Enterpreunership, Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB

Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli

Ternyata passion-mu bisa berkembang, lho! Tidak percaya? Simak wawancara dengan owner Bakpiapia Djogja ini!
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Begitu banyak orang menggambarkan karir ideal sesuai passion masing-masing. Karenanya, begitu banyak pula kesempatan yang dilewatkan. Padahal, passion-pun bisa berkembang lebih luas lagi. Setidaknya, ini yang diamini Tano Nazoeaggi, owner Bakpiapia Djogja.

Namun bukannya mendaftarkan diri pada agency periklanan, pilihan Tano justru jatuh pada perusahaan bakpia milik keluarganya. Ternyata, ada alasan kuat di balik pilihan karirnya ini. “Saya melihat usaha keluarga saya ini potensial. Produk bakpia yang dibuat orang tua pun sudah cukup kreatif. Lalu, kenapa tidak saya curahkan saja ilmu kreatif yang saya tekuni ke bakpia?” jelas pria kelahiran Bekasi 29 tahun yang lalu ini.


Bisnis keluarga lebih menantang

Meski bisnis bakpia yang ditekuninya adalah bisnis keluarga, bukan berarti Tano bisa bertindak seenaknya. Bisnis ini justru membuatnya merasa lebih tertantang. “Karena ini bisnis keluarga, kita masih harus memikirkan keluarga di dalamnya. Apalagi posisi saya paling muda dan perlu mengemukakan ilmu branding yang mereka tidak tahu sebelumnya,” kisah Tano.

“Biasanya, mereka cuma jualan. Kalau laku, terus hore,” tambahnya. Maka, mulailah Tano memikirkan strategi jangka panjang bisnis bakpianya.

Selain bertugas memasarkan, ia juga melakukan repositioning. Bakpia yang tadinya untuk oleh-oleh kemudian dialihkannya sebagai camilan. “Harapannya, tak perlu mengoleh-ngolehi orang dulu untuk beli bakpia. Terserah mau beli berapa biji atau berapa kotak,” papar pemenang 15 piala Pinasthika dalam kurun waktu tiga tahun ini.

Meski Bakpiapia Djogja telah dikenal luas dengan bakpia blasterannya, bukan berarti tantangan berhenti di situ saja. Semenjak mendapat mandat sebagai General Manager di tahun 2014, ia mulai tergelitik dengan masalah keuangan, target, dan efisiensi kerja. Padahal, ketiganya masih asing untuknya.

“Untuk menjalankan bisnis, kita harus tahu kelemahan kita. Dari situ, kita perlu membuka diri untuk meminta bantuan orang,” ujarnya. Salah satu wujud nyata dari pernyataan tersebut adalah merekrut beberapa karyawan yang merupakan pakar-pakar di bidangnya. Tak tanggung-tanggung, mereka berasal dari sejumlah perusahaan besar di Indonesia.


Lebih dari yang asli

Menyoal moto kerja, Tano mengungkapkan kalau ia tidak jauh berbeda dengan tagline Bakpiapia, "lebih dari yang asli". Baginya, kemustahilan itu tidak ada. Oleh karena itu, ia harus melampaui apa yang ada dari sekarang dan tidak cepat puas dengan apa yang diraihnya, termasuk soal passion.

“Setelah berbisnis, ternyata perkuliahan komunikasi bisa diaplikasikan ke mana-mana. Yang bisa diambil dari kuliah saya dulu adalah estetika dan story telling. Semuanya bisa jadi nilai lebih dalam bisnis ini karena melibatkan kekreatifan,” pungkas Tano membicarakan soal kemampuan yang didapatnya dari perkuliahan.

Berkat bisnis bakpia keluarga ini, Tano kini punya definisi sendiri soal passion. “Passion akhirnya menjadi nyata ketika kamu lulus kuliah, kembali ke rumah, membangun bisnis keluarga, dan banyak bertemu orang-orang hebat karenanya,” tutup Tano mengakhiri wawancara.

Mungkin Tano adalah salah satu dari sekian banyak orang yang membuktikan kalau passion itu tidak terbatas. Passion juga berkembang semakin luas dan dapat diaplikasikan ke berbagai bidang, khususnya bisnis. Lalu, bagaimana dengan kamu? Siapkah mengembangkan passion lewat bisnis?



Penulis          : Febriyanti Revitasari

Editor            : Yuana Anandatama

Foto              : Hanung Hambara

Tags : my job, kuliner, enterpreneurship, bisnis, bakpia hits,
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli | CAREERNEWS
1484288745_homepag_event_1.png