Enterpreunership, Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB

Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing

Sudah pernah mencicipi coconut ice cream yang kaya rasa dengan beragam topping dari Tropic? Siapa sosok di balik hits-nya sajian pencuci mulut ini?
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Coconut ice cream merupakan salah satu dessert populer di Thailand. Lalu, apa yang membuat Fandi Rahmat Widianto, owner Tropic berani menjajakan dessert ini di Yogyakarta? Simak ceritanya, yuk!

Muda dan menginspirasi, mungkin itulah satu kata yang menggambarkan sosok Fandi Rahmat Widianto. Fandi, sapaan akrabnya, adalah owner dari Tropic Jogja. Coconut es krim yang ia cetuskan mungkin sering ditemui di event-event kuliner Jogja. Nah, ingin tahu lebih dalam bagaimana Fandi membangun bisnis ini dari nol?


Tantangan terbesar dan kunci menghadapinya

Fandi bercerita bagaimana pertama kalinya dia membangun Tropic dan dari mana ide untuk membuat es krim berbahan dasar kelapa tersebut. “Tahun 2014 saya baru punya ide saja belum ada konsepnya mau seperti apa. Nah, hampir satu bulan aku godok tuh ide dijadiin konsep yang jelas,” tuturnya.

Saat ditanya darimana referensi membuat es krim kelapa, Fandi menjawab bahwa dia melihat es krim kelapa itu sudah lumayan terkenal di Thailand, sedangkan di Indonesia sepertinya belum ada. “Saya dapat referensi dari jajanan Thailand sih. Di Thailand ada tuh es krim kelapa tapi di Indonesia belum ada kan makanya saya pingin membuat es krim kelapa yang punya cita rasa sendiri,” jelasnya.

Mau itu pekerjaan kantor ataupun bisnis, pasti ada saja tantangan yang harus dilalui untuk meraih kesuksesan. Begitu pula dengan bisnis coconut es krim Tropic ini. Menurut Fandi, karena bisnisnya merupakan produk kekinian pasti akan ada banyak yang menyamai sehingga produk Tropic butuh diferensiasi.

“Kami mengakalinya, kalau produk pesaing memakai es krim biasa maka kami memakai es krim vegan,” tutur pria kelahiran Banjarmasin ini. “Vegan es krim ini punya banyak kelebihan, salah satunya adalah rendah lemak. Untuk kalian yang takut gendut kalau terlalu banyak makan es krim, vegan es krim inilah yang menjadi healthy food-nya,” tambahnya.

Selain bercerita tentang tantangan yang di hadapi, Fandi juga mengungkapkan kendala apa saja yang dia hadapi selama ini. “Bisnis itu menurut saya enggak cuma sekedar jualan dan enggak cuma ngurus karyawan. Menurut saya bisnis adalah semua itu dan mencakup seluruhnya. Nah, sesudahnya adalah me-maintenance semua itu serta bagaimana mendelegasikan itu semua ke orang lain,” jelasnya. “Mendelegasikan itu adalah hal yang susah lho. Menginginkan orang lain bisa melakukan sesuatu sesuai keinginan kami, itu sulit banget,” tutur pria kelahiran 28 Maret 1991 ini.

Fandi memberi satu kunci sukses untuk menghadapi kendala tersebut yaitu konsistensi. “Kalau misal hari ini sepi pembeli, ya kami tetap harus konsisten untuk jualan. Siapa tahu besok ramai. Atau kalau misal ada karyawan yang kinerjanya jelek, ya kami harus konsisten untuk tetap memperbaiki diri. Jadi kuncinya adalah konsisten,” jelas lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi ini.


