibadah. “Kalau di lapangan lebih mudah. Ternyata jauh lebih mudah menanamkan ke anak-anak daripada dengan ceramah,” kata Yuyun. Dalam hal ini, Yuyun mencontohkan penanaman kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Dengan menanamkan ketiga nilai tersebut, Yuyun telah membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik.


Berawal dari niat baik itu, Yuyun bertekad meneruskannya sampai akhir. Yuyun tidak ingin meninggalkan jati dirinya sebagai seorang pelatih bola voli, sekalipun tidak lagi membawahi tim. “Sampai pensiun, sampai titik darah penghabisan, jika saya masih bisa ke lapangan, maka saya  akan turun ke lapangan. Tidak menutup kemungkinan sampai kapan pun,” ujarnya menegaskan.


Saat ini, Yuyun juga tercatat sebagai salah satu dosen di FIK UNY, Jurusan Pendidikan Olahraga (POR) dengan prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR).  Profesi sebagai dosen tidak pernah terbayang di benak Yuyun. Ia bahkan mengaku mendaftar sebagai dosen atas ajakan temannya. “Tahun 2008 ada pembukaan. Saya diajak oleh teman satu angkatan saya untuk mendaftar, ya sudah saya kemudian ikut mendaftar juga,” papar Yuyun.


Bahkan sebelum menjadi dosen, ia juga sempat mengampu mata pelajaran olahraga di dua sekolah yakni di SMA Pundong dan SMP 2 Pandak. Setiap pagi, ia mengajar sebagai guru olahraga, lalu sorenya mengisi ekstrakurikuler bola voli.

Bukan cita-cita sejak kecil


Tak pernah terbayangkan oleh Yuyun, bahwa ia akan menjadi seorang atlet sekaligus dosen. Cita-citanya sejak awal adalah menjadi tentara. "Cita-cita saya sejak kecil jadi tentara karena saya suka perang,” ujarnya berkisah.


Atas saran sang ayah, Yuyun pun kuliah di UNY. Ia tercatat sebagai mahasiswa yang lulus tepat waktu dengan lama studi empat tahun. “Kalau era saat itu, kuliah di UNY dan bisa lulus empat tahun itu sudah sangat bagus. Apalagi secara IPK, saya menduduki ranking kedua di kelas,” paparnya bangga.

Tantangan yang dihadapi


Selama menjadi pelatih, Yuyun mengaku mendapati banyak tantangan. “Pertama adalah bagaimana menguasai materi yang ada karena bola voli berjalan terus, lawan terus memperbaiki diri, kita harus melakukan hal yang sama. Kedua, tentunya berkaitan dengan bagaimana kami mengelola atlet karena setiap tahun bakatnya berbeda,” papar Yuyun.


Dari tantangan tersebut, Yuyun mencari solusi untuk menanganinya. Yuyun selalu belajar melalui sumber-sumber referensi, termasuk meminta petunjuk kepada senior dan menyaksikan pertandingan. “Semakin sering melihat pertandingan akan semakin tahu bagaimana cara melatih yang bagus untuk pertandingan.”


Namun, tidak dimungkiri bahwa ia sangat bangga pada prestasi atletnya. “Yang paling membanggakan adalah saat Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS). Saat itu, atlet kami diprediksi tidak bisa sampai empat besar tetapi ternyata murid saya bisa berhasil menjadi juara tiga,” akunya bangga. Tak hanya itu saja, dalam lingkup Baja 78 sendiri, Yuyun juga berhasil membawa atletnya hingga lolos ke divisi satu.


Namun demikian, Yuyun mengaku ia lebih bangga ketika atletnya bisa mendapatkan pekerjaan. “Kami lebih bangga bila anak-anak kami mendapatkan pekerjaan. Itu jauh lebih membanggakan daripada memenangi sebuah pertandingan,” tegas Yuyun.

Untuk Anda: Selamat berkarya! [CN]


Penulis             : Tri Puspitasari
Editor               : Vinia Rizqi, Rifki Amelia
Fotografer       : Galih A. Kartiko
Tags : atlet voli nasional. atlet voli indonesia, tip sukses berkarir dunia olahraga
Yuyun Ari Wibowo: Bola Voli dan Semangat Berbagi | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png