Freelance, Senin, 16/02/2015 09:00 WIB

Ig Raditya Bramantya: Jadi Jurnalis Fashion Itu Enggak Bakalan Ada Matinya

Mendengar kata fashion, pasti pertama kali yang terpikirkan adalah tentang cantik, glamor, dan elegan. Apa betul?
Ig Raditya Bramantya: Jadi Jurnalis Fashion Itu Enggak Bakalan Ada Matinya
Begitulah seorang penikmat fashion menikmati setiap sudut yang ditampilkan oleh peraga busana, ataupun saat melihat foto di majalah fashion. Namun tahukah kamu apabila konsep foto fashion harus dipikirkan sedemikian rupa sehingga layak ditampilkan dan bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk penikmatnya? 

Hal seperti itulah yang dilakukan oleh Ig Raditya Bramantya, yang saat ini bekerja sebagai Editor FashionTV Asia. Menurutnya, dalam konsep foto fashion, segala hal mengenai proses dan persiapan tidak kalah penting dengan hasilnya. 

“Sebuah karya seni fotografi di bidang fashion itu tidak lepas dari yang namanya riset tentang konsep apa yang akan difoto, seperti latar belakang bahan dan gaya desainernya. Selain itu perencanaan pemilihan model juga harus sesuai dengan gaya busana dan konsep yang ada, dan yang terakhir adalah keberanian untuk eksperimen mencoba hal-hal yang out of the box sehingga penikmat tidak jenuh dengan gaya yang itu-itu saja,” terang laki-laki kelahiran 4 Februari 1991 ini saat ditemui di acara Akademi Berbagi Jogja yang bertemakan "Fashion Concept Photography”, Minggu (1/2) lalu. 


Terbang ke Paris, bekerja dengan Tex Saverio

Berbicara tentang perjalanan karir Bram, sapaan akrabnya, menjadi salah satu editor FashionTV Asia di umur yang baru menginjak 24 tahun adalah sesuatu yang membanggakan untuknya. Saat ditanya bagaimana pertama kalinya ia bisa masuk ke dunia fotografi fashion, Bram berkisah tentang perjalanan karirnya yang luar biasa. 

“Sebenarnya dulu aku adalah seorang fotografer untuk salah satu perusahaan buku tahunan. Lalu aku ada sebuah proyek untuk mengerjakan profil seorang desainer yang akan mengikuti Jakarta Fashion Week. Nah, dari situlah hasil karyaku ternyata memuaskan klien dan aku pun ditawari untuk menjadi official photographer Jakarta Fashion Week 2013 dan 2014,” kenangnya. 

Hasil karyanya yang mengusung foto artchy dan diambil dari sudut pandang berbeda di Jakarta Fashion Week inilah yang akhirnya membuat majalah Femina merekrutnya untuk menjadi salah satu fotografer di sana. 

Jalan untuk menuju karir yang lebih tinggi ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Tahun 2014 lalu, laki-laki yang masih terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan TV dan Film di Institut Seni Indonesia (ISI) ini memenangkan kompetisi "Go A Head Challenge" di mana pemenangnya terbang ke Paris untuk bekerja dengan desainer muda Indonesia Tex Saverio dan fotografer fashion kenamaan Michel Dupré. 

“Dari proyek di Paris inilah FashionTV melihat hasil karyaku dan mereka tertarik untuk merekrutku,” jelasnya. “Pertama, aku dikasih tantangan untuk menampilkan sesuatu yang beda. Lalu dari situ aku mempunyai ide untuk mengombinasikan video dan foto fashion menjadi satu. Dan mereka tertarik dengan konsep yang aku suguhkan itu,” ujar alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta ini. 


Bekerjalah dengan passion

Bram menambahkan, menjadi orang yang berprofesi sebagai jurnalis fashion itu tidak akan ada habisnya. “Fashion itu kan gaya hidup dan gaya hidup itu enggak bakalan ada matinya, selalu update trennya setiap saat. Jadi, peluang berkarir di bidang industri fashion itu akan selalu ada,” tuturnya. 

Saat ditanya tentang hal apa saja yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis fashion, Bram menuturkan bahwa yang terpenting adalah passion dan percaya diri. “Menurutku kalau mau menjadi jurnalis fashion ya dia harus punya passion di situ. Selain itu, yang terpenting adalah percaya diri untuk mencoba ide-ide yang baru,” ujar laki-laki asli kota gudeg ini. 

Selain itu, Bram juga berpesan untuk mereka yang ingin menjadi seorang jurnalis fashion, baik fashion photography, fashion writers, ataupun fashion concept, bahwa tantangan untuk bekerja di industri fashion itu sangat besar. 

Gaya hidup makin berkembang, majalah dan dunia fashion juga semakin berkembang. Tantangan untuk orang yang bekerja di bidang ini pastinya adalah persaingan yang ketat. 

“Majalah-majalah fashion yang ternama itu induknya dari luar negeri. Mereka biasanya lebih membutuhkan SDM dari luar juga, sehingga kami (jurnalis fashion Indonesia, -red) yang ingin berkarir di luar negeri dituntut untuk selalu menemukan ide-ide dan eksperimen-eksperimen baru untuk menemukan konsep yang baru,” tambahnya. 

Ternyata dunia jurnalis fashion sangat dinamis bukan? Tidak ada salahnya untuk mencoba dan mengeksplorasi diri kita apabila mempunyai passion di bidang ini. Siapa tahu kamu akan menemukan peluang karir yang cemerlang seperti Bram. Bagikan kisah inspiratif ini, yuk! Kamu juga boleh memberikan komentar di bawah. Selamat berkarya! [CN] 



Penulis    : Betty Isnawati

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Foto         : Adityo Ramadhan D.

Tags : profesi jurnalisme, freelance photographer yogyakarta, profil karir mahasiswa,
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik Freelance,
Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis Freelance,
Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto Freelance,
Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Ig Raditya Bramantya: Jadi Jurnalis Fashion Itu Enggak Bakalan Ada Matinya | CAREERNEWS
1486001424_top_banner_homepage_cn.png