Freelance, Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB

Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik

Nama Frau tak asing dalam belantara seni musik Indonesia. Keahliannya dalam bermusik telah menghasilkan banyak karya dan prestasi yang layak diperhitungkan.
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Pernah kamu dengar lagu Mesin Penenun Hujan? Atau Salahku, Sahabatku? Ya, keduanya adalah lagu yang ada di album rilis pertama milik Frau, yang bertajuk Starlit Carousel. Dalam album tersebut, terdapat enam lagu mengalun bersama suara merdu Frau, diiringi denting pianonya.

Gadis yang terlahir dengan nama Leilani Hermiasih ini sudah merilis lagu sejak 2010 untuk didengarkan oleh banyak orang. Antusiasme yang tinggi ternyata justru sempat membuat Lani, sapaan akrab gadis ini, kaget dengan popularitasnya. Ia bahkan sempat ‘ngambek’ selama beberapa waktu dari pentas musik. Namun kini, ia kembali berlaga dengan musiknya di atas panggung.


Frau dan musik

Nama Frau lahir dari pengalaman belajarnya sebagai murid jurusan bahasa di SMA dulu. Saat itu, Lani mengambil bahasa Jerman sebagai fokusnya. Frau sendiri dalam bahasa Jerman berarti nyonya. "Istilah ini ada esensi maturenya, yang mana aku juga ingin selalu bisa tetap dewasa," jelas Lani. Selain itu, salah satu gurunya yang akrab disapa dengan panggilan Frau Agnes, memiliki karakter yang membuat Lani kagum. Sang guru memiliki karakter yang menarik. Meski punya masalah apapun, ia selalu bersikap dan berpikir positif. "Itu salah satunya alasan lain kenapa aku suka dengan istilah Frau," imbuh Lani.

Lani tidak menggunakan nama aslinya sebagai nama panggung karena ia ingin memberi nyawa pada piano dan pertunjukannya. Memberi nama organ miliknya dengan Oscar, adalah salah satu cara agar alat musiknya itu memiliki ‘nyawa.’ "Jadi nama Frau ini, adalah band antara Oscar dan Lani," lanjutnya.

Musik memang sudah jadi bagian dari Lani sedari kecil. Sejak lahir, rumahnya tak pernah absen dari suara gamelan. Pasalnya sang bapak adalah pembuat sekaligus pemain alat musik tradisional itu. Menapaki usia Sekolah Dasar di tahun pertama, Lani mulai memasuki pendidikan informal bermusik. "Waktu itu les piano sampai aku kelas 6 SD, jadinya ya selama enam tahun," jelas Lani. Ketika masuk SMP, Lani justru mulai 'membelot.' Ia tidak mau les musik pun tidak mau latihan. "Terus malah aku minta les bass gitar, dan cuma bertahan dua bulan doang," lanjutnya sambil terkekeh.

Lalu, lani mulai mengutak-atik sendiri musiknya. Pada saat itu, Alicia Keys dan Vanessa Carlton baru muncul di belantika musik, Lani pun tertarik memainkan lagu mereka dengan piano. “Main-main saja sendiri waktu itu. Aku merasa kemampuan musikku terpantik dari situ,” ujarnya.

Melanjutkan sekolah di SMA Stella Duce, Yogyakarta, Lani dan teman-teman kerap membuat cover lagu dari band ternama. Ada pula yang dibuat bersama rekan-rekan SMA De Britto, Yogyakarta. "Bikin lagu sendiri juga, formatnya seperti band pada umumnya, ada yang main gitar, drum gitu," paparnya. Barulah di penghujung masa-masa SMA, Lani mulai membuat lagu dalam format piano vokal seperti saat ini. “Setelah lulus, aku main pakai Oscar dan coba rekam di kamar, pakai laptop. Itu jadi beberapa lagu dan aku tunjukin ke teman-teman kalangan indie gitu," lanjutnya.

Mereka yang mendengarkan musik Lani mengusulkan agar gadis itu mengunggah karyanya ke MySpace. Dari situ, ia dilirik oleh Anggi Purbandono, dari MES 56, lembaga non-profit yang bergerak di bidang fotografi. Saat itu MES 56 sedang ada proyek, membimbing UKM fotografi STIE YKPN, dan membuat pameran karya dari proyek tersebut. Di acara pameran itulah, pertama kalinya Lani tampil sebagai Frau.