Saya suka dan saya memberanikan diri

Berbicara tentang kesukaan pasti berbicara tentang passion. Orang-orang sukses terkadang melakukan hal yang berbeda dari orang lain karena dia mengerjakan sesuatu yang sesuai passion dia. Lalu apakah bisnis ini merupakan passion dari Fandi? Saat ditanya dia menjawab bahwa dirinya memang suka dunia kuliner. “Dulu mungkin ini bukanlah passion saya tapi karena saat kuliah sudah sering bekerja di kafe kopi dan mengenal bisnis kuliner seperti itu, saya mulai tertarik dan memberanikan diri untuk memulai bisnis saya sendiri. Ya, seiring berjalannya waktu ini sekarang menjadi passion saya,” tuturnya.

Pernah bekerja sebagai barista di coffee shop membuat Fandi banyak belajar tentang sistem bisnis kuliner. “Walaupun ini bukan bidang saya, saya mau belajar juga tentang semua ini, tentang bisnis, marketing, branding, dan lain sebagainya,” ungkapnya. “Saat kalian bisa belajar lebih dari suatu organisasi maupun sistem dari suatu bisnis belajarlah, dan beranilah untuk memulai sendiri,” pesannya.


Dulu duit adalah segalanya bagi saya, tapi sekarang tidak lagi

Menjadi tulang punggung sejak SMA, membuat Fandi harus bekerja untuk membiayai dirinya dan adiknya. Saat kuliah, mahasiswa komunikasi ini lebih memilih sibuk bekerja daripada berorganisasi. “Jika teman-teman saya yang lain kuliah, rapat, pulang, kalau saya, kuliah, kerja, pulang,”ujarnya. “Saya dulu jadi budak duit. Inginnya kerja dapat duit. Tapi itu bikin kami capek sendiri, selalu saja kurang,” kenangnya. “Saya enggak mau seperti itu terus. Akhirnya saya mengubah mindset saya. Kuncinya adalah konsistensi dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Yang penting untuk saya sekarang adalah, saya berbisnis, bisnis saya bisa bermanfaat bagi orang banyak, bisa gaji karyawan, dan bisa membahagiakan orang lain,” ujarnya.


Ingin bisa menyaingi Walls

Dunia bisnis selalu menuntut pelakunya untuk selalu mengembangkan apa yang sudah dimulainya. Hal itulah yang sedang dilakukan Fandi dengan Tropic. “Kalau kata pembisnis besar itu, jangan taruh telur di satu keranjang saja, taruhlah di beberapa keranjang. Nah, itu yang sedang saya lakukan. Saya ingin mengembangkan bisnis saya. Mungkin kalau di food and beverage brand-nya adalah Tropic. Nantinya saya ingin membuat brand lain, mungkin clothing, atau apapun itu,” jelasnya.

“Kalau produk Tropic sendiri yang berupa coconut vegan es krim ini, saya ingin produk ini masuk retail. Jadi produk es krim ini bisa dititipkan di toko-toko, supermarket, dan lain-lain. Mimpi terbesar kami adalah bisa menyaingi es krim Walls,” jelasnya.

Mimpi lain Fandi berkaitan dengan studinya. “Sebelum ibu saya meninggal, ibu berpesan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya. Makanya saya ingin melanjutkan S2 lalu S3. Saya ingin menjadi professor dan ilmu yang sudah saya pelajari bisa bermanfaat untuk orang lain,” ungkapnya. Fandi pun menjadikan bermanfaat untuk orang lain sebagai motonya. Ia ingin bisa berguna untuk orang lain, bangsa negara, dan juga membahagiakan orang lain.

Nah, bagaimana? Apakah sudah mengenal owner Tropic dari sisi yang berbeda? Apakah kalian sudah berani  juga untuk memulai bisnis minuman seperti dia? Moto hidupnya yang selalu ingin bermanfaat bagi orang lain patut kita contoh. Bekerjalah, berbisnislah, tetapi tetap bermanfaat untuk orang lain, ya.



Penulis          : Betty Isnawati

Editor            : Yuana Anandatama

Foto               : Hanung Hambara

Grafis            : Ardiansyah Bahrul A.

Tags : enterpreneurship, my job,
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png