Office Hour, Jumat, 23/09/2016 15:50 WIB

Melvin Hade: Jadi Brilian dan Self Driver di Usia Muda

Meski umur masih belia, buat Melvin masa depan itu patut direncanakan.
Melvin Hade: Jadi Brilian dan Self Driver di Usia Muda
Menjadi muda adalah proses yang tentu terjadi dalam siklus hidup manusia. Namun mengisi masa muda dengan sesuatu yang bermanfaat, itu soal berbeda. Hal ini tentu tergantung dari masing-masing individu.

Melvin Hade, pemuda yang sangat passionate dalam menjalani rutinitasnya ini, adalah salah satu sosok yang berhasil membangun karir gemilang di usia muda. Di 21 tahun usianya, keberhasilan baik di bidang akademis maupun non-akademis mahasiswa semester akhir Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia ini, sangat bisa diacungi jempol.

Ia pernah menjuarai beberapa kompetisi dan menjadi perwakilan mahasiswa Indonesia ke berbagai konferensi internasional. Sebut saja misalnya Harvard National Model of United Nations (HMNUN) di Boston, Amerika Serikat, mewakili Universitas Indonesia. Ia juga pernah menjadi Most Outstanding Delegate dalam 2015 UST Model United Nations Competition, Manila, Philippines serta menjadi Most Outstanding Delegate 2014 Indonesia Model United Nations Competition, Jakarta, Indonesia. Pun menjadi perwakilan Indonesia di Open Government Partnership dalam Asia Pasific Regional Conference 2014 di Bali.

Ia juga kerap menerima beragam beasiswa, seperti Astra 1st Scholarship 2014, ASEAN University Network Scholarship 2015, Young Leaders for Indonesia Scholarship 2016 dari McKinsey & Company. Tak hanya sampai di situ, Melvin juga mendapat penghargaan, seperti The Wempy Dyocta Koto Award. Ia bergelut di bidang penelitian dengan menjadi Research Assistant di Nanyang Technological University, Singapura, Equity Research Intern di Mandiri Sekuritas, Jakarta selama dua bulan, dan juga menjadi Investment and Fx Intern di United Overseas Bank, Jakarta.


Tahu yang dimau

Kesuksesannya di usia muda yang diraih oleh Melvin tak lepas dari semangatnya menggapai mimpi. Berpegang pada konsep 'Nothing is Impossible', ia sangat yakin bahwa seorang manusia sendirilah yang menciptakan limit pada dirinya. “Kalau kita meyakini bahwa kita bisa, maka semesta akan mendukung. Akan ada energi lebih yang akan mendorong kita untuk bisa mewujudkannya,” jelasnya kepada Careernews beberapa waktu lalu.

Tak dapat dimungkiri, Melvin adalah seorang contoh self-driver sejati. Ia bukanlah follower yang tidak punya sikap, tidak mengetahui kemana ia akan membawa jalan hidupnya. Layaknya pengemudi mobil, ia tahu cara dan tujuan mengemudikan, bukan hanya sekadar bisa menyetir dan tanpa tahu arah. Sejak duduk di bangku SMA, Melvin sudah merancang bahwa dirinya akan berkarir di dalam bidang ekonomi, khususnya perbankan. Ia selalu berusaha untuk dapat menjamin mimpinya itu dengan ikut kegiatan yang akan membawa dampak positif bagi pengambangan soft skill dan lebih mendekatkan dengan mimpinya. “Kita harus menyeleksi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan mimpi dan tujuan hidup kita. Jadi, sesuaikan dengan passion dan tujuan yang ingin diraih di kemudian hari,” tegasnya.


Ingat goals hingga akhir

Lalu apakah Melvin pernah merasa down dan mengalami distraksi saat mesti fokus menggapai mimpi? Tentu saja pernah. “Hal yang perlu dilakukan ketika kenyataan tak sama dengan ekpektasi adalah segera move on. Menjaga stabilitas passion bisa dilakukan dengan selalu mengingat kembali goals kita di akhir nanti,” ujar lelaki yang besar di Jakarta ini dengan mantap. Ia meyakini hal tersebut dapat menjadi sugesti positif di saat mood sedang tidak baik, sekaligus sebagai sebuah cambuk untuk bisa berjuang lebih keras.

