Office Hour, Selasa, 24/02/2015 10:00 WIB

Teguh Wicaksono: Jurnalis Travel yang Menekankan Rasa dalam Cerita

Ada jurnalis yang pekerjaan utamanya adalah jalan-jalan. They are travel journalist. Benarkah cuma jalan-jalan?
Teguh Wicaksono: Jurnalis Travel yang Menekankan Rasa dalam Cerita
Baru-baru ini, traveling menjadi  salah satu hobi yang banyak digemari berbagai macam kalangan. Berbagai alasan melatarbelakangi, mulai dari alasan untuk rihat dari rutinitas, berburu kuliner, mencoba destinasi wisata  baru, hingga melampiaskan jiwa petualang yang gemar menjelajah berbagai macam tempat asing.

Hanya saja, hobi yang satu ini memang tidak tergolong dalam hobi ‘murah’. Pengeluaran akan tetap ada walaupun bisa diatur dengan baik untuk mengoptimalkan penghematan. Namun, buat kamu yang hobi traveling, pernahkah berpikir untuk melakukan traveling tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun? Bahkan tak hanya mengeluarkan biaya tetapi juga bisa menghasilkan uang! 

Itulah salah satu profesi yang pernah ditekuni Teguh Wicaksono dalam perjalanan karirnya di dunia jurnalisme. Mendulang pengalaman dari media global sekelas National Geographic, menjadikannya seorang jurnalis travel yang mampu menghadirkan tidak hanya informasi tetapi juga rasa paling nyata tentang sebuah tempat atau peristiwa kepada para pembaca.


Konteks cerita menjadi pembeda artikel perjalanan

Dua tahun pengalaman Teguh menjadi jurnalis travel di National Geographic Indonesia menjadikan konteks cerita terhadap karya jurnalistiknya sebagai fokus utama peliputan. Pasalnya, di era digital, semua orang bisa mendapatkan informasi mengenai destinasi wisata, baik itu peta lokasi, wisata kuliner, dan sebagainya hanya dengan berselancar di Google tanpa membaca artikel perjalanan. 

Ketika mencari informasi, orang memiliki kecenderungan untuk mendapatkan informasi yang tepat, singkat, dan akurat. Menulis sebuah artikel perjalanan tanpa disertai konteks cerita hanya akan membuatnya seperti kumpulan informasi yang dikemas dalam kata-kata berlebihan, cenderung membosankan, dan kurang memiliki ‘kekuatan’ untuk menarik minat pembaca agar menelusurinya lebih jauh.

“Konteks cerita membuat sebuah artikel perjalanan menjadi karya yang objektif, tanpa harus membosankan,” ungkap jurnalis yang pernah meraih penghargaan dari UNESCO Fellowship for Journalists pada tahun 2012 lalu ini. Konteks itulah yang menjadi ciri khas suatu artikel perjalanan sehingga mampu menjadi semacam medium untuk menyampaikan tidak hanya informasi tetapi juga ‘rasa’ yang paling nyata tentang sebuah tempat atau peristiwa. 


Godaan bekerja di tempat berlibur

Menjadi seorang jurnalis travel, bagi Teguh tidak selamanya berisi ‘jalan-jalan nyaman’. Seorang jurnalis travel harus siap dengan segala macam medan karena penjelajahan tempat-tempat destinasi wisata tidak hanya dilakukan di tempat-tempat ‘mainstream’ tetapi juga tempat-tempat terpencil. Jadi, seorang jurnalis travel sangat diwajibkan untuk melakukan riset terlebih dulu sebelum terjun ke lapangan. “Jangan datang ke suatu tempat tanpa riset dan agenda yang pasti. Datang tanpa hasil riset akan membuat perjalanan Anda percuma,” tuturnya.  

Riset dan agenda menuntun seorang  jurnalis travel  untuk mampu bekerja secara profesional dan efektif.  Pada dasarnya, jalan-jalan yang dilakukan oleh jurnalis travel bukan merupakan liburan melainkan pekerjaan sehingga profesionalitas akan senantiasa menjadi tuntutan. Menurut Teguh, hal ini merupakan tantangan lain dari seorang jurnalis travel. Melakukan liputan traveling berarti bekerja di tempat orang-orang berlibur sehingga godaan suasana liburan sering kali dihadapi oleh jurnalis travel. 


Perluas comfort zone

Kemampuan untuk cepat beradaptasi terhadap berbagai macam lingkungan menjadi nilai tambah tersendiri bagi seorang jurnalis travel. Namun bagi Teguh, yang pernah melakukan berbagai macam ekspedisi di beberapa wilayah Jawa dan Asia, kemampuan cepat beradaptasi mutlak dibutuhkan oleh seorang jurnalis travel.  

Seorang jurnalis travel tidak akan berdiam di satu jenis lingkungan. Ia akan berpindah-pindah di berbagai macam setting tempat, gunung-laut-hutan, ataupun gedung. Adaptasi ini terkait erat dengan pengenalan dan penguasaan medan. Semakin tinggi kemampuan adaptasi yang dimiliki oleh seorang jurnalis travel, semakin dalam ia mengenal tempat dan semakin tajam ‘rasa’ yang bisa dihadirkan kepada pembaca lewat tulisannya. “Kemampuan beradaptasi bisa dilatih dengan memperluas comfort zone kita,” pungkasnya.

Jalan-jalan sambil dapat uang tentu terbayang menyenangkannya. Namun ternyata profesionalitas menjadi tantangan tersendiri ketika menjadi jurnalis travel. Apakah kamu berminat mengikuti jejak Teguh bekerja mengulik makna perjalanan? Berikan komentarmu di bawah ya! Kamu juga bisa baca tulisan-tulisan Teguh yang dimuat di National Geographic berikut ini:

1. Cantiknya Sipiso-Piso

2. Reinkarnasi Indonesia dalam Perkusi

3. Indahnya Danau Raksasa di Semenanjung Indochina

Atau kamu masih bingung mau mengisi liburan dengan kegiatan apa? Artikel berikut bisa kamu baca. Semoga menginspirasi! [CN]



Penulis    : Grattiana Timur

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Foto         : dok. pribadi

Grafis      : Hero Oka

Tags : profesi jurnalisme, menghasilkan uang saat liburan, profesi alternatif,
Teguh Wicaksono: Jurnalis Travel yang Menekankan Rasa dalam Cerita | CAREERNEWS
1486001424_top_banner_homepage_cn.png