Enterpreunership, Rabu, 09/09/2015 09:43 WIB

Ibud Puji Priyono: Berbekal Prinsip ‘ATM’, Raih Omzet Cilok Puluhan Juta Rupiah

Siapa sangka passion seseorang bisa saja berubah setelah tercapai? Paling tidak, itulah yang dialami oleh Ibud Puji Priyono, pemilik bisnis jajanan Cilok Imut Ocil. Hasratnya yang begitu besar di bidang perhotelan di masa lampau kini tergantikan oleh bisnis di bidang kuliner.
Ibud Puji Priyono: Berbekal Prinsip ‘ATM’, Raih Omzet Cilok Puluhan Juta Rupiah
Laki-laki yang akrab disapa Ibud ini memang mengaku pernah sangat bercita-cita bekerja di bidang perhotelan. Oleh karenanya, ia sengaja menempuh pendidikan di D3 Pariwisata Perhotelan, Politeknik UNY pada tahun 2000. 

Sayangnya, kejenuhan malah menghampiri ketika karir perhotelan telah dalam genggaman. Rutinitas yang ia lalui terasa monoton. Terlebih, ia tidak bisa menikmati hari libur seperti orang-orang pada umumnya.

Tanpa perlu pikir panjang lagi, laki-laki kelahiran Kebumen, 34 tahun yang lalu ini, nekat keluar dari tempat kerjanya. Lantas, bisnis kulinerlah yang terlintas di pikirannya. Dengan modal Rp 5 juta, ia membeli franchise warung Loempia Boom yang mana merupakan usaha kuliner keluarganya sendiri. 

Meski merupakan bisnis keluarga, Ibud memilih manajemen terpisah dengan keluarganya. Alasannya, ia sudah memiliki keluarga sendiri dan ingin lebih mandiri. Oleh karena itu, warung Loempia Boom yang ia kelola di daerah Klebengan, Yogyakarta, pun sukses dan ikut meroketkan namanya.


Jajal prinsip ‘ATM’

Barangkali memang ada banyak ide bisnis kuliner dalam benak Ibud. Meski bisnis warung Loempia Boom yang ia tekuni terbilang sukses, ia masih ingin menjajal bisnis kuliner lainnya lagi. Jajanan seperti kentang ulir dan mendoan merupakan sejumlah ide yang telah diwujudkannya. Sayangnya, bisnis tersebut tak sanggup lagi ia teruskan. Kentang tak tahan lama dan sudah cukup membosankan bagi pembeli. Sedangkan mendoan terkendala bahan baku yang harus diambil dari daerah asalnya, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

“Cilok cenderung awet dan tahan lama. Cukup disimpan dalam freezer, dia sudah aman,” ungkap Ibud menjelaskan pilihan akhirnya berjualan cilok yang dinamai Cilok Imut Ocil. Ibud melihat jajanan cilok merupakan jajanan yang long lasting dan akan selalu digemari. Namun, Ibud tidak asal-asalan menjual cilok. Baginya, berdagang jajanan tidak boleh sekadar laku. Sebagai faktor pembeda, ia menerapkan prinsip ‘ATM’, yakni Amati, Tiru, Modifikasi.

Cilok yang ia jual sesungguhnya merupakan produk yang sudah sangat biasa ditemui di hampir semua sudut jalanan Kota Yogyakarta. Namun, Ibud memilih untuk memodifikasinya lagi dengan pilihan rasa yang beragam dan kekinian. Melalui resep yang diperolehnya dari tabloid kuliner langganan, laki-laki ramah ini mantap menjajakan cilok dengan topping rasa Cheese Bolognese, Cheese Mayo, Mushroom Blackpepper, Tuna BBQ, dan Beef BBQ yang mana tengah digandrungi anak muda. 

Hasilnya? Cilok kekinian ala Ibud disukai anak muda dan selalu ludes di tiap pameran yang diikutinya. Dua gerai cilok bernama Ocil Corner bahkan berhasil dibuka. Salah satunya di Jl. Kaliurang km. 5, dekat dengan area kampus UGM yang strategis dan selalu ramai oleh anak muda.

Meski begitu, awal mula memulai bisnis cilok kekinian ini diakuinya tidak langsung sukses. Dengan modal pas-pasan dari bisnis Loempia Boom, Ibud mengembangkan Ocil secara bertahap. Anggaran Rp 2 juta dikeluarkannya untuk membuat booth, x-banner, dan bahan-bahan cilok. Sebagai percobaan, ia mulai menawarkan cilok di Sunday Morning atau SunMor UGM pada Agustus 2014. “SunMor adalah arena yang sangat tepat untuk mencoba bisnis baru. Di sana, kita bisa melihat respons konsumen langsung terhadap produk yang kita jual,” papar Ibud yang tak segan turun tangan langsung melayani pelanggan.

“Awalnya, saya menjual cilok yang ditusuk seperti sate. Satu tusuk isiannya tiga. Ada sosisnya, ada cilok originalnya juga. Lalu dikemas dalam kotak makan mika. Rp 5 ribu sudah dapat dua tusuk,” kisah laki-laki yang dibantu istrinya dalam memasak cilok ini. Dari situ, ia mendapatkan masukan jika orang-orang menginginkan cilok dalam jumlah yang lebih banyak dan ukuran yang lebih kecil agar mudah digigit. Inovasi yang dilakukannya kemudian adalah mengganti kemasan cilok dengan cup kue muffin. Isi cilok pun dibuat 10 biji dengan harga Rp 3 ribu.