Sempat ngambek gara-gara banyak fans

Musik memang telah menjadi bagian dari kehidupan Lani. Ia menyikapi musik sebagai suatu cara baginya dalam menyampaikan hal-hal yang tidak terbahasakan dengan kata-kata semata. Lani mengaku, dirinya tergolong orang yang pendiam dan tidak memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengungkapkan pemikirannya secara lugas. "Kekuatan musik kan di situ, dia bisa bicara dalam bahasa kiasan, yang nantinya juga dimaknai berbeda bagi yang mendengarnya. Tapi itu bisa membantuku dalam menyampaikan beberapa hal," papar Lani.

Setelah pertama kali muncul dengan nama Frau di tahun 2008, Lani semakin banyak dikenal melalui pentas-pentas dan album rilisnya. Sayangnya, kehebatannya dalam bermusik sempat mengalami masa hiatus pada tahun 2011 dan 2012. Pasca tampil di Kick Andy dan merilis album pada 2010, Lani memang semakin banyak dikenal. Ia seringkali bermain musik di atas pentas. Dunia mayanya pun banjir penggemar.

Awalnya, Lani memang merasa senang ketika diminta tampil di pembukaan pameran, dan setelah itu mengobrol santai dengan mereka yang datang tentang musik. Lani terkejut. Lama-kelamaan tidak hanya sekadar mengobrol saja tapi banyak pengunjung yang minta foto bersama, tanda tangan, dan lain sebagainya. Lani tidak terlalu menyukai hubungan yang seperti itu. Ia ingin musiknya diapreasiasi dengan wajar saja.

"Alasan aku vakum selama dua tahun karena aku takut aku malah jadi enggak jujur dengan musikku, hanya karena aku sadar kalau ada orang yang suka dengan Frau,” ujar Lani. Ia khawatir dirinya akan mulai mengubah musik karena dipengaruhi para penggemar. Selain itu, ia juga sedang disibukan oleh skripsi pada saat itu. Jadi, vakum dari dunia musik pun menjadi pilihannya.

Pada akhirnya Lani sadar bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Bagi Lani, jauh lebih sulit meninggalkan musik dan pentas dibandingkan menyesuaikan diri dengan orang-orang. Ia pun memahami bahwa mereka yang bersikap layaknya penggemar adalah mereka yang menyukai musiknya dan mengeskpresikan dengan cara yang berbeda. "Meskipun sekarang kalau ada yang minta foto dan tanda tangan, aku masih agak berpikir ‘ngapain, sih?’ tapi sudah lebih santai aja menghadapinya," ujar alumni jurusan Antropologi UGM 2008 ini.

Lani tidak ingin menjadikan musik sebagai sumber penghidupan utamanya. Menurutnya, terlalu menggantungkan diri ke musik akan menjadikan karya yang dihasilkannya bersifat money oriented. "Nanti aku malah jadi enggak terlalu memikirkan konten musiknya lagi, idealismenya juga enggak lagi dikompromikan," tukasnya.


Satu album dalam tiga minggu

Album pertamanya yang bertajuk Starlit Carousel dirilis gratis dalam format digital oleh Yes No Wave Music. Sebelumnya, Lani juga sempat ditawari dua perusahaan rekaman Indie. Namun, ada poin dalam kontraknya yang tidak sesuai. Kemudian Lani pun memutuskan bekerja sama dengan Yes No Wave Music. Di sana, ia diizinkan merilis dalam bentuk fisik. "Rilis fisik itu yang kemudian dijual, bukan digitalnya. Rilis fisik bahkan perputarannya lebih dari pentas merchandise," paparnya. Lani mengatakan ia menyukai konsep yang diterapkan Yes No Wave Music karena ia senang membagikan lagunya pada siapa saja, dan rilis digital tentu memudahkan distribusinya.

Apalagi menurut Lani, sekarang banyak sekali lagu yang dibajak. Ia berpikir, mengapa tidak sekalian digratiskan saja rilis digitalnya? Nantinya, rilis fisik esensinya tidak lagi sekadar membeli lagu tapi sebagai merchandise. "Makanya sekarang, banyak CD yang mainnya di packaging. Supaya orang melihatnya itu sebagai bentuk support terhadap musisinya," jelas Lani.

Lani menulis sendiri enam lagu dalam album pertamanya, kecuali lagu Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Album keduanya dirilis pada 2013 di Yes No Wave Music, sebagai album comeback pasca hiatus. Lagu-lagu pada album kedua ini sebenarnya telah diciptakan Frau pada 2011. Delapan lagu dalam tiga minggu. "Tapi waktu itu aku masih kurang percaya diri dengan liriknya, menurutku masih kurang eksplorasi lagi," tukas Lani.

