Office Hour, Jumat, 10/11/2017 14:55 WIB

Welly Tanuwidjaja: Jabat Erat Tantangan, Bersahabatlah Dengan Pengalaman

Buat kamu yang seringkali berasumsi bahwa bekerja di bidang manufaktur itu berat, sebaiknya kamu belajar lebih banyak dari sosok berikut ini. 
Welly Tanuwidjaja: Jabat Erat Tantangan, Bersahabatlah Dengan Pengalaman
Adalah seorang Welly Tanuwidjaja atau akrab disapa dengan nama Welly, yang kini menjabat sebagai General Manager at PT Adis Dimension Footwear. Senyum ramah selalu menghiasi wajahnya saat bertutur tentang perjalanan hidupnya kepada Careernews.


Dengan lembut, namun tetap memancarkan semangat, Welly bercerita mengenai perjalannya membangun karir. Tahun 1999 setelah lulus kuliah, beliau berkarir di perusahaan penghasil sepatu yang kita kenal dengan nama ADIS. Laki-laki lulusan Teknik Industri Universitas Trisakti ini selalu memegang kunci bahwa pengalaman adalah guru terbaiknya.

Welly bergabung dengan ADIS dengan lokasi kerja di Cileungsi, Jawa Barat. ADIS sendiri telah berdiri pada tahun 1989 yang merupakan grup dari Astra Graphia Group, kepanjangan dari Astra Divisi Industri Sepatu (ADIS). Namun pasca era reformasi atau tepatnya tahun 2000, Astra melepas industri sepatu dan ADIS bergabung dengan Dimension Group. 

Saat itu, perusahan tempat beliau bekerja telah menjadi salah satu produsen merek sepatu ternama di dunia, Nike. Tiga tahun kemudian, Welly bergabung bersama tim Product Development Center Nike, sebuah divisi baru yang dibentuk karena Nike telah membuat sentralisasi produk.

Dua tahun berselang, tahun 2004, Welly kemudian kembali lagi ke Adis Group dengan fokus mengelola produsen sepatu olahraga lokal. Beberapa tahun kemudian, beliau akhirnya diminta kembali mengelola Product Development Center Adis Group di tahun 2008, dimana saat itu ADIS telah bergabung di bawah bendera Shoe Town Group.

“Divisi Product Development yang sudah dibentuk pada tahun 2002 dibubarkan, sehingga kemudian saya didapuk untuk membangun kembali sembari memimpin divisi tersebut,” ujarnya. Sebagai tim product development, tugas utama Welly di sini adalah melakukan perancangan untuk 3 D Creation Facility atau mendesain sepatu dengan konsep 3 dimensi.

Kreatifitasnya tak hanya berkutat pada dunia desain, produksi, dan pengelolaan saja, Welly pun kemudian diberi amanah untuk membantu internal manajemen dalam memantau dan mengatur Manufacturing Index (MI). MI inilah yang diyakini oleh perusahaan Nike sebagai sebuah standar dalam penilaian pabrik. “Value tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam Key Performance Indicator (KPI) yang merupakan salah satu bahan review operasional manajemen setiap bulannya,” tukasnya menjelaskan.


Tak Hanya Mengurusi KPI 

Kiprah Welly di bidang manajemen perusahaan juga tak melulu hanya mengurusi KPI saja. Beliau mendapatkan tanggung jawab lebih untuk menjadi tim Beyond Compliance (BC) pada 2016 hingga sekarang. “Untuk tugas dari tim compliance sendiri adalah memastikan tercapainya produksi sesuai dengan regulasi dari pemerintah dan regulasi yang ditetapkan oleh Nike. Sedangkan tim BC kerjanya melampaui kepatuhan atau peraturan yang ada, karena kami harus memikirkan kira-kira apa yang bisa dilakukan agar perusahaan bisa lebih dari compliance,” tutur Welly mantap. 

Salah satu contoh kegiatan BC itu sendiri adalah rekrutmen untuk posisi Manajemen Trainee (MT). “Unsur BC pada Nike itu ada lima: Human Resources (HR), Health and Safety, Environment, Energy, dan Manufacturing. Nah, MT adalah sebuah bentuk beyond compliance project dari sisi HRM,” jelas bapak dua anak ini.

