Freelance, Minggu, 15/02/2015 09:00 WIB

Rizkie Nurindiani: Jurnalis Kuliner Tak Sekadar Dibayar untuk Makan

Dibayar untuk makan. Menjadi seorang jurnalis kuliner mungkin adalah salah satu pekerjaan paling menyenangkan, jika dilihat dari permukaannya saja. Namun benarkah demikian?

Rizkie Nurindiani: Jurnalis Kuliner Tak Sekadar Dibayar untuk Makan
Bertahun-tahun menekuni karir sebagai seorang jurnalis kuliner, mungkin telah menjadi bukti tersendiri bagi sosok Rizkie Nurindiani, bahwasanya profesi yang ia tekuni sangat menyenangkan. Wanita kelahiran 17 Mei 1982 yang kerap disapa Indie ini, telah malang melintang di ranah kuliner semenjak memasuki dunia kerja pascakuliah.

Ditemui Careernews di kediamannya, Selasa (10/2) lalu, ia menceritakan kisahnya sebagai pewarta masakan.

Permainan takdir memperkenalkan sosok ibu satu anak ini ke dunia jurnalistik dan kuliner melalui media online detikFood. Bagaimana tidak, saat itu ia adalah lulusan Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, yang sejatinya tidak berorientasi pada media. Ia bercerita, “Dulu awalnya diarahkan, di Detik dulu, menurut mereka saya cocok di bagian kuliner,”kisahnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Indie merasa bagian kuliner tersebut menarik. “Setelah itu saya keluar dari Detik, kembali ke Jogja untuk membuat trulyjogja.com. Kita meliput segala macam hal termasuk kuliner,” lanjutnya bercerita. Melalui trulyjogja.com yang ia kelola inilah, Tabloid Saji dan Majalah Sedap—sebagai media massa yang memang berorientasi pada kuliner—tertarik untuk menggunakan jasanya sebagai freelancer.

“Karena rasanya selalu baru, jadi terus menarik,” jawabnya ketika ditanya alasan betahnya ia menekuni profesi ini. Kecintaan kepada dunia kuliner turut ia perdalam dengan melanjutkan jenjang kuliah di bidang antropologi kuliner.


Bukan hanya menilai rasa

Pendapat awam terhadap profesi jurnalis kuliner mungkin sederhana. Pergi ke sebuah tempat makan, lalu menilai rasa dari masakan yang disajikan dan membuahkannya dalam sebuah tulisan. Namun Indie mengklarifikasi hal tersebut. Ia menegaskan bahwa dunia kuliner bukan hanya terkait hal ihwal cita rasa.

“Sekarang ini yang dibayangkan orang ketika memikirkan jurnalis kuliner itu: makan-review, makan-review. Padahal itu biasa terjadi di media massa yang umum. Tapi kalau di media massa khusus kuliner, mereka akan membahas kuliner secara luas.” ujarnya menjelaskan.

Banyak aspek yang sejatinya bisa dinilai dari sebuah masakan. Dari koki hingga buku masak yang populer, juga dapat dibahas dalam spesifikasi jurnalis kuliner. Ini menyebabkan hal-hal terkait dialektika menulis tetap dibutuhkan seorang jurnalis kuliner, di luar kemampuannya dalam menilai masakan.

“Kita malah enggak menilai rasa. Biasanya yang dinilai adalah keunikan. Kita juga terkadang menilai kesuksesan kulinernya untuk menjadi inspirasi bagi orang lain,” tuturnya panjang lebar. Ia menjelaskan secara implisit, tentang bagaimana profesi jurnalis memberikan manfaat bagi khalayak. “Intinya adalah memberi inspirasi,” ucapnya mengakhiri perbincangan.

Mungkin kamu hobi menulis sekaligus suka berkelana dan mencicip kuliner? Profesi ini bisa kamu coba. Jangan lupa, kamu tak hanya dibayar untuk makan dan untuk menilai rasa. Baca juga kisah lainnya terkait jurnalisme dan media, seperti Tomi Wibisono, di sini! Keep your dream alive! [CN]



Penulis    : Fahmi Rijal    

Editor      : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah

Foto         : Adityo Ramadhan D.

Tags : profesi jurnalisme, freelancer kuliner, freelance job indonesia,
Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik Freelance,
Selasa, 22/11/2016 13:40 WIB Leilani Hermiasih: Frau dan Kepiawaian Bermusik
Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis Freelance,
Kamis, 17/12/2015 11:09 WIB Tommy Apriando: Lulusan Hukum Berprofesi Jurnalis
Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto Freelance,
Minggu, 22/02/2015 01:30 WIB Suryo Wibowo: Tantangan Menjadi Wartawan Foto
Rizkie Nurindiani: Jurnalis Kuliner Tak Sekadar Dibayar untuk Makan | CAREERNEWS
1486001424_top_banner_homepage_cn.png