Do You Know, Selasa, 25/10/2016 14:18 WIB

Dari Hitungan Minggu Hingga Tahun, Ini Dia Ragam Cuti Melahirkan di Dunia

Bagi perempuan, libur paling lama akan dialami saat memasuki hari-hari melahirkan. Tak hanya satu dua hari, cuti melahirkan ini bisa sampai hitungan bulan.
Dari Hitungan Minggu Hingga Tahun, Ini Dia Ragam Cuti Melahirkan di Dunia
Hamil dan melahirkan, adalah kondisi yang dialami oleh banyak perempuan di seluruh dunia. Tentunya, masing-masing negara dan daerah punya aturan sendiri soal cuti melahirkan atau maternity leave. Apa kamu masih bertanya-tanya mengapa cuti jenis ini berlangsung cukup lama?

Proses melahirkan mungkin memang tak butuh waktu lama. Namun cuti yang diberikan, bisa mencapai lebih dari dua bulan. Tahukah kamu apa alasannya?


Kesehatan ibu juga bayi

Dilansir dari situs Huffington Post, yang menyebabkan cuti melahirkan ini memakan waktu cukup lama adalah karena faktor kesehatan, baik bagi sang ibu maupun bayi yang baru lahir. Pertama, menyangkut kesehatan mental dan fisik dari ibu. Melahirkan, meski prosesnya terbilang singkat tapi merupakan hal besar yang mengancam nyawa. Rasa sakit yang dialami oleh sang ibu ketika melahirkan sangat luar biasa. Bahkan dikatakan bahwa melahirkan adalah rasa sakit yang paling menyakitkan sepanjang kehidupan.

Hal ini mempengaruhi kondisi mental dan fisik dari tiap perempuan yang baru saja melahirkan. Trauma pasca melahirkan, serta rasa sakit setelah berjuang bertaruh nyawa ini tidak lenyap begitu saja. Bayangkan jika mereka langsung kembali bekerja, justru jadi tidak maksimal karena kondisi tidak prima.

Alasan yang kedua adalah menyangkut kesehatan bayi. Bayi terlahir dengan kondisi yang berbeda-beda, ada yang bisa langsung dibawa pulang atau justru ada yang harus menjalani perawatan intensif. Mereka membutuhkan perhatian dan perawatan khusus, karena kondisinya yang masih rentan. Di samping itu, selama beberapa bulan pasca lahir, mereka hanya boleh mengkonsumsi ASI saja atau susu formula dalam kasus tertentu.


Dari mingguan hingga tahunan

BBC melansir, di Aceh peraturan terkait cuti melahirkan bagi PNS daerah memang cenderung berbeda dibanding daerah lain. Diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 49 Tahun 2016 tentang Pemberian Air Susu Eksklusif, menyebutkan PNS berhak mendapat cuti melahirkan selama enam bulan, dan 20 hari sebelum hari perkiraan melahirkan. Disebutkan juga bahwa suami mendapat hak cuti selama total 14 hari ketika istrinya melahirkan. Aturan di sana memang berbeda dari daerah lain di Indonesia. Sebab, Aceh punya otonomi khusus dengan dasar syariah Islam, sepanjang aturan yang dibuat tidak mencakup enam kewenangan pusat.

Sedangkan di daerah lain seluruh Indonesia, hak cuti melahirkan diberikan selama tiga bulan bagi perempuan yang bekerja. Dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 82 tentang Ketenagakerjaan, dijelaskan bahwa hak masa istirahat ini diberikan selama 1,5 bulan sebelum dan sesudah melahirkan.

Meski daerah lain di Indonesia terbilang punya masa cuti yang lebih pendek dibanding Aceh tapi masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan pekerja di Amerika Serikat, Oman, dan Papua Guinea. Menurut situs Tech Republic, di tiga negara tersebut, cuti melahirkan diberikan tanpa hak penerimaan gaji. Pun, durasi yang diberikan maksimal hanya 12 minggu saja.

Hingga saat ini, hanya empat negara di Amerika Serikat yang sudah menerapkan peraturan untuk tetap memberi gaji kepada karyawan cuti melahirkan. Itu juga tidak diberikan sepanjang masa cuti melainkan hanya 4–6 minggu dengan nominal 55–65 persen dari total gaji saja.