Melihat track record di perusahaan tempatnya bekerja, tak dapat dimungkiri bahwa Welly memiliki segudang pengalaman karena telah mencicipi beberapa posisi. “Bekerja di industri manufaktur memiliki kemiripan dengan bekerja di industri otomotif. Yang bisa bertahan adalah mereka yang mau. Yang sudah mau belajar pasti nanti akan mampu,” paparnya.

Welly menambahkan, ketika diberikan sebuah tanggung jawab yang bukan bidangnya, dengan senang hati beliau akan menerima karena dianggapnya sebagai sebuah tantangan dan cara untuk berkembang. Inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap karyawan, kemauan untuk menerima tantangan baru, karena hal ini yang akan membuat mereka melesat lebih jauh.


Pentingnya Attitude dan Karakter 

Lebih jauh Welly menuturkan bahwa faktor lain yang justru dijadikan perhatian saat dirinya merekrut orang baru bukanlah mutlat berdasarkan pada IPK, namun lebih kepada karakter dan attitude karena sesuai dengan culture kerja perusahaannya yang sangat memperhatikan dua hal ini. 

“Para leader kita yang sukses, kebanyakan background-nya tidak in-line dengan apa yang dipelajari di bangku kuliah. Attitude dan karakter merekalah yang membuat mereka bisa bertahan dan meraih kesuksesan," ujarnya. Welly menambahkan kunci lain yang harus dimiliki adalah mampu melakukan quick decision, sehingga perlu didukung dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Kemampuan analitik yang baik juga harus dimiliki karena digunakan untuk pengambilan keputusan berbasis data. 

Menilik sisi lain, setiap perusahaan seyogyanya memiliki prinsip 4P : People, Product, Process, dan Profitability. Menurutnya, jika ingin menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang harus bisa merasakan atau memiliki sudut pandang 4P. Tujuannya adalah agar dapat melihat the whole operations sebuah perusahaan dari berbagai sudut pandang.

Soal worklife balance, Welly menilai bahwa terkadang jobseeker saat ini terkadang masih teralu idealis dalam memandang worklife balance. Kebanyakan dari jobseeker akan berangkat dari asumsi bahwa bekerja di industri manufaktur akan menyita banyak waktu. “Padahal jika kami merekrut orang dengan klasifikasi sarjana, pasti akan kita tempatkan di manajemen, bukan di pabrik. Kunjungan ke pabrik hanya sesekali saja karena akan dibutuhkan dalam proses pembelajaran,” jelasnya dengan mantap. 

Lebih lanjut, hal lain yang perlu digarisbawahhi adalah worklife balance itu memang diperlukan. namun jangan berpikir bahwa pekerjaan yang selalu dikalahkan, sementara personal life yang harus didahulukan. “Harus sesuai porsi mana yang lebih penting, ada kalanya kita harus mengorbankan urusan pribadi untuk urusan pekerjaan yang saat itu dianggap lebih penting,” tutur beliau. 

Welly berpesan, agar kita sebagai generasi muda apalagi yang sedang mencari pekerjaan untuk jangan menutup diri terhadap tantangan. Jangan keburu berasumsi untuk memberikan penilaian terhadap sebuah posisi atau pekerjaan. Gunakan setiap kesempatan untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman, misalnya mengikuti program magang agar lebih tahu situasi riil di dunia kerja. 

“Jangan sampai ada mental block dan malah membuat kita tidak berkembang. Seseorang harus bisa menerima sesuatu yang baru, selalu belajar tanpa henti, itu akan menjadi pengalaman yang berarti,” pungkasnya mantap. 

Tertarik untuk bergabung di industri manufaktur melalui Manajemen Trainee Shoe Town? Setiap tahunnya, perusahaan ini membuka tiga kali rekrutmen untuk posisi MT. Ayo cari tahu lebih lengkap soal perusahaan ini dari mulai profil hingga jadwal rekrutmennya melalui official website perusahaan di pranala berikut http://adisdimensionfootwear.id.

Well, you can only go forward by take the risks.



Penulis  : Vinia R. Prima 

Editor    : Puspa A. Mala


Tags : my job, careernews, sukses, motivasi,
Welly Tanuwidjaja: Jabat Erat Tantangan, Bersahabatlah Dengan Pengalaman | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png