Office Hour, Kamis, 27/03/2014 09:00 WIB

Rendrasta Duta Angsana: Memiliki Jiwa Seni adalah Keharusan

Dalam mengekspresikan seni, setiap orang tentunya memiliki cara yang  berbeda. Mungkin salah satunya adalah dengan menjadi designer dan layouter buku.
Rendrasta Duta Angsana: Memiliki Jiwa Seni adalah Keharusan
Keinginan untuk memiliki pekerjaan dengan hasil kerja yang dapat dilihat secara langsung, menjadi motivasi Rendra menekuni pekerjaan sebagai designer dan layouter Andi Publishing sejak 11 tahun silam. “Itu memang cita-cita saya sejak dulu,” ungkap pria kelahiran 15 Maret 1972 ini sambil tersenyum kecil.
Sejak tahun 1999, Rendra mulai mencari pekerjaan di berbagai tempat. Sebelum akhirnya bergabung dengan Andi Publisher, ia sempat menekuni tiga pekerjaan di tempat yang berbeda. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai salah satu kepala bidang di sebuah toko alat tulis di Yogyakarta. Beberapa waktu kemudian, ia berpindah pekerjaan sebagai marketing buku di perusahaan yang berbeda.

Kemudian yang ketiga, ia menjadi seorang fotografer dan layouter di salah satu tabloid di Yogyakarta. Sayangnya, saat itu tabloid tersebut terbilang baru sehingga terseok-seok dan akhirnya kolaps. Setelah itu, barulah akhirnya Rendra bergabung ke Andi Publisher di bagian desain dan layout.

Bagi Rendra, menemukan sebuah buku di toko dengan kover hasil karya miliknya memunculkan kebanggaan tersendiri. Itulah sebabnya ia menyukai pekerjaannnya ini. Di samping itu, ia memang memiliki passion di bidang desain buku karena desain grafis telah menjadi latar belakang pendidikan yang ditempuhnya saat D3 dulu. “Saya juga pernah membuka usaha mandiri yang berkaitan dengan desain,” ujar alumni Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Akademi Desain Visi Yogyakarta (STSRD ADVY) itu.

Antara Kejenuhan dan Kreativitas

Menggeluti bidang yang sama selama belasan tahun, tak lantas membuat Rendra merasa bosan. Ia mengatakan, pekerjaan ini sangat dinikmatinya. “Meskipun ya kadang jenuh, namanya juga pekerjaan,” ujarnya sambil terkekeh. Namun demikian, karena pekerjaan ini telah lama ditekuninya, ia tidak mudah menyerah.

Kejenuhan melanda ketika misalnya menangani proyek sebuah buku berupa teks yang cenderung kaku dan tidak membutuhkan kedinamisan desain serta layout, misalnya buku pelajaran. Kejenuhan dan kebosanan ini telah dipahami dengan baik oleh kepala bagian. Pada proyek berikutnya, ia diserahi tanggung jawab untuk mendesain buku populer. Jenis buku ini memungkinkan para desainer dan layouter untuk bermain dengan warna dan font yang beragam.

“Pekerjaan ini butuh pikiran yang fresh biar kreatifnya muncul, kepala bagian sudah memahami itu,” jelas Rendra. Selain itu, Rendra juga sesekali menyegarkan pikirannya dengan berjalan-jalan melihat buku-buku. Cara ini juga efektif untuk mencari referensi dalam mendesain buku. “Referensi juga kami cari dari internet,” paparnya.

Rendra menceritakan, sekian tahun bekerja di bagian desain dan layout membuatnya terbiasa memikirkan desain dengan cepat. Jika mendengar sebuah judul, otaknya mulai merangkai rancangan desain yang kira-kira akan dibuat. Ada bayangan yang diciptakannya dengan cepat. Namun terkadang, mendesain juga menjadi sesuatu yang sulit. Apalagi saat mendengar judul buku yang asing dan cukup rumit untuk dipahami. “Itulah gunanya mencari referensi,” jelasnya.

Saat mendesain, terutama untuk desain kover, paling tidak ia harus memahami dulu sinopsis dari buku, termasuk sasaran pembaca yang dituju oleh buku tersebut. Pembagian tugas antara desainer dan layouter ditentukan berdasarkan proyek sehingga satu buku akan ditangani oleh desainer dan layouter yang berbeda.

Kendala Mendesain dan Layout

Bekerja di bidang yang mengandalkan kreativitas tentu saja harus siap menerima dan mengelola banyak masukan ide dari rekan seprofesi. Terkadang terjadi perbedaan pendapat saat diadakan diskusi dalam menentukan desain dan layout yang sesuai. “Misalnya menentukan desain kover, bagian mana yang akan menjadi eyecatching, itu saja sering menjadi perdebatan,” ungkap Rendra.

Hal ini biasanya dapat diatasi dengan kebijakan direksi. Pengajuan desain ke direksi berjumlah dua, salah satunya akan dipilih sebagai kover. “Kadang kita yakin dengan satu desain, tapi yang dipilih ternyata yang satunya,” ujar Rendra.

Kesulitan lain yang muncul adalah saat penulis juga mengajukan desain sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa penulis yang mau menerima revisi tetapi ada beberapa pula yang keberatan sehingga mau tidak mau desain harus tetap digunakan. Padahal, baik desainer mapupun layouter berpendapat bahwa desain tersebut kurang sesuai. Biasanya, sebisa mungkin hal tersebut akan didiskusikan dengan penulis agar desain yang diajukan ke direksi sesuai dengan yang diharapkan oleh layouter serta penulis.

Kendala lain yang sering muncul adalah permintaan penulis terhadap suatu ilustrasi tertentu. Sedangkan untuk mencari ilustrasi tersebut tidak mudah.

Kendati demikian, Rendra tidak menganggap pekerjaannya ini menyulitkan. Pekerjaan yang mengandalkan kreativitas ini baginya justru menyenangkan meskipun harus berjibaku dengan sekian pendapat agar mencapai kesepakatan yang diharapkan. Baginya, desain dan layout itu menarik, seperti bermain-main saja dengan warna dan bentuk. “Yang terpenting adalah harus punya jiwa seni, sehingga bisa menghasilkan karya yang sesuai dan tentunya tepat sasaran,” ujarnya sambil mengembangkan senyum.

Nah, kalau Anda, bagaimana cara Anda mengekspresikan seni? [CN]

Penulis       : Ratih Wilda O. Editor         : Vinia Rizqi P Fotografer : Dimas Tri.U Tags : job desc designer layouter, layouter majalah dan buku, job desc penerbitan buku
Rendrasta Duta Angsana: Memiliki Jiwa Seni adalah Keharusan | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png