Freelance, Senin, 17/03/2014 00:00 WIB

Kharisma Jati: Komikus Harus Pandai Tangkap Peluang

Bekerja dalam lingkup industri kreatif menjadi salah satu peluang yang juga dapat menjamin masa depan.
Kharisma Jati: Komikus Harus Pandai Tangkap Peluang
Saat kecil, ia bermimpi menjadi seorang ilmuwan. Namun siapa yang menyangka, ayah dari Yasjudan Putra Kharisya ini, kini telah menjadi salah satu komikus nasional kenamaan.
Dia adalah Kharisma Jati atau akrab disapa dengan K. Jati, seorang komikus yang telah sukses menelurkan beragam karya. Sebut saja, Anak Kos Dodol dan yang  terbaru, 17+.


Terlahir dari keluarga seniman, ayah seorang pelukis dan ibu seorang guru tari, K. Jati  tumbuh menjadi anak berjiwa seni. Tidak hanya komik, beragam seni visual seperti ilustrasi, animasi, bahkan melukis pernah ia geluti. Namun, panggilan untuk mengembangkan perkomikan Indonesia membuatnya berkonsentrasi pada komik. “Saya meniatkan untuk berhenti animasi, saya merasa perlu menghidupi komik dulu,” ungkap K. Jati.


Tahun 2003, saat perkomikan Indonesia tengah lesu, K. Jati dengan berani meninggalkan bangku sekolah. Saat itu, ia telah menjadi komikus profesional, bahkan mulai mengirimkan karyanya ke salah satu penerbit nasional. Meskipun pekerjaan sebagai animator lebih menjanjikan, ia menemukan suatu kekosongan yang perlu diisi yaitu komik.    


Tanpa Jam Kantor


Bekerja sebagai komikus membuat K. Jati tidak memiliki jam kerja seperti pekerja kantoran. Jam kerja menyesuaikan jadwal sang istri, Syafhenny Asruni, ke kantor. Mencari inspirasi, menggambar, bahkan melakukan editing dilakoninya dari pagi sampai sore hari. Inspirasi karyanya berasal dari beragam media seperti film, musik, dan komik. Namun, sumber utama inspirasinya berasal dari buku-buku nonfiksi tanpa gambar, yaitu buku filsafat, psikologi, dan ilmu sosial.


Komik memang sulit dibuat menjadi sesuatu yang benar-benar menguntungkan. Ia harus pandai-pandai mencari peluang pasar yang perlu dipenuhi. Seorang komikus tidak bisa membuat karya begitu saja, lalu memaksakannya kepada pembaca. Memang dibutuhkan kejelian, bagaimana dapat memuaskan pembaca tanpa mengurangi idealisme sang komikus.


Apresiasi dalam Negeri


Kesulitan terbesar komikus Indonesia adalah memiliki tempat di negerinya sendiri. Monopoli komik impor masih sulit untuk ditembus sehingga banyak komikus yang banting setir karena tidak terdukung dari segi finansial. Sama halnya dengan K. Jati, setelah ia terlibat dengan proyek komersial Anak Kos Dodol, ia baru mendapatkan nama. Padahal sudah sejak lama ia berkarir.


Akan tetapi, kekompakan antarkomikus dirasa sebagai faktor pendukung utama karena sekarang komikus masih bekerja sendiri-sendiri. Belajar dari Jepang, pada awalnya komik Jepang hanya berorientasi pada bisnis. Namun karena kompak, mereka mampu memenuhi kebutuhan di dalam dan luar negeri.


Banyak Dukungan


Kesuksesan K. Jati tak lepas dari besarnya dukungan keluarga. Di usia muda, K. Jati diizinkan untuk tak bersekolah dan terus menggambar. “Saya berhenti sekolah saja diizinkan, jadi saya kelas dua keluar, lalu nyoba lagi, tapi enggak sampai satu semester keluar lagi, ya nggambar aja,” ujarnya menerangkan.


Dukungan lain juga berasal dari sang istri dengan memberikan kebebasan kepada K. Jati untuk menggambar apapun, asalkan berkualitas. Dari sisi psikologis, hal ini tentu sangat membantu. Lalu, bagaimana dengan peran pemerintah?


Campur tangan pemerintah dinilai cukup membantu mempromosikan komik dalam negeri walau persentasenya masih sedikit. Misalnya, instruksi untuk memberikan rak tersendiri bagi komik lokal pada beberapa toko buku. Memang sejak awal, para komikus sadar betul bahwa mereka tidak dapat bergantung kepada pemerintah. “Sejak awal, teman-teman komik sudah paham bahwa kita enggak bisa ngandalin mereka (pemerintah-Red), kita harus bisa usaha sendiri,” ujarnya.

Komitmen Komikus


Saat ini Indonesia  membutuhkan banyak komikus muda yang serius untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harus ada komunikasi yang baik antara pelaku industri, komikus, dan masyarakat. Kekuatan utama komik Indonesia adalah adanya keberagaman budaya. Jika ini digarap dengan baik, komik Indonesia mampu dijual ke luar, khususnya ke barat. “Kita bisa lebih besar dari Jepang karena potensi budaya kita lebih kompleks.”


Selain konteks budaya, komikus juga harus mampu melihat kebutuhan pasar. Tidak hanya mengikuti tren saja, komikus juga harus mampu menemukan segmentasi pasarnya sendiri. Jika target pembaca adalah remaja, komikus juga harus paham betul dunia remaja saat ini, lebih-lebih remaja di masa depan. “Jangan menyerah, selalu ada celah untuk mendukung,” tutupnya.a


Ingin menjadi komikus seperti K. Jati? Jangan patah semangat ya. K. Jati pun akan siap membantu Anda. [CN/DEWI/VINIA/DIMAS]^^


Penulis        : Dewi Ayu N.

Fotografer  : Dimas Tri U.

Editor         : Vinia Rizqi, Rifki Amelia



Tags : tip sukses industri kreatif, job desc bar 2014, menjadi komikus sukses,
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik Freelance,
Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis Freelance,
Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto Freelance,
Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Kharisma Jati: Komikus Harus Pandai Tangkap Peluang | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png