Freelance, Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB

Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis

Alumnus Fakultas Hukum satu ini mengaku menggeluti bidang jurnalistik sejak bangku kuliah. Kini, isu lingkungan hidup sudah jadi santapannya sehari-hari.
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Minatnya terhadap bidang jurnalistik memang semakin berkembang sejak bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (Persma) kampusnya, Universitas Islam Indonesia. Pria bernama lengkap Tommy Apriando ini kini dikenal sebagai salah satu jurnalis senior di Mongabay.com.

Tommy Apriando meliput isu-isu yang berkisar mengenai lingkungan hidup dengan fokus wilayah Jawa Tengah dan Bali. “Saya ditugaskan meng-cover daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tapi memang lebih intens di Jogja,” papar pria yang akrab disapa Tommy ini. Seluruh jurnalis daerah di Mongabay memiliki status sebagai kontributor.


Pilihan karir anti-mainstream

Tommy bergabung di Persma Fakultas Hukum UII sejak awal tahun 2008. Ia mengaku mulai menikmati bidang jurnalistik. Banyak aktivitas yang dijalaninya selama aktif di Persma, seperti foto jurnalistik, editing, produksi majalah, rapat redaksi, dan berbagai aktivitas pers lainnya. Saat itu ia banyak melihat lulusan hukum rata-rata memilih profesi yang terbilang mainstream. “Paling jadi pengacara, jaksa, atau paling mentok pegawai bank,” tukasnya. Karena itulah, ia ingin keluar dari jalur mainstream itu dan mulai melirik profesi sebagai jurnalis.

Hanya saja, ia memiliki kekesalan terhadap banyaknya mafia hukum yang beredar, yang menurutnya tidak banyak dikritisi oleh media. “Aku masih pingin bergelut di dunia hukum dulu,” ujarnya. Ia pun memutuskan mengambil cuti satu semester di akhir masa perkuliahan untuk magang di Kontras, lembaga bantuan hukum milik almarhum Munir.

Di Kontras, hal-hal yang digeluti oleh Tommy adalah seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Saat itu, ia mengikuti berbagai aktivitas seputar HAM seperti investigasi, kampanye HAM, dan lain sebagainya. Keaktifannya ini berbuah pasca merampungkan kuliahnya di tahun 2012, Tommy kembali ditarik oleh Kontras. Saat bekerja di Kontras, ia berpikir bahwa dirinya butuh sesuatu yang lain. Bekerja dan tinggal di Jakarta membuatnya tidak bisa bergaul di lingkungan sosialnya. Meskipun jam kantor berakhir pukul 5 sore, ia baru selesai dan pulang sekitar pukul 10.00-11.00 malam. Melihat hal ini, Tommi bertekad dan memutuskan untuk lebih memilih profesi jurnalis yang dikenal memiliki jam kerja fleksibel.

Mongabay tempat kerjanya saat ini pun menawarkan lokasi di Yogyakarta, dengan ritme kerja cenderung santai.


Ritme kerja yang menyenangkan

Sebelum memulai kerja di Mongabay, sebenarnya Tommy bisa dibilang buta terhadap isu lingkungan. Ia mengatakan dirinya sempat blank dengan isu lingkungan yang akan ia bahas. “Untungnya di Kontras dulu isu tentang konflik lingkungan banyak, di Persma juga sempat beberapa kali membahas tentang pertanian dan lingkungan, jadi sedikit punya gambaran,” jelas pria kelahiran Simbarwaringin, 10 April 1989 ini.

Isu tentang lingkungan selalu berkaitan dengan alam dan satwa. Selama ini, ia tidak pernah kebingungan untuk mengangkat suatu tema. Yang menjadi tantangan justru bagaimana menentukan angle dari tulisan yang akan dibuat. “Butuh eksplore saja, apa yang menarik. Jangan sampai kita angkat angle yang sudah diliput media lain, itulah gunanya riset pra-penelitian,” ujarnya.

Memiliki passion di bidang jurnalistik membuat Tommy sangat menikmati pekerjaannya ini. Jika jurnalis media lain setiap hari harus mencari berita maka berbeda dengan jurnalis Mongabay. Dalam satu pekan, menghasilkan 2-3 berita saja terbilang sudah bagus, bahkan kadang hanya satu berita dengan in depth reporting juga sudah bagus.

Di Mongabay, setiap jurnalis diberi honor berdasarkan jumlah kata dalam artikel yang telah diedit oleh editor dan diterbitkan. “Jadi, misalnya minggu ini aku sudah bikin 2000 kata, ya sudah cukup berikutnya bikin tulisan pendek saja. Setelah itu ya, liburan,” ujarnya sambil terkekeh.

