Career Issue, Selasa, 08/11/2016 09:23 WIB

Wah, Ternyata Karakter-Karakter Ini Bisa Bikin Kamu Gagal Seleksi!

Apa saja ya kekurangan jobseeeker yang jadi faktor tak lolos seleksi?
Wah, Ternyata Karakter-Karakter Ini Bisa Bikin Kamu Gagal Seleksi!
Berburu pekerjaan memang tak bisa seterusnya lancar. Gagal sekaliā€“dua kali itu wajar dialami jobseeker. Namun, kalau kamu tahu apa yang buatmu gagal tentu akan menguntungkanmu di kesempatan berikutnya, bukan?

Kegagalan bukan hal yang memalukan, justru merupakan tanda untuk memperbaiki diri. Selain itu, faktor-faktor kegagalan juga perlu kamu ketahui untuk bisa dihindari. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama seperti pada proses rekrutmen yang sebelumnya, ya!


Jobseeker, kemanakah arahmu?

Berdasarkan data konseling online dan offline, serta online assessment yang disusun oleh People Development (PD) ECC UGM, problematika individu dari jobseeeker faktanya sangat beragam. Dari data diperoleh bahwa masalah yang paling banyak dialami jobsekeer adalah terkait minat karir. Sejumlah 40.4 persen jobseeker yang datang ke meja konseling belum bisa melihat minat karirnya.

Kendati telah menempuh Pendidikan Tinggi yang lebih spesifik dibanding pendidikan sebelumnya nyatanya masih ada jobseeker merasa belum mampu memetakan tujuan karir mereka. Ini menunjukkan ketidaktahuan akan tujuan karir secara spesifik, menjadi faktor yang sangat berpengaruh ketika menjalani proses rekrutmen perusahaan.

Perlu diingat, bahwa nilai akademik yang baik bukan jaminan bahwa minat karirmu sudah jelas. Kamu perlu mempertimbangkan berbagai hal demi memetakan profesi apa yang akan kamu geluti. Kendati jika perusahaan mencantumkan jurusanmu sebagai salah satu kualifikasi, bukan berarti posisi tersebut sesuai untukmu. Lihat kembali apakah itu sudah sesuai dengan diri, potensi, serta minatmu.


Hari gini, masih kurang info?

Dari data yang sama, didapatkan hasil 37.8 persen peserta konseling memiliki kekurangan dari segi informasi terhadap karir atau profesi yang dilamar. Ini diiyakan oleh Syafriadi, HR PT Brantas Abipraya. "Banyak pelamar di PT Brantas Abipraya yang kurang informasi, terutama seputar bisnis perusahaan," jelasnya.

Syafriadi melanjutkan, banyak jobseeker yang cenderung asal daftar tanpa tahu benar tentang perusahaan, misalnya di PT Brantas Abipraya, banyak pelamar dari jurusan Teknik Geologi yang ikut mendaftar. "Memang kita butuh dari jurusan teknik, tapi kalau geologi itu kan berbeda jauh. Karena kita ini di konstruksi, beda sekali dengan pertambangan," imbuhnya.

Kurangnya informasi juga bisa nampak saat proses wawancara. Saat ditanya mengenai pengetahuan dan wawasan seputar perusahaan, banyak yang masih kebingungan. Well, bagaimana perusahaan akan hire kandidat yang bahkan kenal dengan mereka pun tidak?


Tak percaya diri, tak akan berhasil

Permasalahan lain yang diungkapkan oleh 16 persen jobseeker adalah rendahnya tingkat kepercayaan diri. Menurut Syafriadi, ketika kandidat menunjukkan sikap tidak percaya diri, maka di mata pewawancara dia akan mendapat nilai kurang baik. Ketika bekerja nanti, di bidang konstruksi misalnya, karyawan akan bekerja dengan orang lain dan berbagai pihak. Jika tidak percaya diri, ia akan mudah didesak dan diintimidasi orang lain.

"Terutama kandidat dari UGM, banyak yang mungkin maksudnya merendah, tapi jatuhnya malah tampak tidak percaya diri," lanjut Syafriadi.

Rasa tidak percaya diri bisa membawa ke problem yang lain, yakni cemas dan overthinking. Banyak dari mereka yang ketika menghadapi seleksi terlihat cemas dan gugup, dikarenakan minimnya kepercayaan diri. Siti Nur Chasanah, HR Service ECC UGM, mengatakan jobseeker yang gugup pada saat seleksi seringkali justru tidak bisa mendeliver pesan dengan baik kepada perekrut, terutama saat wawancara.

"Gugup dan cemas karena terlalu memikirkan seleksi, menjadikan mereka tidak bisa menunjukkan performa yang optimal," ujarnya. Siti melanjutkan, sikap ini mungkin wajar karena kandidat merasa tegang harus berhadapan dengan perekrut dengan taruhan karir dan masa depan. Bisa saja saat bekerja nanti, ia tidak menunjukkan sikap ini karena sudah terbiasa. "Tapi, ibarat memilih 100 sepatu dalam sekian menit, yang kamu lihat pasti tampilan luarnya. Demikian juga proses seleksi, yang akan dilihat adalah apa yang nampak saat itu," lanjut Siti.


Emosi dan adaptasi, perlu diperbaiki

Dijelaskan oleh Siti, di luar dari data PD ECC UGM, problem individu yang sering muncul pada jobseeker adalah kurangnya stabilitas emosi. Terkait emosi ini bisa memengaruhi berbagai karakter yang lain, seperti daya juang yang tidak stabil. "Jika emosi tidak terkontrol maka performa kerja akan sangat fluktuatif. Kalau sedang dalam kondisi emosi yang buruk, pekerjaannya akan terganggu, ini tentu dihindari perusahaan," papar Siti.

Selain itu, kemampuan adaptasi yang kurang baik juga jadi masalah jobseeker. Rendahnya daya penyesuaian diri ini bisa menghambat kinerja pada tugas-tugas baru. "Jika bekerja nanti, mereka akan jadi karyawan yang kurang fleksibel dalam menghadapi berbagai situasi," pungkas Siti.

Ternyata faktor kegagalan jobseeker banyak terkait dengan karakteristik yang ada dalam diri mereka. Cara terbaik untuk memperbaikinya adalah dengan konsultasi pada psikolog dan ikut pelatihan. Kekurangan pada karakteristik tertentu bukan harga mati, kamu masih bisa 'menyembuhkannya' kok. Nah, coba lihat lagi, manakah dari daftar di atas yang masih ada dalam dirimu?



Penulis      : Ratih Wilda

Editor        : Yuana Anandatama

Foto           : Careernews

Tags : konseling karir, gagal tes seleksi, jobseeker, newsletter,
Wah, Ternyata Karakter-Karakter Ini Bisa Bikin Kamu Gagal Seleksi! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png