Web
Analytics
Career Issue, Senin, 30/07/2018 10:00 WIB

Ini Dia Dilema Resign Bagi Karyawan dan Perusahaan!

Urusan resign tak hanya menjadi dilema bagi karyawan yang akan menjalaninya, namun juga perusahaan yang akan ditinggalkan. Memang seperti apa sih kebimbangan yang sering dialami?
Ini Dia Dilema Resign Bagi Karyawan dan Perusahaan!
Tidak hanya saat diterima kerja, saat akan memutuskan resign pun euphoria tertentu pasti akan dirasakan karyawan. Bedanya, jika diterima kerja kamu akan excited karena memasuki lingkungan baru, sedangkan saat resign kamu excited karena akan meninggalkan zona nyaman untuk membuat zona baru lagi di tempat yang berbeda.

Resign memang menjadi hal yang menarik diperbincangkan. Coba saja disimak, ketika kamu tengah berkumpul bersama teman-teman di kafe dan membahas pekerjaan, obrolan seputar kondisi kantormu saat ini dan tawaran yang lebih menarik di tempat lain pasti akan menyertainya.

Meski menjadi hal yang mudah untuk dibicarakan, tapi tidak demikian ketika menjalaninya. Resign butuh persiapan. Meski kamu sudah merasa tidak nyaman di kantormu sekarang kamu tetap perlu memiliki persiapan lho. Dan resign bukan hanya dilema bagi karyawan, perusahaan pun mengalaminya. Berikut ada beberapa poin seputar resign yang akan dihadapi karyawan maupun perusahaan yang bisa menjadi informasi bagimu sebelum memulai menulis surat resign.


Dilema resign bagi karyawan:

1. Bayangkan hidupmu setelah resign.

Kamu harus bisa mendeteksi apa alasan sebenarnya kamu resign dan apa langkahmu selanjutnya. “Secara psikologis rasakan lebih baik mana antara dulu saat bekerja dan saat setelah resign,” ujar Sri Muliati Abdullah, M.Psi., Psikolog, Staf Ahli ECC UGM atau biasa disapa Lia. Hal ini harus kamu agar keputusan resignmu bersifat objektif.


2. Resign sama dengan meninggalkan zona nyaman

Menurut Risza Ratu Muliartha atau Icha, Senior Supervisor Sales PT Krakatau Posco hal penting saat akan resign adalah mempersiapkan mental diri sendiri. “Rasa nyaman yang sudah terlanjur tercipta di lingkungan kerja yang lama bisa membuat rasa enggan untuk menciptakan zona baru. Namun hal ini sudah pasti akan melunturkan niatan saya untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik (dengan resign ,–red),” jelasnya. Sudah benar-benar siap meninggalkan zona nyamanmu saat ini? Hal ini harus jadi poin yang kamu pertimbangkan masak-maska ya.


3. Jangan jadi pengangguran setelah resign

Hal ini juga yang menjadi pertimbangan utama bagi para karyawan yang ingin memutuskan resign. Kamu perlu memikirkan dan mengambil solusi mau apa setelah kamu resign nanti, apakah mau bekerja di tempat lain, melanjutkan studi, memulai usaha, atau bahkan menikah. Pikirkan bagaimana konsekuensi yang akan dihadapi dengan masing-masing pilihan.


4. Keluar dari pekerjaan saat ini bukan berarti terputus dari kolega yang sudah terbentuk sebelumnya

Buat salinan kontak atau kartu nama dari kolega atau relasi kerja di perusahaan sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar ketika suatu saat kita membutuhkan kerja sama dengan pihak tertentu yang ternyata sama bidangnya dengan pekerjaan sebelumnya, kita tidak perlu membuat jaringan baru. “Pengalaman ini saya terapkan ketika memutuskan pindah dari Tabloid Kontan, Kompas Gramedia Group ke perusahaan kedua yakni PT Agung Podomoro Land. Saat di perusahaan kedua, salah satu jobdesk saya adalah menjalin hubungan dengan media massa. Tentu hal ini tidak sulit bagi saya karena perusahaan sebelumnya pun bergerak dalam lini bisnis media massa,” terang Icha.


5. One month notice

Memutuskan resign bukan berarti kamu harus bersikap acuh tak acuh dengan kondisi perusahaan lamamu. Beri kesempatan perusahaan untuk mecari penggantimu agar proses bisnis tidak terhambat. Sampaikan surat pengunduran dirimu satu bulan sebelum tanggal resign. Hal ini sekaligus menjadi etika baikmu di perusahaan lamamu. Bagaimanapun juga, perusahaan lamamu sedikit banyak telah membentuk dirimu menjadi individu berkualitas seperti saat ini.


