Office Hour, Selasa, 15/04/2014 16:00 WIB

Dr. Bambang Hudayana, M.A: Membunuh Jenuh dengan Berinovasi

Hidup mengabdi untuk masyarakat pedesaan dan mahasiswa! Bagi seorang pendidik, kebanggaan terbesar adalah dapat membagi-bagikan ilmu dan terus belajar.
Dr. Bambang Hudayana, M.A: Membunuh Jenuh dengan Berinovasi
Hal tersebut diamini oleh Dr. Bambang Hudayana, M.A., staf pengajar Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Baginya, seorang pengajar idealnya tidak hanya memberikan ‘wejangan’ teoritik tetapi juga mampu mendorong mahasiswa untuk mandiri, inovatif, dan terampil.
Menjadikan mahasiswa sebagai penonton dalam monolog pengetahuan sang dosen di dalam kelas saja tidak cukup. “Saya selalu mengembangkan bermacam pendekatan metode mengajar agar saya pribadi tidak bosan. Kedua, mahasiswa juga tidak bosan,” ungkapnya.  


Terlahir dari keluarga yang mengabdi pada dunia pendidikan, Bambang kecil terbesit ingin menjadi seorang guru. Namun, saat memasuki bangku SMA, ia berubah haluan. Ia ingin menjadi seorang antropolog karena kecintaanya pada budaya.  Dengan menjadi antropolog, ia dapat mengunjungi beragam daerah, dekat dengan masyarakat, dan mengenal hal-hal baru. “Saya membaca buku-buku tentang etnografi dan membaca koran tentang berbagai suku di nusantara. Saya ingin mengunjungi dan bekerja dekat dengan kegiatan mempelajari suku-suku bangsa,” ujarnya.

Semasa kuliah, Bambang telah aktif menjadi pengurus perpustakaan Jurusan Antropologi, satu-satunya perpustakaan yang dikelola oleh mahasiswa pada masa itu. Lalu, ia ditawari menjadi staf pengajar setelah menamatkan kuliah sarjana. Ketekunan dan komitmen yang ia bangun bertahun-tahun berbuah manis. Pada tahun 2013, ia diangkat menjadi Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasaan UGM dan mendapatkan mandat untuk memimpin beragam penelitian.

Peneliti Ulung

Karir Bambang sebagai seorang peneliti berawal saat ia bersama dengan dosen lainnya mendirikan Institute of Research and Empowerment (IRE) pada tahun 1994. IRE merupakan sebuah lembaga nonpemerintah yang bergerak pada bidang pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan.

Sampai saat ini ia juga masih aktif dalam memimpin beberapa penelitian Jurusan Antropologi, bersama-sama dengan dosen, alumni, dan mahasiswa. Bahkan, untuk mendorong peningkatan penelitian dosen, ia sukses memfasilitasi berdirinya Laboratorium Antropologi untuk Riset dan Aksi (LAURA). Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk terjun dalam penelitian antropologi.

Bambang juga baru saja kembali dari forum Think Tank yang digelar di Peru, Amerika Selatan. Forum Think Tank merupakan sebuah forum yang diikuti oleh peneliti dari sembilan negara untuk meningkatkan penelitian kolaboratif.  Diharapkan, Indonesia akan memiliki wakil-wakil muda dalam forum ini. “Saya berharap ada pengganti saya yang lebih muda karena wakilnya ‘muda-muda’ semua seperti saya,” ungkapnya sembari bercanda.

Anti Makalah Sulapan

Selain menjadi seorang peneliti, Bambang juga disibukkan dengan rutinitas belajar-mengajar. Tak jarang, ia mengajak mahasiswa untuk keluar ruangan dan berdiskusi di bawah pohon. Cara ini ditempuh sebagai alternatif metode mengajar. Diperlukan metode yang inovatif untuk membunuh jenuh, baik untuk mahasiswa maupun dosennya sendiri.

Bambang telah berkomitmen untuk tidak akan hanya menularkan ilmu tetapi juga memotivasi mahasiswa untuk mandiri, kreatif dan inovatif. Beragam cara telah ditempuh, seperti melengkapi perpustakaan jurusan dengan buku-buku baru, baik dari dalam maupun luar negeri sampai melibatkan mahasiswa dalam penelitian. Ia juga mengajarkan kepada mahasiswa bagaimana menikmati proses.

Dalam pembuatan paper atau makalah, ia menolak tulisan yang semalam jadi, seperti sulapan. Menurutnya, makalah sulapan akan rentan dengan plagiarisme dan analisis yang ada kurang diulas secara mendalam. Mahasiswa seharusnya dididik untuk mengerjakan makalah setahap demi setahap, mulai dari judul, diskusi, outline, sampai finalisasi makalah. “Saya tidak mau mahasiswa membuat paper istilahnya seperti sulapan yang berakibat pada kurang baiknya kualitas paper tersebut, tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

Bambang juga selalu mencoba transparan. Setiap akhir semester, ia memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk melihat nilai. Jika ada mahasiwa yang tidak puas, tumpukan makalah dan tugas selama dua semester tersebut mampu menjawabnya.

Belajar dari Mahasiswa

Tantangan terbesar menjadi seorang dosen adalah terus belajar. Ia menyukai mahasiswa kritis sehingga membuat sang dosen belajar dan memperdalam ilmunya kembali. Proses ini dirasa sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas kedua belah pihak. Dosen memberikan dasar yang diperlukan sementara mahasiswa yang mengembangkan.

Diakuinya, mahasiswa masa kini semakin cerdas dan merupakan calon pemikir yang mumpuni.“Jadi dosen itu kan belajar dengan orang dewasa, dengan calon orang hebat yang lebih baik dari kami. Jadi kami senang berdiskusi dengan mahasiswa mengenai berbagai pengetahuan dan pengalaman,” jelasnya. Selain itu, penelitian kolaboratif antara dosen dan mahasiswa menjadi tantangan tersendiri bagi para dosen untuk menciptakan pemikir yang objektif, rasional, jeli, sekaligus inovatif.  

Tidak Perlu Cerdas

Menurut Bambang, untuk menjadi seorang dosen, tidak diperlukan kecerdasan luar biasa. Seseorang hanya perlu mau belajar dari nol, setahap demi setahap, dan pantang menyerah untuk bisa menjadi seorang dosen. Seorang dosen harus mampu menjawab semua kebutuhan-kebutuhan peserta didiknya dan beradaptasi dengan zaman, lebih-lebih dapat menemukan hal-hal baru, berinovasi, dan mau terus belajar.


Selain itu, selayaknya dosen juga menelurkan beragam karya ilmiah maupun karya-karya lain yang berhubungan dengan kemasyarakatan secara langsung. Dengan demikian, jabatan ini akan lebih menyenangkan karena berguna bagi orang lain.“Karena hidup ini akan bermakna kalau saling berbakti, berbagi, mandiri, dan juga inovatif,” pungkasnya. [CN]



Penulis         : Dewi Ayu N.

Editor           : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Fotografer   : Muhammad Rizal

  
 

Tags : antropologi, tokoh dosen UGM, profil pendidik Indonesia
Dr. Bambang Hudayana, M.A: Membunuh Jenuh dengan Berinovasi | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png