Do You Know, Selasa, 09/09/2014 12:00 WIB

Di Singapura, Kamu Dipekerjakan Sesuai Gelar!

Bagaimana sebenarnya kiprah para lulusaan di dunia kerja di luar negeri dan Indonesia? Kita bandingkan, yuk!
Di Singapura, Kamu Dipekerjakan Sesuai Gelar!
Menurut berita resmi yang diluncurkan Badan Pusat Statistik, pada Februari 2014 jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 125,3 juta orang. Sedangkan, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 118,2 juta orang.
Meskipun kabarnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di negara kita pada Februari 2014 mengalami penurunan  (5,7 persen) jika dibanding dengan TPT Agustus 2013 (6,17 persen), tetap saja ada sarjana yang menganggur kan? Kok bisa sih, sudah sarjana tapi masih jadi pengangguran?


Sarjana menganggur  tidak terjadi di salah satu negara tetangga kita, Singapura. Itu menurut dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, Rahayu, SIP., M.Si, yang pernah tinggal di Singapura selama 4 tahun. Baginya, manfaat gelar sarjana di suatu negara harus dilihat secara holistik, mulai dari sistem pendidikan yang diterapkan hingga ke jenjang universitas. 


“Di Singapura, dari satu step ke step lain, dari SD, SMP, Junior College karena di sana tidak ada SMA, kemudian universitas, itu sudah melalui sistem yang sangat ketat. Sehingga, tidak ada kemudian istilah sarjana nganggur,” ujar Rahayu. Ia menambahkan, bahkan ketika sarjana dihasilkan, universitas sudah memproyeksi seperti apa dan seberapa banyak kebutuhan pasar tenaga kerja, baik di Singapura maupun di tingkat global.


Soal gelar pendidikan, Singapura terbilang ketat. Lulusan sarjana, master, hingga PhD (doktoral) akan dipekerjakan dan digaji  sesuai standar yang berlaku di sana. Rahayu bercerita soal kenalannya yang lulusan PhD dan melamar kerja di Singapura untuk posisi yang sebenarnya membutuhkan kualifikasi master. “Mereka enggak mau terima. Mengapa? Karena (perusahaan di Singapura tersebut, –red) terikat oleh ketentuan ketenagakerjaan bahwa PhD harus digaji sekian, di atas gaji master yang sebesar  5000 SGD-6000 SGD.  Nah, yang terjadi di kita, master kerja sarjana, sarjana kerja sebagai master, D3 kerja sebagai sarjana. Enggak karu-karuan, begitu,” papar Rahayu sambil tersenyum.


Menurut Rahayu, agar bisa bersaing di dunia kerja, universitas berusaha untuk membuat mahasiswa lebih tajam, baik di bidang pengetahuan maupun keterampilan. “Jurusan-jurusan di universitas harus bisa memberikan fokus pada konsentrasi-konsentrasi di jurusan tersebut,” kata Rahayu. Maksudnya, setidaknya jurusan harus jeli membidik  keterampilan apa saja yang perlu diajarkan kepada mahasiswanya melalui pilihan konsentrasi jurusan. Keterampilan tersebut akan membedakan mereka dengan lulusan universitas lain dari jurusan yang sama ketika bersaing di dunia kerja nanti.


Nah, kalau kamu sudah sarjana tetapi masih menganggur, apakah kemudian kamu berhenti mengeksplorasi diri dan loyo? Jangan dong! Berikut tip yang bisa bikin kamu semangat, seperti dilansir www.merdeka.com.


1. Berpikir positif!

Ini penting. Kondisi menganggur memang bisa membuatmu tak nyaman bahkan mulai berpikir bahwa ada yang salah dengan dirimu. Hey, percaya deh, Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kamu. Penolakan kerja kemarin mungkin memang belum rezekimu tetapi kamu harus tetap berusaha. Tanamkan pikiran bahwa kamu bisa bertahan dan pada akhirnya keluar dari situasi tersebut.


2. Kurangi pengeluaran

Karena statusmu bukan mahasiswa lagi dan belum memiliki penghasilan sendiri, ada baiknya keinginan untuk hura-hura atau membeli barang–barang tersier ditunda dulu. Belajarlah berhemat. Lebih baik uangmu dipakai untuk mengirim berkas lamaran kerja atau ongkos menghadiri jobfair, ya kan?


3. Bangun koneksi

Sembari menunggu panggilan kerja datang, kamu bisa menghubungi kenalanmu ketika kuliah dulu dan menanyakan apakah ada lowongan yang sesuai untukmu di tempat mereka bekerja. Teruslah berusaha dan memperkuat koneksi, siapa tahu ada rezeki pekerjaan untukmu.


4. Pikirkan untuk mengambil S2

Jika kamu merasa perlu untuk mengambil S2 dan orang tuamu mendukung, lakukan saja. Namun jika biaya menjadi kendala sementara kamu ingin melanjutkan S2 ketimbang hanya duduk menunggu di rumah, mencari beasiswa bisa jadi opsi.


5. Tekuni hobi

Di waktu luang yang kamu miliki sekarang, tak ada salahnya menekuni kembali hobi-hobi yang selama ini sempat terbengkalai  karena kesibukan semasa kuliah. Usahakan untuk tetap produktif ketika kamu menunggu panggilan kerja. Siapa tahu kegiatan tersebut justru bisa menjadi rezeki bagimu.


6. Magang

Carilah perusahaan atau organisasi yang menyediakan kesempatan magang, terutama di bidang yang menjadi minatmu. Sekalipun misalnya tidak dibayar, pengalaman yang kamu dapatkan akan sangat berguna kelak.


7. Cobalah menulis blog dan berbisnis

Sembari mengisi waktu selama menunggu panggilan, kamu bisa melatih dan mengembangkan  jiwa kewirausahaanmu. Bisnis kecil-kecilan pun enggak apa-apa kok, yang penting, kamu melakukannya dengan senang dan optimis. Sebagai sarana promosi, kamu bisa menggunakan fasilitas blog. Lumayan juga kan, kamu jadi bisa sekaligus  melatih kemampuan di bidang tulis-menulis. Siapa tahu  ada yang melihat potensimu dan pekerjaan yang kamu idamkan justru datang dari kegiatan itu.

Tetap semangat ya! [CN]


Penulis        : Elyzabeth Winda

Editor         : Vinia Rizqi, Rifki Amelia

Grafis         : Adityo Dharmanto

Tags : kiprah sarjana di luar negeri, standar gaji sarjana S 1, gaji fresh graduate,
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Rabu, 08/11/2017 15:00 WIB Kini Kamu Bisa Ungkap Kepribadianmu Melalui Gadget!
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Senin, 09/10/2017 15:00 WIB Nah, Ini Dia 'Momok' Bagi Mimin Medsos!
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Rabu, 14/06/2017 15:00 WIB Mau Kerja di IKEA? Pahami Budaya Perusahaannya
Pergi Umroh, KD Terharu Raul Menangis Do You Know,
Kamis, 08/06/2017 00:00 WIB Dari Fashion Hingga Sayur Mayur, Ini Potret Start Up 2017
Di Singapura, Kamu Dipekerjakan Sesuai Gelar! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png