Tommy beberapa kali ditugaskan untuk meliput isu lingkungan di luar Jawa Tengah dan DIY. Hal ini biasanya merupakan kebijakan yang diambil redaksi untuk meng-cover suatu daerah yang isunya dinilai sedang menarik. Sedangkan contributor di daerah tersebut tidak bisa turun lapangan lebih dari tiga hari, kebanyakan karena juga bekerja di media selain Mongabay.

“Mongabay memang tidak sembarangan pilih jurnalis, harus idealis dan punya integritas baik,” ujar Tommy. Mongabay juga tidak membatasi kontributornya untuk bekerja di media lain. itulah sebabnya terkadang beberapa di antara mereka tidak bisa turun lapangan dalam waktu yang lama karena trip ke daerah tertentu bisa memakan waktu hingga 10 hari. Isu yang diliput pun beberapa sesuai dengan jalur yang ditempuh, misalnya menggunakan perjalanan udara untuk sekali berangkat sehingga banyak artikel yang bisa dibuat.

Dengan lingkungan kerja yang bebas dan menyenangkan ini, Tommy bahkan masih memiliki waktu luang untuk mengelola situs berita bersama teman-temannya Persma dulu. Isu-isu yang dibahas dalam situsnya memang isu yang sifatnya cenderung mainstream tapi tetap tidak mengabaikan prinsip jurnalisme yang baik. Tommy mengatakan artikel karyanya yang tidak diterbitkan Mongabay, ia publish di sana.


Melawan aparat dan tak digubris narasumber

Tommy menceritakan bahwa tantangan yang kerap ia hadapi adalah saat mengumpulkan data di lapangan, terutama pada isu-isu yang berbau konflik. “Tantangannya ya ketat, apalagi untuk liputan investigatif, nyari data, konfirmasi, vefifikasi, semua based on apa yang ada di lapangan,” jelasnya.

Salah satunya saat meliput konflik PLTU di Batang. Masyarakatnya terpecah jadi pro dan kontra. Itu jadi dilema tersendiri karena jika Tommy masuk melalui pihak pro maka ia pasti akan ditolak kontra. Sedangkan jika ia memilih kontra maka akan kesulitan mendapat verifikasi dan tidak digubris.

Selain itu, wilayah konflik selalu berkaitan dengan aparat. “Apalagi, aparat daerah banyak yang tidak baik,” ujar Tommy. Seringkali mereka benar-benar melarang seluruh wartawan untuk meliput apapun mengenai konflik tersebut. Meskipun, semua bisa ditempuh dengan jalur lobi, dengan cara menjelaskan bahwa wartawan dilindungi undang-undang dan merupakan hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar. “Walaupun kadang ada juga, jurnalis yang kritis ditandai, seluruh pasukan diberi tahu agar jurnalis itu dilarang masuk,” papar Tommy.

Bergelut selama dua tahun lebih di bidang lingkungan, tak membuat ilmu yang ditekuni alumni UII angkatan 2007 ini lantas sia-sia. Menurut Tommy, jurnalis harus menyadari dirinya tidak kebal hukum dan bagaimana agar tidak pernah menipu publik dengan berita yang dibuatnya. “Selain itu, aku banyak meliput isu lingkungan tentang wilayah konflik, yang tentu dekat dengan hal-hal hukum,” jelasnya. Menurutnya, banyak sekali liputannya yang beririsan dengan bidang hukum meski tidak fokus sekali.

Isu lingkungan di Indonesia ini bisa dikatakan kalah seksi dengan isu lain. Ia juga mengatakan sendiri bahwa isu lingkungan tidak terlalu penting. Namun, setelah di Mongabay, ia menyadari bahwa lingkungan adalah tema yang sangat penting karena punya kaitan erat dengan kehidupan manusia. Manusia membutuhkan alam dan satwa sementara mereka tidak membutuhkan manusia sepenuhnya. Tommy percaya bahwa alam dan isinya rusak adalah keniscayaan. Namun, manusia harus bijak menggunakannya. “Itu yang kemudian aku kira menarik dan susah keluar dari isu lingkungan di Mongabay ini,” pungkasnya.

Bagaimana apakah profesi Tommy mampu menginspirasimu?



Penulis          : Ratih Wilda O.

Editor            : Yuana Anandatama

Grafis            : Ardiansyah Bahrul A.

Tags : profesi jurnalisme, tip menjadi fotografer, tip fotografi jurnalistik,
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png