Enterpreunership, Senin, 14/11/2016 09:35 WIB

Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan

Mimpi Rubby mampu mengantarkan perubahan besar bagi hidup kaum disabilitas. Simak ceritanya!
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Mengerjakan sesuatu yang berdampak sosial merupakan passion bagi seorang Rubby Emir. Lewat LSM Saujana, ia dan rekan-rekannya membuat Kerjabilitas, digital startup berupa platform portal karir khusus penyandang disabilitas atau kaum difabel di Indonesia.

"Saya suka mengerjakan sesuatu yang bisa langsung saya lihat penerimanya, ketemu manusianya," kata pria asal Jawa Timur ini. Karir Rubby selama 10 tahun belakangan memang berada di bidang manajerial untuk proyek sosial dan yayasan. Tahun 2004 hingga 2007, ia menjadi pengajar dan koodinator proyek Sokola Rimba di daerah Sumatera. Kemudian, ia bergelut di bisnis ecotourism selama hampir lima tahun sebagai manajer sebuah resort milik Yayasan Kaliandra Sejati di kaki Gunung Arjuna. Sementara, karirnya di Jogja dimulai dengan menjadi senior project manager di perusahaan konsultan Humanitarian Benchmark.

Awal membangun Kerjabilitas adalah ketika Rubby mengikuti Kompetisi Ide Cipta Media Seluler tahun 2014 yang diselenggarakan oleh Yayasan Wikimedia, ICT Watch, dan Ford Foundation. Saat lolos seleksi dan mendapat pendanaan, ia dan rekan-rekannya mendirikan LSM Saujana. Mereka berharap nantinya proyek yang akan dikerjakan bisa memiliki wadah organisasi yang formal dan terstruktur.

Pada awal 201, Kerjabilitas akhirnya berhasil diluncurkan. Sebagai digital startup yang memberikan dampak sosial, Kerjabilitas terpilih sebagai salah satu dari delapan startup asal Indonesia yang masuk program Google Launchpad Accelerator. Posisinya sebagai CEO inilah yang kemudian membuat Rubby mendapat akses mentoring di markas besar Google di California AS akhir 2015 lalu.


Dari keprihatinan terhadap sulitnya akses difabel untuk punya pekerjaan

"Saya punya adik kandung penyandang disabilitas", cerita Rubby. Dari situ tumbuh perhatiannya terhadap kesejahteraan kaum disabilitas secara umum. Bersama kawan-kawannya yang pernah bekerja sebelumnya di bidang disabilitas, Rubby berdiskusi bagaimana agar penyandang disabilitas bisa punya akses lebih besar terhadap kehidupan dan menjadi mandiri hingga menjurus pada akses terhadap pekerjaan.

Menurut Rubby, Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara dalam masalah pemberian akses ini. Beberapa negara lain sudah memiliki mekanisme cukup jelas tentang bagaimana perusahaan itu harus memenuhi kewajiban untuk memberikan akses kepada pencari kerja dengan disabilitas. Dalam UU Ketenagakerjaan sebenarnya sudah tercantum kewajiban perusahaan menyediakan kuota minimal 1 persen untuk penyandang disabilitas. Namun sayangnya, masih banyak perusahaan di Indonesia belum mengimplementasikan hal tersebut. "Saya berpikir kenapa tidak membangun akses untuk penyandang disabilitas di Indonesia? Mereka juga harus mandiri kan," katanya.

Masalah yang cukup besar dan mendasar adalah tentang informasi pekerjaan. Platform-platform informasi pekerjaan yang sudah ada, belum cukup membantu karena informasi yang disediakan umumnya bukan lowongan yang bisa menerima kaum penyandang disabilitas. Selain itu untuk penyandang disabilitas tertentu, khususnya tunatetra, informasi tulisan tidak aksesibel. 

Akhirnya Rubby dan kawan-kawan memutuskan untuk bermain di bidang teknologi. "Bidang ini relatif kecil investasinya, buat teknologi aja, enggak harus buat kantor. Kedua kita bisa scale up karena bisa diakses di manapun. Ketiga masalah aksesibilitas, semakin banyak pengguna mobile phone sekarang yang lebih aksesibel dan lebih murah juga," paparnya menceritakan awal ide Kerjabilitas. 


