Office Hour, Selasa, 10/12/2013 14:00 WIB

Arbain Rambey, Sang Insinyur Fotografi

Sungguh mengasyikkan apabila hobi dapat berubah menjadi profesi. Yuk, simak artikel berikut ini.
Arbain Rambey, Sang Insinyur Fotografi
Hobi bisa juga bisa jadi profesi. Bekerja dari hobi memang menyenangkan karena Anda bekerja sekaligus melakukan hal-hal yang disukai. Salah satu contohnya adalah Arbain Rambey dimana profesinya sebagai seorang fotografer bermula dari kesukaannya terhadap dunia fotografi.

Seperti dituturkan kepada kami, Arbain sendiri tidak tahu bagaimana awalnya ia bisa menyukai dunia fotografi. Kedua orang tuanya pun tak pernah menuntutnya untuk terjun di dunia fotografi. Yang ia tahu, sejak duduk di bangku SMP di kota Semarang, ia suka merapikan foto. “Saat itu ada ekstrakurikuler cuci cetak untuk kelas tiga, tapi saya baru kelas satu. Tapi karena saya berminat, saya boleh ikut, katanya pengecualian,” kenangnya.


Ketika duduk di bangku SMA, Arbain Rambey mengikuti berbagai kegiatan pecinta alam. Ia gemar mendaki gunung bersama teman-temannya. Saat itu, ia kurang puas melihat foto hasil jepretan teman-temannya. Akhirnya ia yang kemudian banyak memotret sambil mendaki gunung. Setelah lulus SMA, Arbain melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kala itu ia punya hobi lain, yaitu jalan-jalan. Dari situlah ia mulai lebih banyak memotret meskipun hanya memakai kamera orang. “Kameraku jelek waktu itu,” tuturnya.


Tahun 1988, setelah lulus kuliah, Arbain mulai bekerja di Papua. Sebulan setelah bekerja, ia membeli kamera pertamanya, Nikon F-301 dengan lensa 3515, seharga Rp 750.000. Masih diingatnya toko tempat ia membeli kamera itu, yakni di Niaga Foto Bandung. Selama di Papua, teman-temannya sering jalan-jalan. Semua kegiatan jalan-jalan ia abadikan dengan kamera itu. Hingga kemudian hasil fotonya mrndapat komentar positif oleh seorang wartawan Tempo saat Arbain berkesempatan pameran di Eropa dan Amerika. “Kamu bukan insinyur, tapi fotografer,” komentar wartawan tersebut.


Itu adalah kali pertama ada orang yang mengatakan fotonya bagus. Profesinya sebagai insinyur pun menurutnya tidak cukup baik. Hal itu mendorongnya untuk melamar menjadi fotografer di harian Kompas pada tahun 1990. Diterima di Kompas, Arbain dibimbing oleh para senior yang banyak membawa kemajuan dalam karirnya.


Sejak bekerja di Kompas, kemampuan fotografinya meningkat pesat. Apalagi peralatan fotografi sudah disubsidi oleh kantor. Jika ada kamera keluaran terbaru, Arbain pun diizinkan untuk menggunakannya paling dulu. Baginya, sangat menyenangkan mengerjakan sesuatu yang disenangi. “Kerja jangan cuma mencari kekayaan. Saya bisa hidup dari apa yang bisa saya senangi,” ujarnya.

Aktivitas Fotografi Paling Menantang


Ditanya mengenai alasannya terjun ke dunia fotografi, Arbain sendiri menjawab  tidak tahu. Baginya, ia hanya tahu ia suka fotografi. Ia suka menangkap momen-momen di sekitarnya melalui gambar.  “Seperti orang buat puisi, kenapa suka? Ya karena suka saja,” jelas fotografer yang masih memiliki keinginan memotret fenomena aurora borealis ini.


Menjadi fotografer tidaklah mudah tetapi juga tidak serumit yang dipikirkan. Arbain menjelaskan syarat utama menjadi fotografer adalah mengetahui dasar-dasar fotografi. Bila ingin menekuni fotografi jurnalistik, setidaknya seseorang harus mengamati informasi dan berita terbaru, baik dari koran maupun media massa lainnya. “Kalau tidak pernah baca koran, jangan pernah berpikir menjadi wartawan. Pemahaman dasar yang baik terhadap bidang yang hendak ditekuni itu sangat penting,” tegasnya.


Keinginan menjadi fotografer di bidang jurnalistik tidak hanya didasari hobi tapi juga karena ada dorongan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Ia mengatakan, jurnalistik sama halnya seperti mendongeng. Kalau hanya diceritakan apa adanya, tidak akan menarik. Harus ada sedikit bumbunya, dengan gaya bahasa, dengan selingan yang mengundang pembaca untuk menikmati karya jurnalistik tersebut. Tanpa harus menyampaikan kebohongan atau fakta yang direkayasa. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Fotografer pun ikut andil dalam menyampaikan kebenaran itu.


Bila seseorang ingin menjadi fotografer, ia harus turun lapangan dan berlatih. Jangan hanya mengandalkan informasi dari buku. Bagi Arbain, ilmu yang benar hanya bisa didapatkan dari berlatih dan praktik secara langsung. Hal ini dimaksudkan agar fotografer mengerti akan teknik dan kondisi yang akan dihadapi saat menjadi fotografer yang sesungguhnya.

In photography there is a reality so subtle that it becomes more real than reality_Alfred Stieglitz_

Menjadi fotografer juga berarti harus menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai situasi yang tidak menyenangkan. Arbain sendiri memiliki pengalaman memotret di berbagai tempat dan tak jarang menghadapi tantangan. Meski penuh tantangan yang tak mudah,  baginya berkecimpung di dunia fotografi tetaplah menyenangkan. Ia menikmati setiap detail aktivitas fotografi yang ia lakukan. Selain menyenangkan diri sendiri, Arbain dapat memenuhi peran jurnalistiknya untuk menyampaikan pesan.


Anda berminat menekuni profesi serupa? Mudah-mudahan kisah dan cerita di atas dapat menjadi inspirasi bagi Anda. [CN/RFK/RR/VIN/AGG] ^^

Tags : tip menjadi fotografer, dunia fotografi Yogyakarta, tip fotografi jurnalistik, profil arbain rambey
Arbain Rambey, Sang Insinyur Fotografi | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png