Enterpreunership, Rabu, 09/09/2015 09:47 WIB

Ary Kusuma Ningsih: Coba Peluang Bisnis Mochi Es Krim yang Sempat Belum Populer

Suka dengan cita rasa es krim mochi dari Mocipops? Yuk kita kenalan dengan Cici, sosok di balik kesuksesan produk yang sedang nge-hits di berbagai kota ini!
Ary Kusuma Ningsih: Coba Peluang Bisnis Mochi Es Krim yang Sempat Belum Populer
Perkembangan kuliner memang terbilang pesat dan sangat inovatif dengan beragam jajanan yang tak cuma lezat tetapi juga unik. Jika jajanan Jepang bernama mochi ini dulu hanya diberi isian kacang merah, saat ini es krim pun menjadi pilihan isiannya. 

Di Yogyakarta sendiri, jajanan ini sudah cukup menjamur. Salah satunya adalah Mocipops, yang sudah merintis usaha sejak kurang lebih 1,5 tahun lalu, sebelum mochi es krim belum banyak dikenal.

“Usaha ini digawangi hanya oleh tiga orang, yakni saya, kakak saya, dan teman saya,” jelas Ary Kusuma Ningsih, pendiri Mocipops. Siapa sangka, gadis yang akrab disapa Cici ini ternyata adalah alumni Program Studi Elektronika dan Instrumentasi (Elins) UGM. Anak Elins jualan mochi es krim? Siapa takut!


Berawal dari tantangan kakak

Mocipops ternyata bermula dari tantangan kakak Cici. Ia menantang adiknya membuat mochi es krim. “Waktu itu mikirnya ayo buat makanan yang belum populer, terutama di Jogja,” jelas Cici. Saat itu kakaknya mendapat ide dari jajanan Jepang, seperti mochi. Dulu, isian mochi yang hanya berupa pasta kacang merah, sudah mulai menyentuh inovasi dengan diberi isian es krim. Jadilah kakaknya terinspirasi membuat makanan tersebut.

Namun ternyata, tidak semudah itu membuat mochi es krim. Tekstur mochi yang lembut harus dibuat dengan berhati-hati dan dalam suhu yang tepat. Terlalu dingin pun akan merusak teksturnya. Sang kakak sebelumnya pernah mencoba membuat tetapi gagal. Akhirnya Cici merasa tertantang membuat makanan ini. “Risetnya cukup lama, sampai sekitar enam bulan karena memang tidak mudah. Dan kami terus mencoba sampai cita rasanya juga layak jual,” papar gadis kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat ini. 

Saat masih melakukan riset dan melakukan percobaan beberapa kali, untuk pertama kalinya Cici menemukan penjual mochi es krim di Yogyakarta, yaitu saat ada acara di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. “Kemudian kita cicip, dan kemudian jadi percaya diri. Ternyata punya kita enggak kalah kok, beranilah kalau untuk dijual,” tukasnya.

Kemudian, mereka pun mencoba berjualan untuk pertama kali di acara wirausaha mahasiswa yang diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. “Awalnya memang kasih tahu teman-teman, pembeli juga dari teman-teman, dan akhirnya semakin banyak yang tahu dari informasi mulut ke mulut,” lanjut Cici.

Hingga kini, proses produksi masih dilakukan di rumah Cici bersama ibu dan adiknya. Selain itu, Cici juga merekrut pegawai untuk membantu proses produksi. “Untuk produksi, kita merekrut ibu-ibu. Nah, kalau untuk yang berjaga di stan, kita ambil dari kalangan mahasiswa,” paparnya. Jumlah pegawai yang bertugas berjaga di stan sampai dengan saat ini ada 13 orang, dan akan bertambah sebanyak tiga orang untuk persiapan membuka stan lagi di mal Galeria. 


Tak selalu berjalan mulus

Cici menyadari, menjalankan sebuah bisnis bukanlah hal yang mudah. Pasti akan ada kesulitan dan hambatan yang ia hadapi. Di awal saja, ia tentu harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan modal. “Kalau minta orang tua, mungkin akan dikasih. Tapi pride kita tinggi sih, jadi kita waktu itu istilahnya pinjam modal orang tua, dan dengan perjanjian akan dikembalikan dalam jangka waktu sekian bulan, begitu,” jelasnya. Ia melanjutkan, perjanjian tersebut menjadikannya lebih semangat dalam berjualan karena harus memenuhi target tertentu demi pengembalian modal. 

Awal berjualan pun, Cici hanya menggunakan satu kulkas milik orang tuanya dan hanya memakai freezer-nya saja. Seiring berjalannya waktu, kini Mocipops sudah memiliki empat buah freezer besar yang siap digunakan. “Kita kan memang tidak punya sangat banyak modal jadi secara bertahap membeli kebutuhan-kebutuhan seperti itu,” ujar Cici.

Dalam perjalanannya pun, Cici harus berusaha sekuat tenaga agar bisa mendulang sukses. Salah satu hambatan besar yang pernah ia hadapi adalah ketika mengikuti suatu acara. Kala itu, di pagi hari, pegawai yang bertugas jaga menemukan freezer dalam keadaan mati. Padahal di dalamnya ada banyak mochi dan empat ember es krim sehingga semuanya meleleh dan tidak bisa dijual. 

Setelah dihubungi pegawai tersebut, Cici memintanya untuk mengecek kondisi listrik di sana. Ternyata, hanya freezer miliknya saja yang mati. Ada yang mematikan saklar di terminal listrik yang digunakan untuk stan Mocipops. Akibatnya, pagi itu mereka tidak bisa berjualan. Setelah mengoordinasi pembagian produk di tempat lain untuk dibawa ke Seturan, semua bisa tertangani dengan baik. “Alhamdulillah malamnya di sana malah ramai sekali meskipun paginya tidak bisa jualan.”

