Office Hour, Rabu, 12/03/2014 00:00 WIB

Theresia Arie Prabawati: Menemukan Passion Lewat Pengalaman

Menemukan passion lewat pengalaman? Bagaimana caranya? Simak artikel berikut ini yuk!
Theresia Arie Prabawati: Menemukan Passion Lewat Pengalaman
Berawal dari ajakan teman-temannya untuk menjadi freelance editor, Theresia Arie Prabawati mulai menemukan passion-nya di bidang editing. Terlebih saat itu, ia masih berstatus mahasiswa Sastra Inggris sehingga ia pun terbiasa pula menerjemahkan naskah.

Kini,  kedua hal tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya. “Saya freelance di beberapa tempat, di salah satu penerbit kecil di Jogja, proyek LSM, atau mengedit jurnal kampus,” papar perempuan yang akrab disapa Arie ini. Kesibukan itu ia lakukan menjelang semester akhir pendidikan S1 Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.


Beruntung bagi Arie, kuliahnya memang mendukung aktivitas saat itu sebagai editor maupun translator. Sehari-hari, materi kuliahnya berhubungan dengan tulisan, naskah, dan buku. Tugas dosen pun membuatnya terbiasa membaca, translate, dan mengoreksi tulisan. Tentu saja, kuliah di bidang sastra membuat ketatabahasaan menjadi konsumsinya sehari-hari. Kebetulan, saat itu ia membaca iklan lowongan di salah satu surat kabar, maka ia pun mendaftar dan bekerja di Andi Publisher hingga saat ini. “Saya ikuti tesnya, dan akhirnya diterima. Sampai saat ini posisi saya memang di bagian editing and translating, tergantung proyek yang sedang dikerjakan,” ujar Arie sambil mengembangkan senyumnya.


Menemukan Passion


Terbiasa mengedit dan menerjemahkan naskah saat masih berstatus mahasiswa, membuat Arie mulai menikmati aktivitas tersebut. Ia mulai menyadari bahwa bergelut dengan naskah merupakan hal yang bisa dinikmatinya. “Saya mulai sadar kalau seni mengoreksi dan menerjemahkan naskah itu ternyata hal yang menyenangkan,” ungkap perempuan asli Yogyakarta ini.


Pada awalnya, status Arie hanya sebagai editor. Namun kemudian, pokok pekerjaannya berkembang tidak hanya mengedit naskah, tetapi juga sebagai penerjemah naskah berbahasa Inggris. Dalam hal ini, pendidikan Sastra Inggris yang pernah ditempuhnya sangat membantu dalam kelancaran pekerjaan. Perkuliahan membuat Arie merasa dibuka pandangannya, bahwa ternyata banyak bidang pekerjaan yang berkaitan dengan pendidikannya saat itu. 


Tak Melulu Mengoreksi


Sepintas dalam benak setiap orang, mendengar kata ‘editing’ adalah tentang mengoreksi dan membenahi naskah sehingga siap untuk dicetak dan dipasarkan. Menurut Arie, pekerjaannya sebagai editor tak hanya berkutat dengan editing naskah. Editor juga bertugas melakukan penilaian terhadap naskah yang masuk. Naskah-naskah yang lolos akan masuk ke bagian direksi untuk diputuskan mana yang akan diproses menjadi sebuah buku yang layak untuk dipasarkan.


Penilaian editorial ini bisa dilakukan oleh beberapa editor untuk diuji kelayakannya dari berbagai segi. Biasanya, editor yang melakukan penilaian ini sudah ditunjuk oleh kepala editor. “Jika tidak sedang menangani naskah lain, editor itu akan ikut melakukan penilaian terhadap naskah,” jelas Arie.


Penilaian naskah meliputi berbagai segi. Ada naskah yang dipilih karena konten, misalnya topik yang sedang tren saat ini untuk menarik minat pembaca. Untuk itu editor pun harus memahami topik saat ini yang sedang ramai dibicarakan, editor harus mengetahui apa yang sedang menjadi trending topic. Sebuah naskah akan dinilai dari segi editorial, keilmuan, dan pangsa pasar. Forum editor akan mengumpulkan masukan dan saran dari beberapa editor terhadap penilaian suatu naskah. Naskah akan dibahas dan didiskusikan dengan matang oleh para editor sebelum diputuskan oleh pihak direksi.


Buku Membuka Wawasan


Ditanya mengenai kesulitan menjadi editor maupun penerjemah, Arie mengungkap permasalahan terletak pada naskah. “Banyak naskah yang sekadar kejar target, jadi kami harus ekstra bekerja bagaimana membuatnya agar layak untuk dibaca,” ujar perempuan yang lahir pada 6 Mei 1981 ini.


Namun demikian, di luar hal itu, Arie sangat menikmati pekerjaannya. “Dari segi waktu, tanggung jawab, dan passion, semuanya terpenuhi.” Karena itulah, Arie tetap bertahan pada profesi editor dan penerjemah meskipun telah bertahun-tahun yang lalu pekerjaan ini dilakoninya.


Arie  juga mengatakan, editor diharuskan membaca keseluruhan naskah dengan teliti dan cermat. Hal ini banyak memberikan tambahan ilmu dan wawasan, terutama jika topik yang dibahas merupakan topik yang diminati. Arie mengatakan, ia sadar dirinya bukan tipe pekerja outdoor. Namun dengan profesinya sebagai editor, ia mampu membuka jendela pengetahuan dan wawasan melalui buku yang telah menjadi santapan sehari-harinya. “Kami punya tingkat kesibukan yang sama dengan pekerja outdoor, hanya saja jenis kesibukannya berbeda,” paparnya menutup perbincangan.


Semoga bermanfaat ya! [CN/RARA/VINIA/DIMAS]^^ Tags : cara menemukan passion, menemukan passion lewat pengalaman, jod desc editor buku, bisnis bidang percetakan
Theresia Arie Prabawati: Menemukan Passion Lewat Pengalaman | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png