Setelah vakum selama dua tahun, Lani kemudian berusaha merombak lirik-liriknya. Ia berkonsultasi dengan beberapa orang. Di antaranya adalah Ugoran Prasad dari Melancholic Bitch, yang banyak membantu Lani dalam pelafalan dan cara membuat lirik awalan. Lani juga meminta bantuan Dwi Cipta, penulis, sehingga lirik lagu Tarian Sari pun banyak berubah.

Bantuan juga Lani dapatkan dari Odit Budiawan, teman jurusan Antropologi, dan dari ibundanya. Sang Ibu adalah perempuan Hawaii berdarah Jepang. Ia keturunan Jepang generasi ketiga di Hawaii, yang kemudian datang ke Indonesia untuk belajar gamelan, sehingga dipertemukan dengan bapak Lani. "Aku minta bantuan Ibu untuk mengedit lirik-lirik yang berbahasa Inggris," jelas Lani. "Jadi meskipun aku yang bikin, tapi aku merasa banyak sekali kontribusi dari orang lain," lanjutnya.


Musiknya pernah 'menggugah' penyandang disabilitas

Sebelum resmi merilis lagu-lagunya dalam bentuk digital maupun fisik, Lani sempat diundang ke acara Kick Andy. "Waktu itu ada yang bilang kecepetan, harusnya diundang setelah rilis saja," tukas gadis yang telah merampungkan kuliah magister jurusan Antropologi Sosial (Ethnomusicology) dalam waktu satu tahun di Queen's University, Belfast, Inggris ini.

Kemunculannya di acara televisi swasta tanah air tersebut memang membuat Frau menjadi dikenal oleh banyak orang. Seorang bapak yang menonton tayangan tersebut pernah menulis post di Facebook. Ia menceritakan anaknya yang menyandang disabilitas, bereaksi saat mendengar lagu Frau, padahal biasanya tidak memberikan reaksi pada apapun. "Waktu itu aku merasa benar-benar sukses rasanya," ujar Lani.

Pada 2010, Frau bahkan masuk ke dalam daftar tokoh-tokoh seni versi Tempo. "Itu yang paling ngena sampai sekarang," ungkap Lani.

Dalam bermusik, nama-nama seperti Andrew Lloyd Webber, penulis drama musical, musisi Regina Spector, Fionna Apple, Emiliana Torrini, Feist, dan Tom Waits, telah menjadi inspirasi dan memberikan pengaruh tersendiri bagi Lani dalam bermusik.

Selain mendalami musik, hal lain yang Lani sukai adalah riset. Inilah yang kemudian mendorongnya mendirikan Bias Laras, proyek studi musik yang dirintis bersama dua rekannya. Lani memutuskan untuk mengeskplor musik dari sisi yang lain, selain dari segi praktiknya. Ia merasa selama ini masyarakat tampak melihat musik sekadar sebagai hubungan antara musisi dengan fans dan aspek komersial. Banyak orang tidak memahami secara penuh bagaimana posisi musik dalam masyarakat. Hal ini justru akan memengaruhi kebebasan dalam produksi musik.

Di sinilah, Bias Laras bertujuan untuk mempelajari musik dalam masyarakat yang dilakukan secara mendalam. "Kemarin sudah ada diskusi, ke depannya kita akan lakukan riset dan harapannya produk kita bukan sekadar tulisan akademis saja. Mungkin bisa dalam bentuk workshop, pameran, atau yang lainnya. Kita berusaha mengakomodasi itu," jelas Lani.

Selain musik, saat ini Lani tengah berkonsentrasi mengembangkan Bias Laras sembari mengejar cita-citanya sebagai periset. "Sebenarnya aku paling pengen jadi periset independen, tapi kalau di sini tidak memungkinkan," ujarnya. Menjadi dosen adalah salah satu cara untuk meraih keinginannya itu. Lani ingin memahami dan mengekspresikan banyak hal melalui riset. "Entah dalam musik atau tulisan akademis apapun, aku sudah merasa senang dengan ide itu," pungkasnya.

Well, kendati punya bakat gemilang yang potensial, Lani tak lantas banting setir dan memilih mengejar keuntungan materi. Ia terus mengejar dan mengembangkan apa yang menjadi minat dan passionnya! Nah, bagaimana denganmu?



Reporter      : Elyzabeth Winda

Penulis        : Ratih Wilda

Editor          : Rita Pamilia dan Yuana Anandatama

Foto            : krjogja.com

Tags : myjob, my job, musik, frau,
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik Freelance,
Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis Freelance,
Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto Freelance,
Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png