Office Hour, Jumat, 07/03/2014 00:00 WIB

Andang Suhana: Cermat dan Teliti adalah Bekal Utama

Apa bekal yang harus dimiliki oleh seorang korektor? Jawabannya simpel saja: cermat dan teliti.
Andang Suhana: Cermat dan Teliti adalah Bekal Utama
Memulai karir dengan UMKM pada tahun 2006, kini Andang Suhana telah resmi menjadi korektor di Andi Publisher sejak satu tahun yang lalu. Pria yang akrab disapa Andang ini sebelumnya sempat menjalankan bisnis percetakan spanduk dan servis handphone pasca lulus dari jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Memulai karir dengan UMKM pada tahun 2006, kini Andang Suhana telah resmi menjadi bagian dari korektor di Andi Publisher sejak satu tahun yang lalu. Pria yang akrab disapa Andang ini sebelumnya sempat menjalankan bisnis percetakan spanduk dan servis handphone pasca lulus dari jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Memulai dari Bisnis Kecil

Usaha mandiri yang dikerjakan oleh Andang dimulai sejak ia lulus kuliah D2 PGSD. Mulai dari usaha servis handphone hingga cetak spanduk dan itu ia kelola sendiri. Meskipun untuk bagian proses cetak ia bekerjasama dengan pihak lain. Selama tiga tahun, usaha tersebut ia jalankan. Pada tahun 2009, ia kembali menekuni pendidikannya untuk melanjutkan ke jenjang S1 di universitas yang sama.

Pada awal tahun 2013, Andang mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan gloves golf yang terletak di Bantul. Namun ia hanya bertahan selama tiga minggu disana, sebelum akhirnya datang panggilan dari Andi Publisher. “Waktu itu baru training di perusahaan Bantul itu, tapi saya lebih memilih untuk masuk penerbit ini,” jelasnya. Saat itu, ia memang lebih dulu memasukkan lamaran ke Andi Publisher. Namun perusahaan sarung tangan golf itu yang lebih cepat menanggapi. “Memang agak tidak etis karena baru tiga minggu, tapi saya memang minatnya di bidang percetakan,” papar Andang sambil tertawa kecil.

Meniti Karir sebagai Korektor

Sejak bulan Februari 2013, Andang telah melahap banyak naskah untuk dikoreksi. Kelengkapan naskah dari segi bahasa dan tata letak akan dikoreksi oleh korektor setelah melalui tahap pertama. Hal-hal yang dicek meliputi kelengkapan huruf, kelengkapan halaman, header, footer, dan terakhir, korektor membuat miniatur buku dari naskah tersebut. Miniatur itu berguna sebagai pedoman saat mencetak naskah menjadi buku jadi yang siap didistribusikan.

Meskipun terkesan mudah, namun korektor memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Posisinya yang berada di paling akhir perjalanan naskah sebelum masuk tahap cetak, membuat seorang korektor harus ekstra hati-hati dalam mengoreksi naskah. “Meskipun tidak ada yang memaksa agar hasilnya sempurna, tapi kami merasa mengemban tanggung jawab besar,” tukas Andang.

Suatu ketika, karena lolos dari pengamatan, ada kover sebuah buku yang terdapat kesalahan kata. Kover tersebut telah tercetak beberapa eksemplar. Akhirnya harus dicetak ulang. “Apalagi saat ini saya sering mendapat tugas sebagai korektor kover, beban tanggung jawabnya semakin besar.” Kover buku menjadi face of book, yang memberikan kesan pertama bagi pembaca. Jika ada kesalahan sekecil apapun, akan berakibat fatal. Untuk itu, korektor naskah cover meskipun terbilang hanya mengoreksi sedikit, namun harus sangat teliti. “Kalau ada salah di naskah, bisa diubah kemudian diselipkan cetakannya. Kalau cover kan tidak bisa, ya diganti” papar pria asli Gunungkidul ini.

Dalam sehari, Andang bisa melahap 2-3 naskah untuk dikoreksi. Banyaknya buku yang ia koreksi tergantung order yang masuk. “Senjata korektor hanya satu, yaitu kamus,” ujar Andang. Jika terdapat istilah asing dalam naskah, Andang harus memastikan ejaan dari setiap kata tersebut sudah benar. Memang memakan waktu lebih lama dibandingkan mengoreksi naskah berbahasa Indonesia yang cenderung lebih familiar. Namun semua harus diteliti kembali agar tidak terdapat kesalahan sekecil apapun.

Kecepatan dalam mengoreksi naskah pun sangat beragam. Tergantung dari jenis naskahnya. Untuk naskah yang mengandung banyak istilah asing, tentu lebih menyita waktu. Selain itu, naskah matematika dan ilmu computer yang mengandung banyak rumus serta simbol, juga memakan lebih banyak waktu. Untuk naskah seperti novel misalnya, pengerjaan bisa lebih cepat. “Sejauh ini yang saya kerjakan rata-rata lebih dari 150 halaman, bisa lebih dari dua dalam sehari.”

Menikmati Pekerjaan

Beberapa kendala yang telah dihadapi, tetap membuat Andang menikmati pekerjaannya saat ini. Padahal, tidak jarang ia dikejar deadline, namun tetap harus teliti mengoreksi naskah. “Beda dengan editor, korektor kalau sudah dikejar deadline, skip saja. Baca cepat, asalkan tetap teliti,” ujar pria yang kini telah menetap di Jalan Sambisari, Sleman ini.

Ditanya mengenai bagaimana seharusnya menjadi korektor, ia menjawab dengan mantap. “Syarat utamanya hanya dua; cermat dan teliti,” tegasnya. Kedua hal itu menjadi syarat mutlak bagi seorang korektor seperti Andang.

Andang pun merasa bahwa lingkungan kerjanya pun sudah sangat nyaman dan bersahabat. Karir yang tengah ditekuni saat ini pun ia jalani dengan sebaik-baiknya. Meskipun ada beberapa target yang belum sempat terwujud, namun ia tidak patah semangat. “Apa yang saya dulu inginkan tapi belum tercapai, saya anggap ini adalah jalan untuk berusaha meraih yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Semoga bermanfaat! [CN/RARA/DIMAS/VINIA]^^
Tags : korektor naskah buku, andi offset Yogyakarta, job desc korektor naskah buku
Andang Suhana: Cermat dan Teliti adalah Bekal Utama | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png