Freelance, Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB

Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto

Konon satu foto saja bisa banyak bercerita layaknya seribu kata. Jadi, siapa bilang jadi wartawan foto itu mudah?
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Validitas sebuah berita tak bisa lepas dari jepretan kamera yang menyertainya. Dari hasil jepretan kamera itulah sebuah peristiwa dapat didokumentasikan dengan baik sehingga terekam dalam ingatan masyarakat. Memotret sebuah peristiwa bukan perkara mudah. Di sinilah pentingnya peran wartawan dalam menyampaikan peristiwa sesuai dengan realitas.  

Hadirnya foto dapat membantu pembaca mengetahui suatu berita secara lebih jelas. Itulah tugas yang diemban oleh Suryo Wibowo, kontributor foto Koran Tempo.

Mengaku pernah bercita-cita sebagai teknisi pesawat terbang hingga menjadi seorang arkeolog, saat ini Suryo justru mencintai pekerjaannya sebagai wartawan foto. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini bergabung dengan Koran Tempo sejak 2010. 

Sebelumnya, sejak 2005 hingga 2007, Suryo merupakan fotografer pre-wedding, pernikahan, khitan, arisan, hingga kematian. Tak mudah baginya menjalani profesi sebagai fotografer karena pada waktu itu ia belum memiliki kamera sehingga harus menyewa milik teman-temannya. “Jadi misalnya saya dapat berapa (pendapatan, -red), saya kasih ke mereka berapa persen begitu,” ucap Suryo.  


Kenangan pahit: mengganti lensa rusak

Pada awal karirnya sebagai fotografer, ia bekerja di salah satu penyedia jasa foto pre-wedding. Serba-serbi peristiwa pernah ia rasakan saat menjadi fotografer pre-wedding. Mulai dari hanya dibayar Rp 150 ribu hingga harus mengganti lensa kamera seharga Rp 5 juta. 

Ia pernah harus mengganti lensa milik temannya karena mengalami kecelakaan saat mengerjakan job pre-wedding di Makassar. Becak yang ia tumpangi terserempet mobil sehingga kamera terjatuh dan terdapat goresan sekitar satu sentimeter pada lensa. Suryo pun harus utang sana-sini untuk mengganti kamera yang ia pinjam. “Waktu itu memang kenangan yang paling pahit tapi kalau aku enggak mengalami itu mungkin aku enggak merasa berusaha,” kata Suryo. Itulah yang membuatnya merasa harus mengembangkan diri supaya lebih dihargai orang.

Suryo pun mencoba mempromosikan diri dengan membuat blog pribadi. Ia mengunggah foto-foto karyanya di blog yang ia buat sejak 2007 yaitu suryowibowo.blogspot.com. “Saya taruh foto-foto yang sag ya buat, jelek atau bagus. Waktu itu yang menurut saya bagus, saya pasang di blog,” kenang Suryo saat menceritakan perjuangannya. 

Menurutnya, blog inilah yang mengantarkannya terjun menjadi wartawan media. Pada 2008, ada seseorang yang menghubunginya untuk menjadi fotografer di majalah Clara. “Itu pertama kalinya saya memotret untuk media,” ujar Suryo. 


Tertantang dengan foto jurnalistik

Merasa tidak puas menjadi wartawan foto bagi majalah gaya hidup yang bersegmentasi pada kelas menengah ke atas, ia memutuskan untuk mencari spesialisasi dirinya. “Scope-nya terlalu sempit: wanita, gaya, kuliner, memotret orang party dan segala macam,” ungkap Suryo. 

Kemudian Suryo melihat foto-foto jurnalistik dan ia merasa tertantang untuk mempelajarinya lebih dalam dengan mengikuti workshop Galeri Foto Jurnalistik selama satu tahun. “Terus sebelum lulus dari situ (Galeri Foto Jurnalistik, -red) saya sempat memotret untuk KBN (Kantor Berita Nasional, -red) Antara tiga bulan, terus saya ditawari untuk masuk ke Tempo,” kata Suryo menjelaskan perjalanan karirnya.

Sekian tahun berkecimpung di dunia fotografi, Suryo sering kali bersitegang dengan pihak-pihak yang terkait dengan objek foto yang diambilnya. Bahkan ia pernah ditodong parang saat sedang mendokumentasikan suatu kejadian. Ketika itu Suryo tengah menggarap story tentang harm reduction dalam rangka pengurangan risiko penyebaran HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba jarum suntik di Jakarta. 

“Aku butuh foto orang menggunakan narkoba suntik. Bukan candid, bukan dibuat, aku harus minta izin kepada orang yang aku foto,” terangnya menceritakan kembali. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan Suryo mempunyai program membagikan jarum suntik steril sehingga diharapkan persebaran HIV/AIDS dapat berkurang. 

Suryo pun mengambil foto pemakai narkoba sedang menyuntikkan jarum ke tubuhnya. “Setelah aku memotret itu ada orang mengancam, bawa parang, dia tanya ‘wartawan ya, ngapain kamu motret-motret’?” kenangnya. Suryo bisa selamat berkat warga yang melintas dan mengatakan bahwa Suryo bukan wartawan tapi bagian dari LSM yang membagikan jarum suntik.


Go international

Suryo menyadari betul risiko menjadi wartawan foto. Ia sering kali dihadapkan dengan situasi penuh ketegangan dan emosi. Namun itulah yang membuatnya semakin terlatih, hingga foto-fotonya dipakai kantor berita internasional seperti Agence France-Presse (AFP), D+C Magazine, TIME.com, dan New York Times. Agar kredibilitasnya sebagai fotografer semakin diakui media internasional, Suryo pun membuat blog baru yaitu suryowibowo.weebly.com. Dalam blog baru ini, foto-foto yang diunggah Suryo lebih artistik, ia pun menggunakan bahasa Inggris dalam mendeskripsikan foto-fotonya.

Perkembangan karir Suryo mulai menampakkan hasilnya. Mulai hanya dibayar dengan ratusan ribu rupiah hingga dibayar menggunakan dollar dan euro. Ia pun semakin menelateni pekerjaannya menjadi wartawan foto. Suryo juga mengakui telah terjadi revolusi dalam dunia fotografi. “Mau enggak mau sekarang kita ini di dunia social media. Kamera SLR akan disaingi oleh kamera HP. Wartawan akan disaingi oleh citizen journalism, disaingi oleh Twitter,” tuturnya. 

Akan tetapi, menurut Suryo, kelebihan wartawan ialah mempunyai kredibilitas, sedangkan sumber media sosial belum tentu bisa dipertanggungjawabkan meskipun memang lebih cepat. “Ke depan, aku sebisa mungkin mengimbangi kecepatan dari citizen. Jadi aku harus mengembangkan diriku sendiri untuk menghadapi konvergensi media itu. Aku akan lebih mengembangkan diri dalam multimedia,” pungkas Suryo. 

Apakah kamu juga memiliki minat untuk menangkap momen bernilai jurnalistik seperti yang dilakukan Suryo? Bagikan komentarmu di bawah yuk!

Mungkin kamu juga tertarik menjadi fotografer fashion? Baca cerita Ig Raditya Bramantya di sini! [CN]



Penulis    : Desinta Wahyu K

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Foto         : Adityo Ramadhan D.

Tags : profesi jurnalisme, tip menjadi fotografer, tip fotografi jurnalistik,
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik Freelance,
Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis Freelance,
Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto Freelance,
Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto | CAREERNEWS
1486001424_top_banner_homepage_cn.png