Career Issue, Kamis, 10/11/2016 15:08 WIB

Rifka Annisa Women’s Crisis Center: Stop Kekerasan Terhadap Perempuan!

Mewujudkan masyarakat yang adil gender merupakan tujuan dari Rifka Annisa Women’s Crisis Center.
Rifka Annisa Women’s Crisis Center: Stop Kekerasan Terhadap Perempuan!
Menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan komitmen yang dijaga Rifka Annisa Women’s Crisis Centre. NGO yang didirikan pada 26 Agustus 1993 ini berpandangan bahwa antara perempuan dan laki-laki, harus saling menghargai dan menghormati agar terwujud masyarakat yang adil gender.

Hal tersebut coba diwujudkan Rifka Annisa melalui pengorganisasian perempuan secara khusus dan pemberdayaan perempuan yang rentan menjadi korban kekerasan. Defirentia One, Manajer Hubungan Masyarakat dan Media dari Rifka Annisa, mengatakan kasus kekerasan yang sering menimpa perempuan, terutama pada Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), awalnya sering dianggap tidak penting.

"Padahal KDRT bisa berdampak secara sosial, ekonomi, bahkan bisa termasuk pelanggaran HAM," ujar One. Berangkat dari berbagai kepedulian tersebut, Rifka Annisa saat ini memberikan program serta layanan. Di antaranya pendampingan perempuan korban kekerasan, penelitian dan pelatihan, pengorganisasian masyarakat dan advokasi, serta kampanye penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Namun demikian, organisasi ini tak terbatas hanya untuk perempuan saja. Bagi laki-laki, yang rentan menjadi pelaku kekerasan, juga mendapat perhatian Rifka Annisa. Karenanya, bukan hal yang aneh jika ada pria yang melakukan konseling ke NGO ini. Biasanya pria berkonsultasi terkait bagaimana mereka seharusnya memperlakukan perempuan utamanya jika sedang terjadi permasalahan antara keduanya. Diharapkan antara laki-laki dan perempuan ini bisa saling bekerjasama untuk mewujudkan tatanan sosial yang berkeadilan sosial gender tanpa kekerasan terhadap perempuan.


Rifka Annisa dalam perjalanannya

Pada awalnya, pergerakan Rifka Annisa hanya fokus di pelayanan korban KDRT, itu pun secara personal. Hal tersebut dilakukan agar Rifka Annisa tidak ditentang oleh pemerintah. One mengatakan, tidaklah mudah bagi NGO untuk eksis di era orde baru. Saat itu, jika suatu NGO dianggap menentang pemerintah maka otomatis akan dibungkam pergerakannya. Langkah yang diambil Rifka Annisa terbukti tepat. Terbukti di masa itu, mereka tak lantas dicap sebagai organisasi yang membahayakan pemerintah.

Seiring berjalannya waktu, Rifka Annisa menyadari bahwa pelayanan secara personal saja tidak cukup. "Masalah kekerasan pada perempuan itu sistemik. Ini bukan sekadar masalah pribadi, masalah keluarga, masalah person to person saja. Tapi ini masalah budaya," jelas One.

Hal tersebut didasari oleh kebingungan Rifka Annisa yang pada saat itu menangani hingga 300 kasus setiap tahunnya. Rifka Annisa pun berkembang dari yang hanya sekadar NGO pelayanan masyarakat, menjadi fokus ke arah advokasi dan kampanye masyarakat. "Kami memanfaatkan momentum reformasi, kemudian membangun wacana dan mengkampanyekan isu kekerasan terhadap perempuan agar masyarakat aware bahwa ini masalah bersama," jelas One.

Puncaknya, Rifka Annisa menjadi bagian dari lahirnya UU No. 23 Tahun 2004, tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Rifka Annisa menjadi salah satu pendorong lahirnya advokasi Undang-undang (UU) tersebut karena isu yang mereka bawa pada saat itu diterima oleh masyarakat luas. Selain itu, perannya yang dirasakan nyata oleh masyarakat sebelum UU KDRT dibuat, dianggap sangat mewakili aspirasi banyak pihak.


Merubah paradigma NGO di masyarakat

Rifka Annisa tidak menutup mata bahwa di Indonesia, NGO masih sering dinillai sebagai pihak yang ‘kontra pemerintah’. One beranggapan keunikan Rifka Annisa sebagai sebuah NGO adalah perannya yang justru terbuka dengan seluruh lembaga yang memiliki tujuan yang sama dengan mereka. Dirinya tak menampik posisi Rifka Annisa memang sebagai mitra kritis pemerintah namun bukan berarti berseberangan dengan pemerintah. "Justru kita ada untuk memperkuat peran pemerintah," ujar One.

Pada prinsipnya, pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi hak perempuan dan anak-anak. Namun, bukan semerta-merta itu menjadi tugas pribadi pemerintah. Rifka Annisa sebagai NGO yang peduli isu tersebut, merasa memiliki tanggung jawab untuk aktif dalam menyokong tugas pemerintah terkait perlindungan hak perempuan. Maka tak heran bila Kementerian Pemberdayaan Perempuan sering menggandeng Rifka Annisa sebagai fasilitator dalam beberapa pelatihan di daerah pedalaman.


