Office Hour, Senin, 17/02/2014 14:00 WIB

Edwi Saptowoko: Jalin Komunikasi, Minimalisir Konflik

Komunikasi dengan karyawan adalah salah satu senjata ampuh untuk menciptakan semangat kekeluargaan.
Edwi Saptowoko: Jalin Komunikasi, Minimalisir Konflik
Pengalaman bekerja di perusahaan manufaktur selama sekian tahun tak membuat Edwi Saptowoko menyerah pada ranah industri kreatif. Ia justru menemukan banyak hal baru yang bisa ia temukan di pekerjaan yang kini digelutinya. Meski posisinya tetap di bagian HRD, dinamika yang berbeda dari sebelumnya sangat dirasakannya.

Edwi, begitu ia sering disapa, sebelumnya telah bekerja selama 5 tahun di perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. Ia bekerja di bagian ekspor-impor perusahaan kayu di Temanggung, Jawa Tengah. Kemudian, perusahaan memindahkannya ke cabang perusahaan di daerah Batang, Jawa Tengah, sebagai HRD. “Saat itu di sana sedang membutuhkan HRD, kemudian saya pun dipindah,” jelasnya. Selama tiga tahun ia bekerja sebagai HRD di perusahaan kayu tersebut, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan di Yogyakarta.


Keinginannya untuk pindah dikarenakan ia baru saja menikah, sedangkan istrinya tinggal di Yogyakarta. Saat itu mereka sepakat untuk pindah kerja, entah ia yang pindah ke Yogyakarta, atau istrinya yang pindah ke Batang. “Kebetulan, saya dulu yang mendapatkan pekerjaan di Jogja,” paparnya. Kebetulan pula, saat itu lowongan yang ada adalah sebagai HRD di Penerbit Bentang Pustaka. Maka sejak pertengahan tahun 2012, Edwi resmi menjadi bagian dari penerbit buku ternama yang terletak di Yogyakarta itu.


Dinamika Lingkungan Kerja yang Berbeda


Jenis perusahaan yang sangat berbeda tentu memberikan ritme kerja dan dinamika yang berbeda pula bagi Edwi. Sebetulnya, di tempat kerja yang sebelumnya ia sudah menemukan kenyamanan. Namun karena alasan ingin pindah domisili itulah, ia memutuskan untuk tetap mencari tempat kerja yang baru.


Di perusahaan kayu tempat ia bekerja sebelumnya, ada 500 karyawan yang bekerja di sana. Dengan tempat kerja yang berupa pabrik, karyawan di sana adalah tenaga kasar yang bermental keras. Mereka memiliki disiplin yang sangat tinggi sehingga hal itu justru membuat mereka lebih mudah diatur. Berbeda dengan industri kreatif seperti penerbit di mana orang-orang di dalamnya lebih fleksibel. “Namun, itu justru cenderung memiliki dinamika dan kesulitan yang lebih beragam. Mereka punya pendirian yang teguh,” jelas Edwi.


Perbedaan yang mencolok pada lingkungan kerja ini tidak membuatnya sulit beradaptasi. Justru di Bentang Pustaka, ia lebih cepat beradaptasi. Hal ini dikarenakan lingkungan kerja yang akrab dan kekeluargaan sehingga Edwi merasa tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Justru di sini, ia merasa pendekatan secara personal lebih mudah. Di samping karena jumlah karyawan yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya, juga karena mereka lebih mudah diajak berkomunikasi.


Bekerja Sesuai Passion


Bentang Pustaka dikenal sebagai penerbit yang banyak menerbitkan berbagai macam genre buku. Namun sebenarnya, Edwi tidak gemar membaca genre fiksi. Ia lebih suka membaca buku berjenis nonfiksi. Namun demikian, hal tersebut tak mengganggu kinerja perusahaan. Masing-masing posisi memiliki tugas yang berbeda-beda. “Jika ingin merekrut karyawan baru, saya selalu melihat passion mereka. Sesuai tidak dengan posisi yang dilamar,” ujarnya.


Bagi pria lulusan manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini, bekerja sesuai passion akan membuat karyawan menjalani pekerjaannya dengan senang hati. Output yang dihasilkan pun akan berbeda dibandingkan mereka yang bekerja hanya demi mendapatkan uang. Itulah mengapa ia sangat mementingkan passion saat melakukan rekrutmen karyawan. “Sangat menyenangkan kalau bisa bekerja sesuai minat dan hobi,” paparnya.


Lalu bagaimana dengan passion Edwi? Pengalaman bekerja sebelumnya telah membuat Edwi menemukan passion. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di bagian keuangan salah satu perusahaan di Cianjur pada tahun 2007. Kemudian, ia memutuskan pindah ke perusahaan kontraktor di daerah Bekasi. Belum lama kemudian, ia pindah ke daerah yang lebih dekat, di perusahaan keramik Semarang. Barulah kemudian ia kembali ke kota asalnya, Temanggung, untuk bekerja di bagian ekspor-impor perusahaan kayu. Setelah beberapa waktu, ia ditawari sebagai HRD di cabang perusahaan yang ada di Batang.


Menjadi seorang HRD adalah tantangan baru bagi Edwi. Ia sempat merasa kesulitan saat mengampu tanggung jawab tersebut karena harus mengelola ratusan karyawan pabrik. Apalagi di perusahaan tersebut, dinamika konflik lebih banyak. Itu mendatangkan tekanan yang sangat berat bagi Edwi. Namun ia tidak menyerah begitu saja. Lama kelamaan, ia mulai menemukan kenyamanan di posisi tersebut. Bahkan saat ia harus pindah karena alasan domisili pasca menikah, ia pun dengan mantap memutuskan melamar lowongan posisi HRD yang sedang dibuka oleh Bentang Pustaka. Pengalaman sebelumnya membuat pekerjaannya saat ini tidak terasa berat.


Menjalin Komunikasi dengan Karyawan


Tantangan menjadi seorang HRD dirasakan Edwi terletak pada interaksi dengan karyawan. Bagaimana seorang HRD berusaha menjalin hubungan dan komunikasi yang baik kepada seluruh karyawan. Interaksi dengan banyak karyawan dengan karakter yang berbeda pula, memberikan tantangan tersendiri bagi Edwi. “Karena orang berbeda-beda, dan punya keinginan yang berbeda pula,” paparnya.


Terlebih saat harus menyampaikan kebijakan direksi kepada karyawan, HRD harus bertanggung jawab terhadap hal tersebut. “Bisa saja kebijakan itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karyawan, tugas HRD untuk menyampaikannya agar bisa diterima dengan baik,” terang pria kelahiran Temanggung 12 Juli 1981 ini. Hal ini adakalanya menjadi kesulitan dan kendala yang dialaminya saat menjadi HRD. Namun sejauh ini ia berusaha untuk meng-handle dengan baik. Ia melakukan pendekatan kepada karyawan secara personal sehingga tekanan yang sebelumnya diterima, perlahan mulai hilang. Namun hal ini juga tergantung dari iklim kerja sebuah perusahaan.


Menurutnya, lingkungan kerja dan karyawan perusahaan sangat penting dan berpengaruh. “Itu bisa menjadi faktor penting bagi kenyamanan kerja kami sebagai HRD,” pungkas Edwi.


Tertarik untuk menjadi HRD? Yuk, kejar mimpimu dan bersiaplah menghadapi persaingan. [CN/RARA/ANGGA/VINI]^^

Tags : komunikasi dengan karyawan, job desc HRD, perusahaan penerbitan, tip membina hubungan dengan karyawan
Edwi Saptowoko: Jalin Komunikasi, Minimalisir Konflik | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png