Tak henti berinovasi, akhirnya Ibud mendapat ide untuk mengganti saus cilok yang berbeda dari pedagang cilok kebanyakan. Semua bahan ia dapatkan dengan mudah di pasaran Kota Yogyakarta. Ia juga menggunakan saus yang bermutu dan tidak sembarangan. Kini muncullah ragam rasa seperti yang sekarang bisa dipesan di gerainya.

Kerja keras Ibud akhirnya berbuah manis. Ocil Corner di Jl. Kaliurang yang berdiri pada Maret 2015 pun mampu menghasilkan omzet bersih sekitar Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per bulan. Itu pun baru dari satu gerai dan belum dihitung dengan gerai-gerai lain, beserta pameran yang diikuti.


Tidak melupakan sisi spiritual dalam berbisnis

Setelah melalui masa percobaan selama 3-4 bulan di SunMor UGM, Ibud memutuskan untuk mulai memasuki pameran-pameran. Salah satunya pameran di Pasar Ngasem pada gelaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2014. Para pembeli mengaku ketagihan dengan ‘cilok kekinian’ Ibud. Sejak itu, ia pun mulai serius membenahi branding, rasa, dan kualitas Ocil. Lewat pameran-pameran yang ia ikuti, tak jarang ia mendapatkan tawaran untuk franchise. Di luar dugaan, Ibud menolaknya. “Meski sangat efektif menambahkan income tetapi saya tetap ingin fokus untuk mempertahankan kualitas Ocil supaya tetap terjaga,” tegas laki-laki yang baru-baru ini juga membuka bisnis minuman bernama Dawet Kemayu.

Ia pun mengaku sangat menginvestasikan bisnisnya pada sisi desain grafis karena ini sangat berpengaruh pada branding bisnisnya. “Ocil punya tim konsultasi dan bayar mahal di desain grafis,” terang Ibud. Manfaat dari desain grafis semakin dirasakannya ketika ia melakukan promosi lewat media sosial, brosur, event-event yang diikutinya, dan tak terkecuali desain gerai Ocil. Dari sekian promosi yang dilakukannya, pameran merupakan cara yang paling potensial untuk mengenalkan Ocil.

Menyoal nama atau merek yang diusungnya, bisa dikatakan Ocil sendiri semacam akronim dari O Cilok. “Dari jauh, orang-orang penasaran membaca nama Ocil, Ocil. Apaan sih Ocil? Setelah didekati, oh ternyata, Oooo Cilok,” terang Ibud penuh semangat.

Ke depannya, Ibud bercita-cita ingin membawa Ocil masuk ke mal agar cilok bisa naik kelas dari jajanan pinggir jalan. “Cilok bisa masuk ke mal aja itu udah bagus banget,” ungkap Ibud menceritakan pengalamannya mengikuti Food Carnival di Plaza Ambarukmo pada akhir Agustus 2015. Dalam jangka panjang, ia pun ingin bisa membawa Ocil lebih luas di seputar wilayah Joglosemar, alias Kota Jogja, Solo, dan Semarang.

Dari sekian suka-duka Ibud dalam berbisnis kuliner, ada satu hal yang tidak pernah ia lupakan: sisi spiritualitas, yaitu sedekah, doa, dan niat. “Asal kita enggak lupa doa aja sama Tuhan, pasti usaha lancar,” tambah Ibud yang selalu merasakan setiap kendalanya selalu terpecahkan berkat kekuatan doa. Ibud juga selalu menyisihkan 2,5 persen dari keuntungannya untuk disumbangkan ke panti asuhan. 

Berwirausaha memang tidak bisa instan. Seperti Ibud, kamu perlu mengalami proses yang panjang. Jatuh-bangun serta trial and error bahkan harus jadi teman yang senantiasa diakrabi. Namun jika kamu jeli melihat pasar, senantiasa percaya kepada Tuhan, serta konsisten menjalani setiap bagian prosesnya, percayalah jika sukses wirausaha bukan lagi hal yang mustahil kamu kecap nikmatnya nanti! [CN]



Penulis    : Febriyanti Revitasari

Editor      : Rifki Amelia F.

Foto        : Adityo Ramadhan D.

Tags : makananjadul, my job, kuliner, enterpreneurship, bisnis
Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan Enterpreunership,
Senin, 14/11/2016 09:35 WIB Rubby Emir: Penyandang Disabilitas Juga Perlu Pekerjaan
Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda Enterpreunership,
Rabu, 09/11/2016 11:35 WIB Chasan Muhammad: Sukses Kelola Tiga Bisnis di Usia Muda
Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing Enterpreunership,
Selasa, 05/01/2016 11:08 WIB Fandi Rahmat Widianto: Mengambil Peluang dari Referensi Jajanan Asing
Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli Enterpreunership,
Selasa, 22/12/2015 11:07 WIB Tano Nazoeaggi: Bekerja dan Berkarya Lebih dari yang Asli
Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan Enterpreunership,
Rabu, 09/09/2015 09:45 WIB Muhammad Ridho: Sukses Terinspirasi Jajanan Kesayangan
Ibud Puji Priyono: Berbekal Prinsip ‘ATM’, Raih Omzet Cilok Puluhan Juta Rupiah | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png