Career Issue, Jumat, 10/06/2016 14:06 WIB

Mau Terus Berkarir & Berkarya Tapi Tunda Pernikahan?

Apa kamu pernah ingin menunda pernikahan karena takut mengganggu karir yang telah dirintis? Simak pernyataan beberapa pendapat di sini.
Mau Terus Berkarir & Berkarya Tapi Tunda Pernikahan?
Menurut Michael Oktaf, Human Resources and General Affairs Supervisor PT Duta Nichirindo Pratama, jadi wanita karir adalah keputusan mulia. “Wanita membantu pekerjaan suaminya dengan cara dia bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka,” ujar Michael.

Michael memperjelas dengan mengatakan bahwa wanita-wanita di sekitarnya, seperti rekan kerja, kakak tingkat, maupun adik tingkatnya memutuskan menjadi wanita karir dan mereka semua tidak telat menikah.

Menurut Galuh Setia Winahyu, Psikolog, dari sisi psikologis, setiap manusia memiliki tahapan perkembangan. “Setiap tahapan perkembangan ada ‘tugas’ yang harus diselesaikan. Nah, salah satu tugas terkait lawan jenis itu ada di masa dewasa awal, sekitar usia dua puluh,” kata Galuh memberi penjelasan. Kemudian Galuh menambahkan, di masa dewasa tengah, manusia cenderung mengkokohkan hubungan tersebut yaitu mulai usia 23-25 tahun.

Saat seseorang menunda pernikahan, menurut Galuh bisa disebabkan berbagai macam hal, salah satunya perubahan kebutuhan prioritas hidup. Namun, para wanita yang berkarir juga banyak yang menikah tepat waktu, salah satunya Aliki Theophillia R. Pariela, HRD Manager PT. Bernofarm. “Saya memutuskan menikah saat usia 26 tahun, dengan pertimbangan, mumpung saya masih muda dan kuat untuk menjalani kehidupan karir dan rumah tangga,” begitu pengakuan Aliki. Menurutnya jika ia menikah sekitar usia 30, maka ia merasa fisiknya belum tentu kuat. Setelah memutuskan menikah dan tetap berkarir, Aliki berusaha membuktikan bahwa ia tetap menjankan fungsi dan tugas menjadi seorang ibu dan istri.


Apa sih yang bisa didapat wanita karir?

“Menurut saya dengan berkarir, saya jadi punya wawasan berpikir yang lebih luas, bertemu dengan banyak orang, banyak tantangan dan masalah yang bisa membuat saya naik tingkat dalam berkarakter dan ini semua berefek saat saya mengajari dan mendidik anak-anak saya,” tegas Aliki. Meski ia pernah merasa kesulitan dalam mengatur waktu, bahkan sampai harus membawa satu tas ransel berisi pompa asi dan dua liter air putih ke kantor tapi Aliki merasa menikmati perannya jadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Aliki berpendapat bahwa mengejar karir bukan berarti meninggalkan kehidupan pribadi terutama sebagai seorang wanita yang sesungguhnya, yaitu sebagai istri dan ibu.

Aliki pun menuturkan, “Timbangan akan menjadi seimbang bila kedua beban, seimbang kedudukannya, begitu juga kehidupan kita sebagai seorang wanita akan seimbang, bila karir dan kehidupan rumah tangga berjalan seimbang dan beriringan.” Ia juga mengaku tidak benar menikah akan menghambat karir seseorang karena sebenarnya diri dan karakter kita sendiri yang akan menghambat kinerja.


Tak akan berpengaruh

Lain halnya dengan pendapat Rinanti Nur Hapsari, M.Psi., HRD Manager ECC, Riri, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa semuanya kembali pada pribadi masing-masing. “Mungkin berkenaan juga dengan datangnya jodoh dari orang yang bersangkutan,” ujar Riri. Namun demikian, Riri menambahkan bahwa terkadang sebagian orang menunda pernikahan karena menyesuaikan dengan idealisme yang dianut. Misalnya ingin mencari pekerjaan lebih mapan terlebih dulu atau mencapai cita-cita, dan sebagainya.

Bagi Riri, perempuan yang memilih berkarir tentunya sudah menyusun rencana dalam hidupnya. “Sebagian orang mungkin takut bahwa bila telah menikah, karir akan terhambat. Padahal, tidak berarti bahwa status pernikahan akan menghambat karir dan produktivitas seseorang,” jelasnya. Lalu bagaimana dengan syarat yang ditetapkan oleh perusahaan yang mengharuskan calon pelamar masih berstatus single?

Bagi Riri, hal tersebut terkait dengan kebijakan dan tujuan yang ditetapkan perusahaan. “Mungkin perusahaan sedang merencanakan ekspansi. Jadi, perusahaan akan berpikir bahwa jika mencari karyawan perempuan yang sudah menikah, besar kemungkinan karyawan tersebut akan cepat resign dan mengikuti suami,” tukasnya. Riri menambahkan, “Sebaiknya perempuan senantiasa mengasah kemampuan dan meningkatkan skill. Dengan demikian, perusahaan justru yang akan mencarinya,” pungkas master psikologi industri dan organisasi ini.

Jadi, apa keputusanmu sekarang? Semua itu akan sangat bergantung dengan caramu membagi waktu. Kamu pun harus memiliki manajemen waktu yang baik.

Apa pendapatmu soal ini? Selamat berencana!



Penulis         : Desinta Wahyu K.

Editor           : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Grafis           : Tongki A.W




  Tags : tip sukses melamar kerja, sukses berkarir perempuan, karir bagi perempuan,
Mau Terus Berkarir & Berkarya Tapi Tunda Pernikahan? | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png