Menjaga kepercayaan demi jaringan yang lebih luas

Untuk persoalan support dana, Rifka Annisa menggandeng beberapa lembaga baik nasional maupun internasional, yang juga memiliki kepedulian terhadap isu yang mereka usung. Lembaga seperti PBB dan UNICEF, sering menjadi donatur untuk beberapa program yang konteksnya dinilai relevan dengan perhatian mereka.

Tetapi, untuk mendapatkan support dari berbagai lembaga tersebut, ada tahapan yang harus dilewati. Biasanya NGO yang ingin programnya didukung oleh lembaga eksternal, harus bersaing dengan ribuan NGO lain yang memiliki kategori program serupa. Rifka Annisa pun selalu melewati tahapan tersebut. "Tapi dalam proses pemilihan NGO mana yang akan dipilih untuk didukung programnya selalu melihat track record-nya juga. Saya bersyukur dari aspek ini, Rifka Annisa masih bisa diperhitungkan," ujar One.

Kepercayaan dari lembaga-lembaga tersebut menjadi hal yang sangat penting bagi Rifka Annisa dalam membangun jaringan, bahkan hingga level mancanegara. "Karena di era globalisasi seperti saat ini, tidak menutup kemungkinan bagi lembaga internasional bisa berkontribusi di suatu wilayah negara dengan beberapa kesepakatan tertentu," ujar One. Menjaga kepercayaan dan track record dalam bekerja pun menjadi fokus utama Rifka Annisa untuk melebarkan sayap dan menggandeng berbagai lembaga internasional.


Peluang dan kesempatan bagi yang ingin belajar

Meski kiprahnya mencapai prestasi yang luar biasa, Rifka Annisa masih tetap membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin bergabung, termasuk mahasiswa. Beberapa bahkan ada yang memilih NGO menjadi tempat magang mereka. Salah satunya adalah Claudia Rahmania Yusron, atau biasa disapa Rara. Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya ini mengungkapkan Rifka Annisa merupakan pilihan yang tepat bagi dirinya untuk menjalani magang.

"Rifka Annisa mempermudah bagi setiap individu atau instansi yang mau magang di sana. Tidak sulit kok, cukup ikuti aja prosedurnya. Mereka sangat welcome," jelas Rara. Ia menceritakan, dirinya belajar banyak hal dari Rifka Annisa. “Di sini bikin saya jadi proaktif, inisiatif, dan cepat tanggap,” ungkapnya.

Awalnya, seluruh volunteer akan mendapat pelatihan bersama tentang bagaimana menjalankan program-program yang ada di Rifka Annisa. Pelatihan-pelatihan tersebut ada yang diinisiasi oleh Rifka Annisa sendiri dan ada juga juga yang dibuat dengan join lembaga lain. Tak cuma level domestik saja, bahkan hingga di tingkat internasional.

"Training di luar negeri selalu ada, penyelenggaranya dari mitra-mitra kita. Kesempatannya terbuka bagi staf hingga volunteer di sini," ujar One. Nantinya, mereka yang berkesempatan ke luar negeri akan mendapatkan ilmu mengenai cara-cara pencegahan kekerasan dan berkewajiban untuk membagikan ilmunya ke teman-teman di Rifka Annisa.

Biasanya, volunteer yang mendapat rekomendasi bisa diangkat menjadi staf tetap Rifka Annisa, dengan catatan NGO ini memang tengah membutuhkan staf baru. Namun, hal tersebut dilakukan hanya saat divisi tertentu benar-benar membutuhkan tenaga. “Kalau selama jadi volunteer bisa menunjukkan performa baik, saat ada lowongan staf nanti, bisa otomatis direkomendasikan dan tidak perlu mengikuti seleksi lagi, contohnya seperti saya,” pungkas One.

Nah, tak cuma korporasi saja yang butuh diseriusi, NGO kita pun punya banyak catatan baik berkat profesionalisme mereka dalam bekerja. Sukses berkiprah bersama NGO, bukan cerita belaka. Rifka Annisa sudah membuktikannya!



Penulis      : Elvan Susilo

Editor        : Rita Pamilia, Yuana Anandatama, dan Ratih Wilda

Grafis        : Muhammad Rizal

Tags : NGO, karir NGO, kerja di NGO, jobseeker, smart jobseeker,
Jangan Anggap Remeh, Magang Latih Kita Untuk Siap Kerja Career Issue,
Kamis, 28/09/2017 16:43 WIB Jangan Anggap Remeh, Magang Latih Kita Untuk Siap Kerja
Performa Teamwork-mu Bisa Terindikasi Dengan Tes Ini Lho! Career Issue,
Senin, 18/09/2017 00:00 WIB Performa Teamwork-mu Bisa Terindikasi Dengan Tes Ini Lho!
Rifka Annisa Women’s Crisis Center: Stop Kekerasan Terhadap Perempuan! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png