Office Hour, Jumat, 03/03/2017 11:35 WIB

Mila Lubis: Riset itu Dinamis dan Menyenangkan

Setelah berpindah-pindah kerja dari satu industri ke industri lainnya, Miladine mantap berkarir di Nielsen Indonesia sejak tahun 2012. Bagaimana kisahnya?
Mila Lubis: Riset itu Dinamis dan Menyenangkan
Mendengar kata riset, kebanyakan orang menghubungkannya dengan angka, grafik, dan para pekerja yang serius . Namun bagi Miladine Inesza Lubis, Associate Director Communications Nielsen Indonesia, riset adalah sesuatu yang dinamis dan menyenangkan.

Masyarakat mungkin familiar dengan Nielsen sebagai lembaga yang mengeluarkan hasil rating televisi. Namun sebenarnya sebagai lembaga riset pemasaran, yang dilakukan Nielsen tak hanya meneliti apa yang dikonsumsi masyarakat lewat media, tetapi juga bagaimana perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi barang dan jasa tersebut. Sebagai direktur komunikasi Nielsen, perempuan yang akrab dipanggil Mila ini tertantang untuk mengkomunikasikan betapa pentingnya perusahaan riset dalam ekosistem industri.


Dijuluki kutu loncat

Mila mulai berkarir sejak tahun 1996 ketika masih berstatus mahasiswi jurusan Komunikasi, Universitas Indonesia. Ia bekerja sebagai asisten manajer costumer service di sebuah perusahaan televisi berlangganan hingga tahun 1999. Karir sebagai customer service ia lanjutkan di sebuah perusahaan asuransi dari tahun 1999 hingga 2002. Setelah itu Mila sempat menjajal beberapa perusahaan lain termasuk agensi periklanan dan kehumasan, televisi swasta, bahkan di perusahaan softdrink ternama.

Selama karirnya, Mila sempat bekerja di tujuh perusahaan berbeda. Masing-masing dalam hitungan beberapa bulan hingga empat tahun saja. Jadi bisa dikatakan, ia cukup sering berpindah pekerjaan. “Karena saya pernah bekerja di beberapa industri, teman-teman saya bilang ‘Ah, si Mila mah kutu loncat’,” ujarnya tertawa.

Kini, Mila mengaku telah nyaman bekerja di Nielsen. Bisa dibilang pekerjaannya sekarang adalah rangkuman dari petualangan karirnya di berbagai perusahaan. Pengalaman di perusahaan-perusahaan sebelumnya sangat menguntungkan bagi Mila. Ia dapat memanfaatkan seluruh pengetahuannya tentang beragam industri untuk memahami temuan-temuan riset Nielsen. Selain itu, pengalaman kerjanya yang selalu berkaitan dengan bidang komunikasi dan layanan konsumen membuatnya semakin matang kala terpilih sebagai direktur komunikasi di Nielsen.


Menemukan nikmatnya bekerja di Nielsen

Untuk urusan karir, Mila mengaku memiliki kecenderungan sebagai pribadi yang cepat jenuh bila mandek di satu tempat saja. Namun di Nielsen, ia menemukan kesenangan yang membuatnya sulit bosan. Pertama, karena riset pemasaran menurutnya adalah industri yang menarik. Sebagai sebuah perusahaan gudang data yang besar, Nielsen memiliki data-data hasil pantauan perilaku konsumen baik dari survei langsung maupun online. Data tersebut adalah komoditas yang bernilai informasi tinggi dan tentu saja menarik dipelajari. Terlebih lagi, riset mengenai konsumen adalah sesuatu yang dinamis karena selalu ada temuan baru. Temuan tahun lalu menjadi tidak relevan di masa sekarang, begitu seterusnya seiring konsumen yang terus bergerak maju.

Selain itu, Nielsen punya banyak klien dari industri-industri besar yang beroperasi di Indonesia, contohnya perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Goods), seperti Unilever, Mayora, Nestle, dan L'oreal, perusahaan telekomunikasi termasuk Indosat dan Telkomsel, industri perbankan, otomotif, dan masih banyak lagi. Sebagai direktur komunikasi, Mila banyak bersinggungan dengan klien-klien tersebut. “Karena klien kita banyak banget, kita melakukan survei itu terus menerus, jadi dinamikanya luar biasa,” paparnya. Hal dinamis seperti inilah yang bagi Mila adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.