6. Jangan sesali apa yang sudah kamu pilih

Tak jarang ada yang merasa menyesal sudah resign dari kantor lamanya, apalagi jika kantor baru yang dimasuki ternyata tidak mampu memenuhi harapannya. “Jika setelah dievaluasi ternyata keputusan resign dinilai sebagai langkah yang salah, maka hal yang sudah terjadi tidak boleh disesali apalagi menyalahkan diri, tetap berpikir positif untuk maju ke depan,” tutur Lia. Hidup harus tetap berjalan ya, Guys! Pasti ada pelajaran positif di baliknya.


7. Balik ke kantor lama?

Dalam kondisi tertentu, ada juga kondisi di mana seorang karyawan yang sudah resign ingin kembali bekerja di kantornya yang lama. Hal ini sebenarnya bukan masalah ketika memang kita tidak resign dengan menginggalkan citra buruk, misalnya kamu terpaksa resign karena harus mengikuti suami bekerja atau mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi.


Oleh karenanya, tetap perhatikan etika resign sebelum keluar dari pekerjaanmu saat ini. “Cari informasi tentang perubahan-perubahan apa yang terjadi selama kamu tidak bekerja di sana. Barangkali ada hal baru yang perlu kamu perhatikan dan upayakan,” ujar Lia. Informasi ini bisa kamu dapatkan dengan bertanya pada HRD atau rekan kerja yang masih bekerja di perusahaan lamamu.


Dilema resign bagi perusahaan yang akan ditinggalkan:

1. Yang terjadi pada pekerjaan ketika kamu resign

Menurut Lia, ada dua hal yang terjadi pada perusahaan ketika kamu resign. Pertama, secara kuantitatif akan ada pekerjaan yang tidak tertangani atau teralihkan pada karyawan lain. Kedua, secara kualitatif perusahaan kehilangan SDM dengan kualifikasi khusus. Hal ini bisa menyebabkan rantai produksi perusahaan terhambat jika tidak segera mencari pengganti.


2. Jalan yang biasa ditempuh perusahaan

Ada beberapa langkah yang dilakukan perusahaan untuk menjauhkan karyawannya dari niatan untuk resign. Salah satunya dengan melakukan exit interview (wawancara yang dilakukan saat ada karyawan yang resign) dan evaluasi terhadap progres capaian performansi karyawan. “Capaian yang stagnan atau menurun bisa menjadi indikator problem yang mengarah pada ketidakpuasan karyawan,” tutur Lia. Hasil kedua evaluasi tersebut bisa menjadi bahan penting untuk membuat kebijakan dan proses kerja yang lebih nyaman baik bagi perusahaan maupun karyawan.


Selain itu, ada juga perusahaan yang mempertahankan karyawannya dengan tawaran-tawaran menarik. Icha misalnya, perusahaannya saat ini memberikan beberapa benefit yang menurutnya menarik dan bisa membuat karyawan bersemangat kerja. “Dari segi benefit, karyawan diberikan fasilitas kesehatan sampai anak kedua, tunjangan pensiun, koperasi yang memudahkan karyawan ketika akan mengambil fasilitas rumah atau kendaraan. Dari segi jenjang karir, karyawan berprestasi memiliki kesempatan untuk mengambil pendidikan di kantor pusat kami di Korea,” papar Icha


3. Jika kamu kandidat terbaik

Hal menarik bisa terjadi saat kamu mengajukan resign dan perusahaan merasa kamu salah satu aset terbaik di perusahaan. Pengalaman ini dialami Icha. “Saat saya mengajukan resign, hampir semua perusahaan menawarkan hal yang menyerupai dengan tawaran yang ditawarkan oleh perusahaan baru saya. Bahkan, yang terakhir saya ditawari kenaikan gaji dan tunjangan, promosi jabatan, hingga fasilitas pendidikan berupa sekolah S2 yang seluruhnya akan dibiayai perusahaan,” papar Icha.


Bagaimana, apakah kamu sudah siap menghadapi duniamu setelah resign nanti? Jika memang kamu ingin resign untuk mendapatkan hal yang kamu yakini lebih baik dari saat ini, maju saja! Hal menguntungkan memang tidak selalu datang, tapi dia adalah pemanis untuk meraih tujuan akhirmu. Tetap semangat ya! [careernews.id]



Penulis : Rita Pamilia

Editor   : Vinia R. Prima

Grafis   : Tongki Ari W.

Tags : alasan resign, pengunduran diri, resign, dilema resign, persiapan sebelum resign,
Ini Dia Dilema Resign Bagi Karyawan dan Perusahaan! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png