Mimpi jadi nyata

Bagi Rubby, Kerjabilitas adalah karya sekaligus pekerjaan yang bisa memadukan semua passionnya. Keahlian dan passionnya di bidang desain grafis dicurahkan melalui desain brand Kerjabilitas termasuk logo Kerjabilitas. Lalu, minatnya pada teknologi diwujudkan dengan membangun Kerjabiltas sebagai sebuah digital startup berbasis seluler. Sementara ketertarikannya terhadap masyarakat dan kerja sosial dicurahkan untuk membantu penyandang disabilitas. Semuanya diramu dengan jiwa entrepreneurship yang ada dalam diri Rubby. “Ini kaya mimpi jadi nyata lah,” ujarnya dengan sumringah.

Sebagai founder dan CEO, Rubby pun terjun langsung dalam setiap kegiatan Kerjabilitas. Mulai dari mendesain brand dan membuat logo perusahaan, merekrut karyawan, membuat konten untuk laman website, menjalin kontak dengan pihak yang berpotensi menjadi mitra atau investor, dan tentu saja mengarahkan operasional mencari perusahaan penyedia kerja, serta memantau pengguna terdaftar saat melamar pekerjaan.

Mengenai entrepreneurship, Rubby mengaku kalau dari dulu ia memendam keinginan menjadi seorang entrepreneur. Ia percaya bahwa sebenarnya semua manusia punya jiwa enterpreneurship. "Entrepreneurship itu godaan yg selalu ada buat orang-orang yang enggak suka zona nyaman,” pendapat Rubby. Namun hal tersebut, baru bisa diwujudkan dua tahun belakangan karena selain hambatan ikatan kerja, ia juga belum terjun langsung untuk mewujudkannya. Akhirnya dengan keputusan untuk terjun langsung membuat lembaga dan mengembangkan layanan Kerjabilitas, Rubby bisa lebih jernih melihat permasalahan di bidang favoritnya. “Kita langsung tahu mau apa, masalahnya apa. Kalau belum terjun kan masih asumsi saja,” ujarnya. Dari situ Rubby mendapat pemahaman bahwa kalau ingin berbuat sesuatu jangan terlalu banyak direncanakan, jalankan saja. "Quote yg paling sering aku pakai, ‘Jangan pernah menunggu karena enggak ada waktu yang tepat’," katanya.


Menjadi mandiri dan terus memberi dampak sosial

Menjadi social entrepreneur atau socio-preneur diakui Rubby sebagai sesuatu yang menantang. Masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana menemukan titik temu antara sosial dengan profit. “Kalau sosial aja gampang, lakukan kegiatan sosial, terus dapat pendanaan, dapat dana hibah. Kalau perusahaan sama, susahnya karena dia harus dapat profit terus. Kalau kami kan dua-duanya, terus terang lebih susah," katanya. Hal itu, menurut Rubby, merupakan masalah sebagian besar socio-preneurship yang harus bisa kreatif mencari uang tanpa mengorbankan dampak sosialnya.

Sukses terbesar bagi Rubby dan tim Kerjabilitas sebenarnya cukup sederhana, yakni bila pengguna layanannya mendapatkan pekerjaan. "Kalau ada yang dapat kerja, kita semua senang banget. Makanya kalau ada yg melamar kerja selalu kita telepon," kisahnya. Jadi setiap ada penyandang disabilitas yang mengumpulkan lamaran lewat Kerjabilitas, tim Kerjabilitas selalu memantau perkembangannya sampai mengetahui apakah orang tersebut diterima kerja atau tidak. Tak sampai di situ saja, beberapa orang yang terpilih akan ditulis kisah perjalannya mencari kerja sebagai kisah inspiratif untuk kemudian diunggah di website.

Sekarang LSM Saujana dengan Rubby sebagai Executive Director sedang mengembangkan produk layanan kedua bagi kaum disabilitas yang bisa dinikmati oleh semua orang. Diharapkan produk baru tersebut bisa dirilis akhir tahun ini. "Lewat servis kecil Kerjabilitas pelan-pelan sudah mulai kelihatan, meski dampak sosialnya belum besar tapi setidaknya masyarakat ada yang tersadar bahwa kaum penyandang disabilitas juga perlu kerja," tambah Rubby.

Socio-preneur adalah pekerjaan yang tak melulu soal finansial. Kepedulian terhadap permasalahan sosial adalah landasan utama. Seperti kutipan dari Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer, "Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya." Semoga kisah Rubby Emir bisa menginspirasi kita bersama.


Penulis      : Odillia Enggar

Editor        : Rita Pamilia dan Yuana Anandatama

Foto           : Tempo.co

Tags : my job, entrepreneurship, entrepreneur, saujana, kerjabilitas, mahasiswa, jobseeker, NGO, karir NGO,
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan | CAREERNEWS
1486001424_top_banner_homepage_cn.png