Tetap netral di tengah problematika klaim

Sampai saat ini, telah empat tahun lebih Mila bekerja sebagai direktur komunikasi Nielsen Indonesia. Bersama tim kecilnya, ia menangani seluruh urusan komunikasi baik internal dan eksternal. Tugasnya pun beragam, mulai bertindak sebagai humas untuk klien dan publik, merancang event, dan bertanggung jawab terhadap branding perusahaan. Masing-masing ranah memiliki tantangannya sendiri.

Tantangan yang berhubungan dengan klien misalnya mengenai kebijakan klaim. Seringkali bila hasil survei terbaru Nielsen menunjukkan bahwa angka penjualan produk tertentu paling tinggi dibanding produk sejenis, pihak perusahaan ingin membuat klaim bahwa produknya adalah nomor satu. Klaim tersebut nantinya akan dipakai sebagai materi iklan. Padahal menurut pedoman etik, perusahaan riset harus independen dan netral. Konsekuensinya, Nielsen hanya menyajikan data apa adanya dan tak boleh membuat klaim yang membandingkan klien satu dengan klien lainnya. Maka dari itu, bila klien tetap ingin membuat klaim dari data Nielsen, harus disertai penjelasan detil tentang survei yang dilakukan. “Buat saya, itu selama 4 tahun merupakan challenge terbesar ya,” katanya. Pernah ada kasus salah satu klien membuat klaim, lantas klien lain keberatan. Dalam posisi demikian, Nielsen harus tetap netral.


Perkembangan teknologi mendorong Mila untuk terus belajar

Menyajikan hasil temuan Nielsen kepada publik juga jadi tantangan terbesar bagi Mila. Menurutnya, kesulitan terbesar adalah ia harus paham tentang metode riset yang digunakan. Apalagi penggunaan internet dan perkembangan e-commerce yang semakin meningkat, membuat metode riset online mulai sering digunakan. Mila yang mengaku gaptek harus terus belajar untuk mengikuti perkembangan teknik riset berbasis digital.

Bahkan sekarang ini, Nielsen telah mengembangkan layanan baru yang disebut total audience measurement, yakni riset yang mempelajari perilaku audiens yang mengakses media baik lewat kanal konvensional maupun online. “Itu kan platform-nya lumayan njlimet. Meski saya enggak harus tahu detailnya ya tapi at least saya harus ngerti bagaimana itu cara kerjanya,” papar Mila.


Kemampuan komunikasinya diuji

Tugas selanjutnya adalah bagaimana menyampaikan temuan data kepada publik. Biasanya Nielsen menyampaikan hasil temuan survei kepada publik dengan cara menggelar konferensi pers. Sebagai wakil Nielsen saat konferensi pers, Mila menyampaikan temuan riset kepada wartawan dari berbagai media untuk tujuan publikasi agar diketahui masyarakat luas. Sebelum menjelaskan temuan-temuan survei, Mila akan menjelaskan metode surveinya terlebih dahulu kepada para wartawan. Agar pesan tersampaikan, Mila harus mampu menyederhanakan istilah-istilah riset yang kadang tak familiar bagi wartawan apalagi masyarakat awam. Pun setiap merancang rilis pers, Mila sebisa mungkin menggunakan bahasa yang sederhana agar siap dimuat di media.

Menjadi orang yang bertanggungjawab menyampaikan hasil riset memang susah-susah gampang. Apalagi data riset adalah sesuatu yang intangible, artinya tidak dapat dilihat dan dipegang. Mila menekankan pentingnya kemampuan berkomunikasi dengan berbagai macam orang karena penerima pesan yang disasar punya kebutuhan dan persepsi yang berbeda terhadap hasil riset pemasaran. Eksekutif perusahaan membutuhkan hasil riset untuk merancang strategi penjualan produk perusahaannya, sedangkan masyarakat awam mungkin sekadar ingin tahu saja. Soft skill untuk menyesuaikan gaya komunikasi dengan audiens yang disasar adalah kunci keberhasilan Mila dalam melakukan pekerjaannya. “Dan itu, saya terus belajar kok,” ungkapnya.

Nah, apakah kamu masih menganggap riset sebagai sesuatu yang serius dan membosankan? Mila Lubis dapat membuktikan bahwa bekerja di perusahaan riset jauh dari kata membosankan. Buat kamu yang suka mempelajari perilaku konsumen dan menganalisis data besar, kisah Mila Lubis mungkin bisa menginspirasimu untuk mengejar karir di bidang riset. Tetap semangat!



Penulis      : Odillia Enggar

Editor        : Yuana Anandatama

Foto           : Careernews.id

Tags : my job, profile karyawan, nielsen, riset, perusahaan riset,
Mila Lubis: Riset itu Dinamis dan Menyenangkan | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png