Tak heran kalau ia kini menduduki posisi yang cukup penting di perusahaan yakni sebagai Investment Banking di Credit Suisse branch Jakarta dan Hong Kong, salah satu bank dan manajemen investasi terkemuka di dunia yang berasal dari Swiss. Ia pun tak pernah membayangkan dirinya bisa menjadi bagian dari perusahaan ternama tersebut sebelum dirinya lulus kuliah, serta mendapatkan beragam benefit, termasuk gaji dan akomodasi. “Semua itu didapatkan karena saya meyakini konsep 'Nothing is Impossible', dan saya berjuang keras untuk mencapai apa yang menjadi mimpi saya,” ujar Melvin.


Temukan keunggulan diri lalu jadi ahli

Di samping itu, ia sadar bahwa tidak semua orang, khususnya generasi muda, memeroleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang sama dan mendapat kesempatan untuk ikut beragam kegiatan atau konferensi bergengsi seperti dirinya. “Jangan jadikan sebagai alasan, yang diperlukan oleh setiap individu untuk menjadi unggul adalah menemukan diferensiasi. Kalau kamu masih mahasiswa, jangan mau hanya jadi mahasiswa biasa, lakukan sesuatu untuk menambah nilai dirimu, dan jadilah ahli di dalamnya,” tukas Melvin. Mahasiswa bisa memperkaya kualitas diri dengan bergabung dalam les bahasa asing, organisasi, dan kompetisi. Meskipun tidak menjadi juara dalam kompetisi, paling tidak akan menambah keberanian untuk bersaing dan mengembangkan diri.

Melvin berpendapat bahwa mungkin benar nilai IPK bukanlah segalanya tapi bagi dirinya, nilai IPK tetaplah penting. IPK akan menjamin kualitas akademik dan tentunya nanti akan mempermudah proses pengambangan soft skill di masa yang akan datang. “Bisa dibilang ketika seseorang melihat profil akademis kita, maka IPK adalah first impression yang akan seseorang lihat,” ungkap Melvin. Kita juga dapat terus mengasah kemampuan akademis kita dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya mengambil S2.

Baginya, mengambil kuliah S2, bukan melulu soal kesempatan dan tren tapi lebih karena kita merasa perlu menemukan sebuah ilmu yang tidak bisa kita dapatkan dengan posisi kita sekarang. “Itu tergantung masing-masing orang kalau ilmu dan segala hal yang ingin diketahui bisa didapatkan tanpa harus S2, maka S2 bukanlah menjadi prioritas,” jelas lulusan SMA Pelita Harapan Jakarta ini. Baca juga tulisan Melvin mengenai perspektif soal S2 di sini.


Pentingnya disiplin dan manajemen waktu

Selain bekerja keras, untuk bisa menggapai mimpi, seseorang sangat perlu disiplin dan pandai memanajemen waktu. “Harus pandai dalam menyeimbangkan kegiatan akademik maupun non-akademik, jangan jadi terlena atau memberatkan di salah satunya. Kita harus bisa memilah skala prioritas dan bersiap untuk mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar,” jelas Melvin.

Bagi seorang Melvin yang notabene adalah mahasiswa dengan 'paket lengkap', ternyata masih ada lagi mimpi besar yang ingin dicapai. Dirinya ingin memberi manfaat lewat ilmu dan pengalaman yang ia miliki untuk universitas di seluruh Indonesia, tak hanya untuk UI, almamaternya kelak. Tentunya, ilmu akan terus berkembang dan memberi kebaikan serta manfaat kalau kamu bisa membaginya dengan orang lain, bukan?

Well, like Johann Wolfgang von Goethe said being brilliant is no great feat if you respect nothing. Semoga kesuksesan Melvin di usia belia ini bisa menginspirasimu, sobat!



Penulis      : Vinia R. Primawati

Editor        : Yuana Anandatama

Foto           : Dok. Pribadi

Tags : generasi XYZ, generasi Y, generasi X, generasi Z, mahasiswa, jobseeker, myjob, my job,
Melvin Hade: Jadi Brilian dan Self Driver di Usia Muda | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png