Hal ini sangat berbeda dengan aturan cuti melahirkan di negara-negara Eropa. Mereka cenderung lebih toleran dan memberi masa istirahat dalam waktu yang lama, seperti dilansir dari Telegraph. Di Bulgaria misalnya, hak cuti diberikan selama 410 hari kepada ibu yang bekerja, dengan pemberian gaji sebesar 90 persen. Setelah masa cuti itu selesai, mereka bisa mengambil satu tahun lagi dengan pemberian gaji minimal sesuai aturan. Cuti di sana bahkan bisa ditransferkan kepada ayah atau kakek nenek yang masih bekerja, dari sang bayi.

Di Yunani, cuti melahirkan diberikan selama 43 minggu, dengan pemberian gaji lebih dari 50 persen. Sedangkan di Swedia, meski cuti hanya diberikan sebanyak 8.6 pekan dengan gaji 80 persen, namun mereka juga menyediakan cuti mengasuh bayi bagi sang ibu dan ayah, dengan pemberian gaji 61 persen selama 51 minggu. Berbeda lagi dengan Slovakia, Estonia, dan Hungaria. Mereka menawarkan cuti melahirkan sebanyak 130 minggu dengan gaji 40–45 persen.


Haruskah berbulan-bulan?

Rata-rata negara di Benua Eropa memang terbilang sangat murah hati dalam memberikan cuti melahirkan kepada perempuan bekerja. Jika di Amerika Serikat para ibu ingin segera kembali bekerja demi menerima gaji lagi, di Eropa justru perempuan yang melahirkan tak perlu cemas karena tetap menerima gaji meski tidak penuh. Bahkan di Jerman, selama 14 minggu cuti melahirkan karyawan tetap digaji penuh.

Studi di Eropa menunjukkan, angka kematian bayi usia 2–12 bulan berkurang sangat siginifikan, begitu pula usia 1–5 tahun, sejak peraturan cuti dengan tetap digaji diterapkan di sana. Menurut Huffington Post, sebenarnya masih belum jelas mengapa orang tua yang mengasuh anak di rumah berpengaruh terhadap baiknya pertumbuhan anak. Namun, berdasarkan riset, anak yang orang tua atau ibunya cuti melahirkan minimal tiga bulan, cenderung lebih jarang sakit, di antaranya berkat pemberian ASI ekslusif.

Sedangkan ibu yang kembali bekerja setelah cuti kurang dari tiga bulan, berakibat anak akan memiliki masalah perilaku dan rendahnya kemampuan kognitif pada usia empat tahun. Inilah yang menjadi bukti nyata betapa pentingnya cuti melahirkan ini. Tidak berhenti pada proses hamil kemudian melahirkan saja, membangun generasi yang kuat juga tak kalah penting.

Christopher Ruhm, dalam jurnal berjudul 'Parental Leave and Child Health', menyebutkan cuti melahirkan paling ideal adalah selama 40 minggu, demi kesehatan fisik dan mental anak, juga sang ibu. Jadi, aturan cuti di Indonesia yang hanya 3 bulan, apakah sudah cukup, ya? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar!



Penulis      : Ratih Wilda

Editor        : Yuana Anandatama

Grafis        : Tongki Ari

Tags : cuti, fakta unik, do you know, hamil, perempuan, jobseeker, karyawan,
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Rabu, 14/06/2017 15:00 WIB Mau Kerja di IKEA? Pahami Budaya Perusahaannya
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Kamis, 08/06/2017 00:00 WIB Dari Fashion Hingga Sayur Mayur, Ini Potret Start Up 2017
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Kamis, 13/04/2017 12:16 WIB Sudahkah Kamu Melakukan Free Online Assessment Ini?
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Selasa, 04/04/2017 10:12 WIB Ingin Bebas Stres? Cek E-mail Maksimal Lima Kali Sehari!
Dari Hitungan Minggu Hingga Tahun, Ini Dia Ragam Cuti Melahirkan di Dunia | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png