Office Hour, Jumat, 11/01/2013 15:28 WIB

Behind The Work as EHS Officer

Di tengah gencarnya arus industrialisasi, Indonesia nampaknya harus bersiap untuk memenuhi standar kelayakan dalam berbagai aspek. Mulai dari peralatan produksi, distribusi hingga pembungan limbah industri. Selain itu masing-masing industri juga harus mengindahkan keselamatan tenaga kerjanya. Tidak hanya keselamatan, industri juga perlu memperhatikan aspek kesehatan untuk menjaga produktivitas tetap optimal.
Behind The Work as EHS Officer
Di tengah gencarnya arus industrialisasi, Indonesia nampaknya harus bersiap untuk memenuhi standar kelayakan dalam berbagai aspek. Mulai dari peralatan produksi, distribusi hingga pembungan limbah industri. Selain itu masing-masing industri juga harus mengindahkan keselamatan tenaga kerjanya. Tidak hanya keselamatan, industri juga perlu memperhatikan aspek kesehatan untuk menjaga produktivitas tetap optimal.
Serangkaian tugas tersebutlah yang biasa diemban oleh seorang Environmental Health and Safety Officer, atau biasa disebut EHS/HSE. Pada rubrik vocation edisi kali ini, tim redaksi ECC UGM telah berbincang seputar dunia EHS langsung dari ahlinya. Beliau adalah Johan Tectona, EHS officer dari PT. Astra Otoparts (AOP) sebuah industri manufaktur kelas dunia yang memproduksi komponen mesin kendaraan.

Tetapi, sebenarnya apa itu EHS? Dan mengapa EHS sangat penting peranannya? Simak artikel ini yuk.

Jobdesc EHS Officer

Secara spesifik, tugas seorang EHS officer berbeda-beda tergantung dari jenis industri yang diampunya. Namun secara garis besar jobdesc EHS Officer diantaranya:
  • Memastikan seluruh karyawan mengetahui dan mematuhi kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja.
  • Membuat panduan atau peraturan yang berlaku dan melaporkannya pada dinas pemerintahan terkait berdasarkan standar uji kelayakan lingkungan tertentu tertentu seperti Waste Management and Health and Hygiene, dan AMDAL.
  • Menganalisis dokumen lingkungan perusahaan dan melakukan upaya pemantauan dan pengelolaan lingkungan.
  • Memeriksa dan mengaudit peralatan supaya layak pakai dan tidak membahayakan saat proses produksi.
  • Memeriksa kondisi kesehatan karyawan, baik itu dengan medical check up ataupun tindakan preventif lainnya. .

EHS Officer at Astra Otoparts

“Sebenarnya, tiga pilar utama EHS adalah memberikan guidance atau peraturan kemananan, kontrol pelaksanaan, dan memberikan saran ketika trouble terjadi,” jelas Johan, sapaan akrabnya. Pembagian kerja EHS di Astra Otoparts (AOP) sendiri terbagi menjadi dua, yakni Manajemen Lingkungan dan Management Corporate Social Responsibility (CSR). Manajemen lingkungan terbagi lagi menjadi dua, yakni corporate atau holding dan mereka yang berada di affco (lapangan). EHS di corporate berusaha untuk merumuskan kebijakan dan kontrol.

Untuk menjaga kualitas lingkungan, EHS Officer di AOP bekerjasama dan berkonsultasi dengan Kementrian Lingkungan Hidup terkait dengan memperbaharui peraturan, Proper, perijinan B3, AMDAL, dan konsultasi lingkungan. Selain itu, EHS Officer juga berkoordinasi dengan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah ( BPLHD ) terkait dengan peraturan, perijinan, dan konsultasi dampak lingkungan daerah setempat. Koordinasi juga dilakukan dengan Astra International terkait dengan AGC, pengujian limbah, dan konsultasi/pelatihan. Sejauh ini AOP berusaha merealisasikan visi-misinya sebagai Astra Green Company untuk lingkungan yang lebih baik.

Health and Safety

Di AOP, divisi EHS kerap melakukan serangkaian seminar dan pelatihan yang berguna bagi keselamatan karyawannya. “Para karyawan seharusnya sudah aware terhadap kondisi fisik dan peralatan yang berada di sekitarnya. Ada yang mudah cepat panas, atau harus diistirahatkan dulu beberapa menit,” ungkap Johan.

Lebih lanjut lulusan Teknik Lingkungan ITS tersebut mengatakan bahwa EHS juga harus memeriksa kondisi karyawannya secara berkala. Misalnya jika terdapat karyawan yang berusia lanjut namun masih memiliki beban pekerjaan berat, maka ia akan direkomendasikan ke divisi lain. “AOP sendiri mengadakan medical check up berkala setiap enam bulan bagi karyawan untuk melihat dan memantau grafiknya,” pungkasnya.

Sekilas memang pekerjaan sebagai EHS officer terlihat mudah. Namun, apabila terdapat kecelakaan di lokasi kerja maka EHS-lah yang paling bertanggung jawab. Menurut Johan, EHS officer adalah pekerjaan mulia. “Kita memastikan apakah orang-orang berada dalam kondisi aman dan nyaman. Kita juga dapat memberi advice tentang langkah apa yang sebaiknya dilakukan, ya tentunya EHS bekerjasama dengan dokter ahli dan HR,” paparnya.

How To Be EHS Officer?

Sekilas pekerjaan sebagai EHS officer nampaknya susah-susah gampang ya. Tapi menurut Johan, untuk bekerja sebagai EHS officer diperlukan ketelitian dan rasa humanis yang tinggi. “Bukan hanya terhadap sesama karyawan tapi juga terhadap mesin,” ujarnya terkekeh. Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menjadi EHS officer?

Untuk menjadi EHS officer minimal berpendidikan Sarjana Teknik Lingkungan (S1), dengan spesifikasi 1 tahun pengalaman di bidang operasional EHS perusahaan, lebih diutamakan untuk perusahaan manufaktur. Fresh graduate juga dipersilahkan mencoba.

Kemudian hal-hal yang harus dikuasai EHS Officer di antaranya Bahasa Inggris (Aktif) yang meliputi writing , speaking dan reading serta computer literate (Ms. Office, Ms. Word, Ms. Excel, Ms. Power Point dan Ms. Open Office).

Selain itu seorang EHS officer juga harus memahami:

1. ISO 14001, OHSAS 18001
2. Sistem Manajemen Lingkungan AGC
3. PROPER
4. Pengelolaan Lingkungan ( Air , Udara dan B3 )
5. Produksi Bersih ( Cleaner Production )
6. Menganalisa hal-hal yang berkaitan tentang pengelolaan lingkungan, SMK3 dan manajemen B3 (Bahan, Berbahaya, dan Beracun).

Untuk kemampuan softskill hal-hal yang perlu diperhatikan di antaranya kemampuan Problem Solving Project Management PDCA, juga mampu berkerja dalam tim serta bisa bekerjasama dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Average Salary

Sebagai seorang EHS Officer fresh graduate maka perolehan gaji berkisar di antara Rp. 3 – 5 juta. Sementara untuk yang sudah berpengalaman mampu melebihi Rp. 7.500.000,-.

Bagaimana? Tertarik dengan pekerjaan ini? Sayangnya di Indonesia baru beberapa universitas yang memiliki jurusan teknik lingkungan. Jangan berkecil hati, tetap tunjukkan kemampuan Anda dan pahami betul alur kerja industri. Selamat mencoba! [CN/MD/Agg]

Tags : ecc ugm, berita, Behind The Work as EHS Officer, Environmental Health and Safety Officer
Behind The Work as EHS Officer | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png