Cici paham betul, tidak semua orang mendukung dan menyukai kesuksesan Mocipops. Sering kali ia dipandang sebelah mata, bahkan ada yang berwajah tidak enak ketika melihat stan miliknya ramai pembeli. Namun baginya, jika ia menunjukkan emosi dan kepanikan bahkan keputusasaan, mereka yang punya rasa iri dan dengki justru akan semakin senang. Cici pun memilih untuk tetap tenang dan sabar meski kerugian hari itu mencapai sebanyak Rp 700 ribu.

Hambatan lain yang pernah Cici hadapi adalah saat ditawari untuk sewa tempat di daerah Seturan, Yogyakarta. “Saat itu kita sedang semangat-semangatnya, jadi kita mengumpulkan modal untuk sewa di sana,” paparnya. Sayangnya, ternyata terjadi sengketa di sana sehingga modal uang muka yang sudah dibayarkan pun sempat tertahan. Mocipops pun sempat vakum selama beberapa bulan karena hal tersebut. 

“Itu kita jadikan pelajaran untuk crosscheck lagi kredibilitas orang yang mengajak kerjasama. Meskipun terlihat profesional, jangan mudah percaya begitu saja,” lanjutnya. 


Ingin punya kafe sendiri

Setelah mengikuti event di UIN Sunan Kalijaga untuk pertama kalinya, Mocipops mulai aktif mengikuti berbagai event. Tawaran membuka stan di mal pun kemudian datang dari Jogja City Mall yang saat itu baru saja menggelar soft opening. Saat itu, sedang ada event memperingati Natal dan Tahun Baru sehingga banyak stan yang dibuka, salah satunya adalah milik Cici. Setelah menghitung anggaran yang dibutuhkan, akhirnya mereka memberanikan diri untuk bergabung. 

Tawaran lain juga datang dari mal Galeria. Ia dihubungi oleh pihak marketing mal Galeria untuk membuka stan di hall lantai dasar. Tawaran tersebut sekaligus merupakan kerjasama agar Mocipops sendiri bisa menarik massa ke mal tersebut. Cici berada di sana sana pada awal tahun ini selama enam bulan. “Pertengahan bulan September akan buka lagi di Galeria karena kemarin kebetulan di sana sedang renovasi,” ujarnya. Selama enam bulan di sana, Mocipops mampu meraup keuntungan yang tinggi. Omzet tertinggi yang berhasil dicapai adalah sebanyak Rp 60 juta dalam satu bulan.

Bagi Cici, membuka stan di mal memang lebih menguntungkan karena mal sendiri sudah menciptakan crowd. Selain itu, mengikuti event juga menjadi salah satu solusi yang baik dalam meningkatkan penjualan produk dan branding. Asalkan sebelumnya diteliti dahulu, apakah event tersebut diselenggarakan oleh pihak yang kredibel dan dapat dipercaya, dan apakah tenaga serta biaya yang dikeluarkan sesuai dengan keuntungan yang didapatkan. 

Ke depannya, Cici memiliki keinginan untuk membuat kafe sendiri. Ia juga mulai mengembangkan inovasi menu, termasuk menu-menu pendamping es krim. “Tapi itu masih jauh ke depan. Jadi masih berupa target jangka panjang,” tuturnya. Ia juga mengatakan, selain ingin punya kafe sendiri, memiliki tempat permanen di dalam mal juga masih menjadi salah satu keinginannya. “Sejauh ini kita merasa paling ‘aman’ memang ketika berjualan di dalam mal,” lanjut gadis kelahiran 30 Agustus 1992 ini. 

Sempat berganti nama dari Moshi-moshi ke Mocipops karena ternyata sama dengan produk lain yang sudah ada, membuat Mocipops kini semakin berusaha mematangkan branding produknya. Saat ini mereka sedang mengadakan perombakan besar-besaran dari desain produk hingga desain stan. “Untuk desainnya, kita ingin konsisten dengan konsep pop art,” jelas Cici yang sudah 11 tahun menetap di Yogyakarta bersama seluruh keluarganya ini. 

Kendati disibukkan dengan urusan bisnis, alumni Prodi Elins UGM angkatan 2010 ini tidak melupakan cita-citanya sejak dulu sebagai tenaga pendidik. Saat ini, ia bahkan tengah mencoba mendaftar S2 melalui program beasiswa. Ia memang tetap berkeinginan meraih cita-citanya sebagai dosen. Lantas, bagaimana dengan bisnisnya? “Dalam bisnis, kita harus percaya dengan orang lain. Ke depannya, saya ingin merekrut orang lain untuk menangani, jadi tidak melulu saya yang pegang,” pungkasnya sambil tersenyum.

Cici membuktikan, bisnis yang dirintis dari modal pas-pasan dan ilmu yang didapat secara otodidak, akan membuahkan hasil yang memuaskan jika digarap dengan sungguh-sungguh. Mau mengikuti jejak sukses Cici? [CN]



Penulis    : Ratih Wilda O.

Editor      : Rifki Amelia F.

Foto        : Riska Hasnawaty

Tags : my job, enterpreneurship, bisnis, kuliner, makananjadul,
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Ary Kusuma Ningsih: Coba Peluang Bisnis Mochi Es Krim yang Sempat Belum Populer | CAREERNEWS
1484288745_homepag_event_1.png