Web
Analytics
Career Issue, Minggu, 10/06/2018 23:01 WIB

Berapa Sih, Nominal THR yang Seharusnya Kamu Terima?

Hari raya lebaran sebentar lagi. Selain berkumpul dengan keluarga, apalagi yang kamu nanti-nantikan?
Berapa Sih, Nominal THR yang Seharusnya Kamu Terima?
Berapa Sih, Nominal THR yang Seharusnya Kamu Terima?
Hal yang paling dinanti menjelang libur panjang lebaran adalah Tunjangan Hari Raya atau THR. Di negara lain, mungkin THR tidak berlaku. Namun di Indonesia, THR menjadi pengeluaran rutin perusahaan yang diberikan pada karyawannya menjelang hari raya keagamaan.

Karena rutin diberikan tiap tahunnya, terdapat peraturan undang-undang khusus yang mengatur THR. Peraturan ini sudah diatur melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.6/2016. Jadi, buat kamu yang mau menerima THR, sudah tahu nominal yang akan kamu dapatkan sesuai undang-undang belum?

Sejarah THR di Indonesia

Sebelum kamu tahu berapa besaran THR yang akan kamu terima, tahukah kamu awal mula THR bisa menjadi tunjangan rutin di Indonesia? Dilansir di halaman riauonline.co.id, THR di Indonesia muncul pertama kali pada masa pemerintahan Soekarno, tepatnya di Era Kabinet Soekiman Wirjosandjojo. Salah satu program kabinet tersebut adalah menyejahterakan para pamong praja atau yang sekarang dikenal sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Besarnya THR yang diberikan saat itu berkisar antara Rp 125 sampai Rp 200 atau senilai Rp 1.100.000 – Rp 1.750.000 di masa sekarang. Awalnya THR hanya diberikan pada PNS. Namun kemudian, muncul protes dari banyak pihak yang merasa tidak adil, salah satunya dari kaum buruh. 

Protes berlangsung pada 1952. Namun baru pada 1994, secara resmi pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-undangan tentang THR, yakni melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I No. 04/1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja di Perusahaan. 

Pada 2016 lalu, UU tersebut direvisi dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.6/2016. Melalui peraturan ini, salah satu aturan THR adalah kewajiban bagi setiap perusahaan memberikan THR satu tahun sekali saat hari raya agama masing-masing karyawan. THR diberikan selambatnya H-7 sebelum hari raya agama datang.

Berapa Seharusnya Yang Kamu Terima?

Berdasarkan peraturan pemerintah di atas, THR wajib diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya yang telah satu bulan atau lebih bekerja di perusahaannya. Selain itu, THR juga diberikan pada pekerja yang memiliki hubungan kerja dengan pengusaha, baik pada waktu tertentu maupun yang tidak memiliki ikatan waktu kerja tertentu.

Besarnya THR, tergantung pada masa kerjamu. Hayoo! sudah berapa lama kamu berkarya di kantormu sekarang?

1. Telah bekerja 1 tahun lebih

Bagi pekerja yang telah bekerja selama satu tahun atau lebih selama berturut-turut, berhak mendapatkan THR sebesar satu kali gaji satu bulan.

2. Kurang dari 1 tahun

Jika masa kerjamu belum ada satu tahun, maka perhitungan THR-mu adalah: bulan masa kerja / 12 bulan x upah 1 bulan. Jadi misal kamu telah bekerja selama enam bulan dengan upah bulanan sebesar Rp 1.000.000, maka THR yang akan kamu terima adalah 6 bulan / 12 bulan x Rp. 1.000.000 = Rp 500.000.

3. Pekerja freelance

Pekerja freelance juga berhak mendapat THR lho. Perhitungan besarnya THR sama dengan dua kondisi di atas. Sedangkan besarnya upah bulanan dihitung dari rata-rata pendapatan selama satu tahun sebelum hari raya (bagi yang sudah bekerja minimal selama satu tahun) atau beberapa bulan sebelum hari raya (bagi yang bekerja di bawah satu tahun)

Meski besarnya THR telah diatur berdasarkan undang-undang, namun menurut Rinanti Nur Hapsari atau Riri, HRD Manager ECC UGM, besarnya THR bisa berubah di sebuah perusahaan. “Hal tersebut bergantung pada kemampuan keuangan dan peraturan yang berlaku di sebuah perusahaan,” terangnya. 

Ketika besarnya THR tidak sesuai harapan

Satu hal penting yang perlu diketahui tentang THR adalah bagaimana aturan perusahaanmu berlaku terkait hal ini. Sebelum kamu menerima THR, kamu bisa bertanya terlebih dahulu pada HRD atau departemen terkait tentang bagaimana perusahaanmu memberlakukan besaran THR. 

Selain HRD, kamu juga bisa bertanya terlebih dahulu pada atasanmu langsung. “Namun perhatikan juga bagaimana karakter atasan, apakah beliau termasuk yang cukup terbuka atau tidak, lebih pada bagaimana atasan bisa mengomunikasikan aspirasi karyawan kepada pihak yang berwenang,” terang Riri.

Dari sisi perusahaan, perhitungan THR sebenarnya bisa dikomunisikan secara terbuka kepada karyawan. Hal ini akan lebih nyaman bagi kedua belah pihak. “Secara hukum, perusahaan maupun karyawan bisa mengajukan haknya terkait THR kepada lembaga terkait. Perusahaan bisa mengajukan keringanan jika ternyata memang belum mampu membayar THR sesuai dengan peraturan yang berlaku,” pungkas Riri.

So, sudah menerima THR, Guys? Tetap bijak membelanjakan THR-mu ya!



Penulis : Rita Pamilia 

Editor  : Puspa Aqirul Mala 

Grafis : Ryma Aulia 



Berapa Sih, Nominal THR yang Seharusnya Kamu Terima? | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png